21 Komentar

Sampah Yang Dipisah dan Dipilah

Semoga tak sekedar gaya

Pilih kotak sampah yang bener, sesuai sampahnya

Tempat sampah berbahan plat stainless ini cukup mencolok jika dibanding tempat sampah lain yang biasanya berbahan plastik dan berwarna oranye. Apalagi saat siang yang terik, tempat sampah ini memantulkan sinar dari matahari, bikin silau, para pelintas bisa tertarik untuk melirik, istilahnya ‘nyolong fokus’. Di Solo, saya menjumpainya di tiga tempat, yakni di depan Balai Kota, Bank Indonesia, dan Kantor Pos besar, di tempat lain sepertinya juga ada, tapi saya lupa di mana.

Setiap jenis sampah punya tempatnya masing-masing, tulisan stiker di kotak sampah ini menuntun kita di kotak mana sampah musti dibuang, pilih antara logam, non logam, dan organik. Sungguh ajakan yang baik, supaya masyarakat paham memilah sampah.

Tapi, apakah petugas pengangkut sampah akan tetap memisahkan tiga jenis sampah itu? Saya tak tahu. Bisa jadi, saat tiba di Putri Cempo – Bantar Gebang-nya Solo – tiga jenis sampah itu kembali bercampur dan tercampur.

Manajemen sampah* tidak hanya soal pemilahan jenis sampah, tapi juga penanganan dari masing-masing jenisnya. Sampah organik diubah jadi kompos, sampah plastik bisa didaur ulang, sampah beling untuk dimakan kuda lumping😀 , sampah logam seperti besi bisa dijual kiloan dan kemudian dilebur atau dicor di Ceper, Klaten. Atau seumpamanya ada orang yang membuang MacBook, iPod, dan Blackberry ke tempat sampah, itu sih saya juga bersedia memulungnya:mrgreen:

Kalau tempat sampah yang bagus itu sudah memilah sampah, tapi kemudian dicampur aduk jadi satu lagi ya percuma. Dipisah dan dipilah, untuk dicampur lagi kemudian? Semoga saja dugaan saya itu salah dan keliru.

* Bisakah Anda membedakan antara ‘manajemen sampah’ dengan ‘manajemen kelas sampah’? Hahaha …

21 comments on “Sampah Yang Dipisah dan Dipilah

  1. aku pernah baca sebuah artikel di sebuah majalah interior, tentang manajemen sampah di satu kota di Jepang. kalo di Indnesia, orang bisa patuh pada aturan memilah sambah basah dan sampah kering aja sudah luar biasa…bayangkan… kalo di Jepang itu, pembagiannya jauh lebih rumit. selain sampah basah dan sampah kering, sampah dibagi lagi menurut bahannya.setelah itu dibagi lagi menurut harinya.
    jadi gini nih, di tempat pembuangan sampahnya ada papan keterangan hari senin misalnya khusus untuk sampah rumah tangga. hari selasa khusus untuk sampah kertas. hari rabu khusus untuk sampah plastik dan botol. gitu seterusnya…
    jadi kita gak boleh seenaknya buang sampah.

    gila ya?
    kalo di sini judulnya dilarang buang sampah sembarangan. itupun 90% masyarakat kita masih melanggar.
    lha kalo disana? dilarang buang sampah yang tidak sesuai dengan ketentuan hari itu. njlimet pol!!!

    —–
    Iya mbak, saya juga tahu tentang itu dari tv. Kalau mau, sebenarnya bisa juga diaplikasikan di Indonesia, tapi musti ada sosialisasi dulu kepada masyarakat.

  2. yup, lagi online nih…. blom ngantuk. kalo aku sih, gak ada istilah malam mingguan Mas…
    ya kalo kerja kantoran yang minggu libur. lha wong minggu aku tetep kerja, nonstop. kalo pingin libur, ya bisa milih hari sesukanya. terserah.jadi…mau malam mingguan kapan aja bisa! itulah enaknya kerja sendiri, jadi gak terikat. hehehehe… iya kan?

  3. besok deh, aku mo cari lagi artikel sampah di jepang tuh. nanti tak kasih tau yaa kalo dah ketemu.

  4. saya kangen mas doni

    mas mampiro

    wehehehe saya ndak mudeng penutupe

  5. manajemen sampah, biyuh biyuh

  6. secara bak truk pengangkut sampahnya ndak ada pemisah-pemisahnya, so pasti akan kembali bercampur toh?

  7. soal pertanyaan sampeyan, saya nggak percaya diri jawabnya😀

  8. “Tapi, apakah petugas pengangkut sampah akan tetap memisahkan tiga jenis sampah itu? Saya tak tahu. Bisa jadi, saat tiba di Putri Cempo – Bantar Gebang-nya Solo – tiga jenis sampah itu kembali bercampur dan tercampur.”

    ya bener banget nih mas. pertanyaanku juga sama. apakah nantinya setelah ada di TPA ia akan tetap terpisah begitu ataukah masih sama saja: dicampur. kalo yang terjadi memang dicampur seperti duludulu..sama aja boong ta?
    semoga ada perubahan kearah yang lebih baik, terutama menejerialnya hehe

  9. artikel ini ada di majalah RUMAHKU edisi 24 mei 2008

    Saya saat ini tinggal di Yokohama Jepang.sedang tugas magang di perusahaan Chiyoda. Terus terang, membuat artikel ini, setelah dipaksa teman saya, yang juga redaktur pelaksana majalah ini, Rudy Dew, untuk menulis sesuatu yang menarik di Jepang tentang lingkungannya. Disamping itu saya juga sadar bahwa 2 bulan lagi saya kembali ke tanah air setelah 2,5 tahun tugas di Jepang dan tentu akan saying sekali jika saya melewatkan hal-hal bagus yang bias kita tiru dari Negara super mahal ini. Saya coba share pengalaman saya kepada anda yang mungkin belum pernah ke Jepang. Saya akan bercerita tentang sampah.

    Ya, SAMPAH! Kenapa saya pilih ini, sebab kesan kitika pertama kali menginjak kaki di bumi Nipon ini adalah kebersihannya! (ya walaupun saya menemukan sudut-sudut Jepang yang kucel dan agak kotor, tapi itupun lokasinya “nyelempit”). Sampah di Jepang diatur degan jadwal pembuangan dan pemilahannya. Sebagai contoh di distrik Tsurumi Area Yokohama tempat saya tinggal, terbagi menjadi 2 area:

    1.Area Tsurumi Chuo-3 dengan jadwal : Senin; sampah rumah tangga, Selasa; plastic, Rabu; sampah rumah tangga (hanya di musim panas), Kamis; kaleng/botol/logam, Jumat; sampah rumah tangga, Sabtu; kertas/baju bekas (hanya di tanggal 2 dan 4)

    2.Area Tsurumi Chuo-4 (tempat saya tinggal) dengan jadwal : Senin; kaleng/botol/logam, Selasa; sampah rumah tangga, Rabu; kertas/baju bekas (hanya di tanggal 2 dan 4), Kamis; sampah rumah tangga (hanya di musim panas), Jumat; plastic, Sabtu; sampah rumah tangga.

    Nah karenanya, saya jadi ‘terpaksa’ pisah-pisahkan sampah, mengikuti jadwal itu. Biar tidak mengganggu orang lain. Kalau di area domestic “Cuma” diatur secara global, kantor Chiyoda tempat saya ditugaskan, lebih “edan” lagi cara pilahnya. Di pantry, masih dipisah lagi… antara sampah bekas bungkus kopi bubuk dengan bekas the celup (kantongnya). Di sana dipilah sampai s9 klasifikasi, gila sudah sampai 9?

    Saya jadi berpikir, di Negara kita saja, Cuma dibagi dua, antara sampah kering dan sampah basah saja kadang masih tercampr dan tidak konsisten. Lha ini malah 9!

    Nah kadang kadang saya yang lebih heran lagi,para perokoknya, ada loh yang bawa asbak sendiri, meskipun ada juga yang nakal. Kalau habiss merokok, membuang puntungnya di selokan (mirip kita).

    Kok bisa ya…kok bisa sampai segitunya ya… dan masyarakatnya bisa menuruti aturannya itu lho! (yah walaupun ada yang nakal, tapi itu sedikit sekali). Iseng-iseng saya cari di internet, sampai seberapa “edan” masyarakat matahari terbit ini dalam memilah sampah dan hasilnya sangat mencengangkan!!
    Coba aja klik di http://www.nytimes.com/2005/05/12/International/asia/12garbage.html. pantas aja Jepang begitu bersih. Mereka begitu concern-nya untuk masalah sampah.

    Tiba-tiba saya ingat ajaran guru kita bahwa “kebersihan sebagian dari iman”. Saya jadi berpikir, apakah masyarakat Jepang bisa dikategorikan punya sebagian iman itu ya? Padahal (mohon maaf) sebagian besar masyarakat Jepang tidak percaya Tuhan.

    Penulis : dadiq78@yahoo.com

  10. setauku negara2 eropa dan singapore..udah sejak lama,limbah rumah tangga hrs dipilah2.mana sampah yg bio..mana yg plastik..wajib di pisah.
    alhasil..pengolahan limbah di negar2itupun amat sangat terolah baik.
    kapan yah negara indonesia secara keseluruhan bs mengikuti jejak

  11. dulu pernah ada ribut2 Indonesia impor sampah, nah lho!! kelola sampah sendiri aja masih ribet malah mengimpor…

  12. Wah Surakarta dah banyak kemajuan ya Don🙂 baguslah biar makin berseri kotane.

    Lha diswiss kita2 para penduduk dah dari rumah masing2 memilah2 sampah dan bawa ketempat pembuangan dari tiap masing2 jenis. Kaleng2 bekas musti dipres dulu trus dikumpulkan buat dibuang, botol2 yang warna putih, hijau dan coklat harus dibuang di tempat yang berbeda masing2 box yang udah tersedia dan tertulis khusus botol warna apa. Belum lagi tong sampah khusus minyak jlantah dan tong sampah khusus tulang belulang … halah mumet njabarkannya😎

    Aku ngikuti aturane wae lah, ben ora kena denda. Lha wong plastik khusus tempat sampah buat didapur2 aja harganya setinggi gunung himalaya je.. Tapi kuwi apik ya Don, dengan memilah2 sampah seperti itu demi kesehatan juga🙂

    Met beraktivitas Dony ..

  13. muga-muga dudu plat-e sing dipulungi… :))

  14. manteb tuh mas,..
    dq mbaca di majalah temp@ bbrp hr yl ada juga tuh kayak ginian di Bali, bahkan yg beli sampah dari masyarakat justru Pemda!

  15. Iyo mas betul, nampaknya bakal susah diterapkan di Indonesia. Bukannya pesimis tapi realistis. Pembagian sampah seperti ini diadakan di kampus temen saya yg katanya isinya orang2 “pinter” (tempat sampahnya berbentuk seperti kotak pemilu), tapi tetap aja, awal-awal aja pada disiplin, setelah beberapa bulan setelahnya yo wes diguwak sak penake. Gatau karena orang Indonesia memang susah diajak disiplin ato memang system pembagian yg ga menyeluruh yg membuat kita malas disiplin. Teman2 saya itu mungkin bepikir “ngapain buang dibagi, wong akhirnya juga dicampur di tempat sampah besar, lagian pemulung udah pinter misahin kok…”

  16. sampah masyarakat dimana???

  17. wah kompleks juga ya masalah sampah…..

    mkin penasaran karena ada tugas seni design product….
    rencana ku mw bikin tempat sampah…
    yang indah , efisien, bersih, memudahkan pengolahan, dan ntar smua sampahnya gag bkal kebuang….
    istilahnya meski sampah tapi tetap usefull….

  18. yang penting kesadaran masyarakat untuk menggunakan fasilitas itu…. sekarang kita sering melihat bagaimana masyarakat tidak mampu menggunakan fasilitas yang telah disediakan, cenderung membuang sampah sembarangan sudah menjadi habit. Seharusnya penyediaan tempat sampah seperti ini dibarengi dengan pemupukan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, kalau perlu dengan punishment….

  19. kalau tinggal langsung di negara yang udah rapi kaya di jepang emang enak, tinggal ngikutin aja. Soalnya kalau kita patuh, ngeliat yang lain patuh juga….perasaan enak…….

    tapi….mental yang udah bagus waktu tinggal di negeri orang, balik ke Indonesia, liat yang lain masih sembarangan buang sampah…ya….jadinya…mentalnya jadi susut deh….

    tapi minimal kalau untuk di rumah, misahin sampah untuk pemulung sama bukan pemulung….

    gitu aja sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: