55 Komentar

Mencoba Sebuah Tantangan Baru

Siang pada awal bulan puasa itu ada telpon masuk dari salah satu kenalan, saya masih terlelap, maklum baru tidur setelah sahur. Dia bilang, ada koran baru di Solo yang sedang butuh reporter. Kalau mau, saya disuruh datang ke kantor koran itu. Mata saya masih kriyip-kriyip, belum sepenuhnya bangun, tanpa berpikir lama saya jawab, “Yo, aku gelem.”

Hari itu juga, saya langsung bertemu calon-calon atasan. Saya tunjukkan kepada meraka beberapa posting di blog ini dan blog Dolan ke Solo – yang sebenarnya tak cocok dijadikan portofolio, karena bukan halaman jurnalistik, lagipula isinya juga tak berbobot. Menurut mereka, saya kurang pas untuk menjadi reporter yang melaporkan hal-hal tertentu seputar lifestyle, gaya penulisan saya dianggap masih terlalu berat, kurang ringan, dan lebih cocok untuk rubrik-rubrik lain. Ternyata koran ini bukan koran harian biasa, tapi koran iklan yang terbit mingguan. Artikel-artikel di dalamnya hanya berbentuk feature.

Mungkin mereka sudah desperate mencari reporter lain, waktunya sudah terlalu mepet, akhirnya mereka jadi juga hire saya. Tanpa ada kontrak kerja apapun yang musti saya tanda tangani, maupun pembahasan soal gaji. Esok harinya langsung dapat assignment, disuruh meliput ke beberapa tempat, sekaligus melakukan interview. Kalo dihitung, selama tiga hari pertama kerja saya sudah melakukan liputan di belasan lokasi, termasuk interview dengan banyak narasumber. Deadline sudah dekat, tiap malam musti lembur sampai sahur untuk nulis artikel, esoknya liputan lagi. Capek badan, capek pikiran, sudah pasti.

Minggu itu hanya saya satu-satunya reporter yang ada. Naik brompit keliling kota bersama seorang tukang jepret dadakan. Saya ‘bersenjatakan’ hand-recorder, pulpen, plus notes (baca: no-tes) kecil cap KERA yang disampulnya ada gambar kera sedang menulis. Berteman terik matahari, peluh, hitam asap polusi, dan debu jalanan. Untungnya puasa saya tidak bolong, tapi pasti amalan puasa telah banyak berkurang. Maklum, di jalan saya sering mengumpat dalam hati. Benar-benar satu minggu yang berat di awal bulan puasa. Syukurlah, minggu depannya ada bala bantuan dari dua reporter lain dan seorang jurnalis foto senior. Kerja saya agak enteng.

Si bos coba menilai hasil kerja saya di minggu pertama, dia tidak puas. Artikel-artikel dari saya dianggap masih kurang ciamik. Saya berkilah, “Harusnya ini ya dikoreksi dan diedit dulu sama redaktur, dia ahlinya.” Rupanya posisi redaktur masih kosong, redaktur lama sudah keluar. Ternyata saya memang tidak bisa menulis ala koran iklan ini. Sudah saya paksakan, tapi jadinya malah lucu dan wagu. Saya memang pandir.

Meskipun pandir, sedikit-sedikit saya sudah tahu tentang teknik penulisan jurnalistik, bangku kuliah lah yang mengajarkannya – meski belum jadi sarjana juga😀 . Praktek mencari dan membuat berita sudah beberapa kali. Dari model cetak, radio, sampai tivi. Pengalaman kerja, saya tak punya. Terus terang baru kali ini saya bekerja, di sebuah media massa pula. Mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis, tentu tanggung jawabnya berbeda dengan menulis di blog. Seorang kawan lama berpendapat, kerja di media massa itu banyak dosanya, ada banyak kepentingan-kepentingan yang bermain disana. “Mendingan aku sendiri deh yang bodoh, daripada aku disuruh bikin banyak orang jadi bodoh,” begitu yang dia tuliskan di ruang chat, sangat idealis memang. Padahal bisa juga berlaku sebaliknya: media massa itu mencerdaskan. “Every tool is a weapon – if you hold it right,” Ani DiFranco dalam salah satu lirik lagu yang ditulisnya.

Banyak pengalaman dan pelajaran baru yang saya dapat dari pekerjaan ini. Dimana saya harus melakukan pendekatan-pendekatan dengan narasumber supaya mereka mau ngomong banyak, sekaligus mengenali beragam karakteristiknya agar saya bisa menyesuikan diri. Paling susah kalau dapat narasumber yang sejak awal sudah pasang tampang jutek, cemberut. Beberapa kali saya ditolak untuk melakukan interview dan liputan oleh narasumber. Mungkin di benak mereka kadung ada stigma negatif terhadap profesi pewarta – reporter, wartawan, jurnalis. Saya berusaha sabar saja – aslinya bukan tipe penyabar, hehe. Semuanya dilakukan demi mendapatkan informasi sebanyak bisa tergali. Disitu saya juga belajar menulis cepat dibawah tekanan, merasakan rush dan excitement saat kejar deadline. Benar-benar sebuah tantangan baru.

Baru sebulan bekerja, dengan alasan ini dan itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri, toh tidak terikat kontrak kerja. Anehnya, si bos yang kurang sreg dengan tulisan saya itu justru berusaha menahan saya agar tetap bekerja di situ. Gaji yang saya terima cukup lumayan, tapi saya tetap memilih untuk keluar. “Kowe iki nyat kethoke ora cocok dadi wong gajian, patuté dadi bos,” ujar si semprul sontoloyo, seorang mantan reporter radio – sekarang pindah ke cetak juga rupanya. Aha, kalau memang yang dia bilang itu benar, sepertinya saya bisa mencoba tantangan baru lagi, bikin koran sendiri mungkin, haha. Pemilik kumpeni, pemodal, pimpinan redaksi, dan reporter, nanti semuanya dipegang oleh satu orang: saya sendiri. Itu pun masih merangkap lagi sebagai pembaca tunggal, hwarakadah!

PS: Kalau dipikir-pikir, saya memang tak pandai menulis, tak layak jadi reporter. Kera di sampul notes itu pasti lebih pandai menulis, seharusnya dia yang jadi reporter, bukan saya😀 . Ajari aku menulis, wahai kera…

© Ilustrasi oleh Dony Alfan

55 comments on “Mencoba Sebuah Tantangan Baru

  1. ah kamu emang lebih cocok jadi blogger, mas. kan enak bisa nulis bebas. gak perlu diedit. he2. jadi blogger-full time aja kayak budi putra. wakakak. btw, si andik kira2 betah gak kerja jadi reporter? he2.

    Full time blogger? Patut dicoba tuh. Kalau dia ya pasti betah lah, kan dia emang pengen kerja di Solo.
    Ditunggu wedangannya lho, Ris!

  2. Koran yang Anda maksud itu adalah koran anyar yang websitenya masih ‘is underconstruction’…?

    Jawaban saya cuman: “He he he”

  3. hehehe, seneng saya bacanya. ketoke bener juga tuh..ndak ada media yang independen dan bebas dari kepentingankepentingan ya, kecuali kayak mas haris bilang..blog. jadi jadilah fulltime blogwriter (yang kiri kanannya ada kolom iklannya tuh ketoke menguntungkan)

    salam

    Sip, opsi menjadi full-time blogger itu memang menarik.

  4. sebuah pengalaman berharga bro … , aku mlh jarang loncat2 gawean gitu. Dari awal ya msh disini aja🙂

    Wakakak, saya memang bak kutu loncat, mas. Thanks udah mampir

  5. pokoke ojo putus asa. ojo ndeloki sora ae.

    Makasih atas wejangannya pak mantan kyai!

  6. wow, saya juga ndak pandai nulis, ndak pandai ngomong juga.. enaknya kerja apa ya??

    Kerja apa saja, yang penting halal dan berkah

  7. Kalau saya, kayaknya juga pasti udah di tolak.
    Setelah diterima kok nggak diteruskan? Ternyata mencari pekerjaan, ibaratnya seperti mencari jodoh….


    Ternyata mencari pekerjaan, ibaratnya seperti mencari jodoh….

    Saya suka quote itu. Makasih ibu…

  8. “Kalau dipikir-pikir, saya memang tak pandai menulis, tak layak jadi reporter.”

    Sejatinya anda dengan sendirinya sudah menampik tudingan di atas, melalui tulisan di postingan kali ini. bukankah, postingan blog juga ketrampilan menulis?? tetap semangat bro…

    Saya ngeblog juga dalam rangka belajar nulis kok, mas. Kapan-kapan sampeyan ajarin saya yak. Pasti banyak ilmu yang bisa saya unduh dari Anda.

  9. Good posting. ternyata nulis yang bener emang susah. kapan kapan ajarin tekniknya.

    Saya masih belajar menulis, belajar bareng yak.

  10. Ah, baru mau kasih selamat pun, rupanya akhir2nya berhenti.😀
    Soal lo gak bakat jadi reporter, kayaknya gak deh, gw asik2 aja mampir ke sini. Soal pernyataan “menulis cepat dibawah tekanan, merasakan rush dan excitement saat kejar deadline”, bukankah seorang blogger terkadang merasakannya juga?

    Blogger yang kejar deadline mungkin hanya full-time blogger dan seleb blogger, haha. Makasih udah mampir, Yuki!

  11. Di Jogja ada mas yang lagi nyari pemburu berita. Mungkin freelance ya karena slogannya “catat yang Anda tahu, lakukan sambil lalu, tersedia uang saku” di Tabloid Kabar Kampus. Lamaran cukup via pos..

    Menarik tuh. Tapi cuman di kampus ya?

  12. Sorry komennya gak ada hubungannya dgn tulisan… cuman tertarik ma avatarnya aja… hehehe

  13. Mas Dony, kalau bisa tetap berpegang teguh pada prinsip mas Dony saja…jangan gara-gara untuk memenuhi selera pasar trus langsung ganti haluan bahasanya langsung ganti dengan bahasa gaul. Tiap orang kan memiliki TASTE sendiri-sendiri….

    Artikelmu kayaknya memang rada berat, terutama kalau yang baca ABG-ABG…Baiknya sih kamu jadi wartawannya majalah TIME…atau National Geographic. Atau minimal Kompas lah… ^^

    TIME, National Geographic ??? Edan po? Di koran kuning aja belom tentu mampu je, haha

  14. Salah satu moral cerita postingan ini adalah bahwa bekerja menjadi wartawan-lapangan ternyata tidak gampang. [ Padahal saya sudah lakukan pekerjaan itu sekitar 10 tahun (ditambah empat tahun lebih menjadi wartawan-kantoran alias redaktur)].

    * Nambah komentar

    Iya, mas. Jadi pewarta itu memang berat. Saya yang kerja di koran mingguan aja cukup melelahkan, apalagi sampeyan yang kerja di koran harian. Tapi jadi pewarta itu banyak juga enaknya kan?
    Suatu saat nanti, saya harus belajar sama sampeyan, mas.

  15. mas tetep semangat aja. nulis dan nulis, bener tu belajar ama kera aja yg ada di sampul hahahaha. ak wis nebak mau. titik tekan pada notes ada di kera, mesti jadi penutup posting ini, dan saya benar. hahahahaha

    Jangan2 sampeyan bacanya dari akhir posting, wakakak! Sik ya, iki wes dienteni ‘si kera’, ameh kursus kilat menulis, haha

  16. hehehehehe nyang banner di pojok kanan atas emang gimana gitu
    lah soalnya emang artikelnya kalo untuk ukuran ABG seperti saya ya agak berat sedikit.
    Tapi kan ya itu tadi itu lah mas dony, ndak perlu lah demi dan demi demi apalah itu terus mengubah gaya. Kalo saya nyang asal njeplak gini ya ndak terlalu bisa nulis yg serius
    lah wong niyat bikin kisah inspiratif malah dadi guyon OOT ga karu karuan.
    jatahe wong dewe dewe mas
    mugi mugi dadi reporter metro tv ae wes sing ndak enek guyon guyone blas hehehehe

    lucu ikz notes e
    jaman opo iku mas?

    Kok repot2 komen 2x, bong. Wah wah, padahal tag-line blog ini kan ‘sebuah blog ringan sederhana’. Kalo dinilai masih terlalu berat ya maap. Masih banyak lho blog yang lebih berat dan serius, blog ini mah gak ada apa-apanya. Yah rupanya blog yang ringan dan lucu itu lebih laku. Pengen juga melucu, tapi malah garing je, haha.
    Jadi reporter Metro Tv mah masih nanggung, bong. Gimana kalo CNN sekalian? wakakaka!
    Itu emang notes jadul, tapi jaman sekarang masih ada yang jual ternyata.

  17. mampir maneh,wekekeke,tak pikir wes enek reply

    Wes tak balesi kae, bong.

  18. sabar don, mengko lak ono hasile

    Nek bukak wedangan neng Jakarta yo kudu sabar ya, kang? Hehe

  19. Bener kata orang, semua bisa dibisniskan, dan ketika kepentingan bisnis yang menonjol, segala teori, petatah-petitih jadi omong kosong.

    Salam kenal dari mantan tetangga di MP yg mencoba tantangan baru di WP😛
    (lebih susah ternyata)

    Arie yang mana nih? Maap lupa

  20. Wah Dooonyy .. Rejekimu lancar kalo tiap hari kowe tangi subuh gini. Kok rajin tenan kowe kiy. Opo kowe lagi begadang?🙂

    Blocknoot cap kera aku suka banget Don, dulu eyangku sering kasih aku buat koleksi. Aku hoby koleksi blocknoot Don, sampe saiki masih tuh … *sori bosone amburadul.

    Kowe kiy jago nulis Don, tergantung niat wae .. mulane semangat terus jangan putus kan tugas yang belum terselesaikan, ora elok lho …*gaya nasehati he he!

    Wah, sampeyan salah tompo, mbak. Itu bukannya tangi subuh, tapi memang durung turu! Bangunnya ya siang hari, saat mentari mulai meninggi. Rejekine wes digondol macan, wakakak!
    Aku kok jago nulis, masih belajar dan belajar nih. Sip, makasih nasehatnya…
    Koleksi blocnoot? Baru kali ini saya tau ada orang yang hobinya koleksi blocnoot. Menarik kuwi, mbak. Gelem tak wenehi blocnoot bekas pakaiku gak? Akeh coretan2 hasil interview lho.

  21. however, kowe huebat lah Don, sudah dapet kesempatan memiliki pengalaman sedemikian rupa. Shrsnya Don, ketika si Bos kurang terkesan dengan tulisanmu, kau tunjukkan blogku Don, mesti dia mikir “oohh ternyata ada yg lbh parah” hahaha, menertawakan diri sendiri (aneh bener…)

    Aku bukan orang hebat, yang hebat itu Superman dan Batman, haha. Oke, kalo si bos butuh reporter lagi, aku merekomendasikan kamu aja yak🙂

  22. we e e e ugak repot okz mas ncen demen ngubrul huihuih..Soalnya di mn lgi bisa komyunikasi am pemilik blog kl ndak di sini *YM jg ding kikikiki* Semuga diperkenankan komeng bkali2 *macak melas* Ya ndak juga, muin org2 lgi jenuh dg keseriusan dunya, msh bnyk kok nyang lbh siriyus dr blog ini sampe saya mo komeng aja musti noto boso wexexexe. wedi kliru. kalok saya cita cita jadi reporter planet animal ^_^v

    Monggo komen berkali-kali di sini, ben aku kethok koyo seleb blog😀. Apik iku dadi reporter planet animal, nanti narasumbernya para kewan, wakakak!

  23. aku maca dari awal yo… seplak kene…..!! wohhh

  24. Kalau dilihat tulisan di blog ini, kok ya ndak ada masalah tuh. Apa standar si bos itu ketinggian ya.. atau malah ndak jelas standarnya hehe🙂

  25. Huahahaha… ndak apa2 terlalu banyak nick yang dipake sampe aku aja lupa :p

    Tetep blogging Don, aku jadi pembaca setiamu wis😀

  26. owalah mas don. nekaku pribadi jane, udah asyik tugh baca tulisan-tulisan sampeyan. mengalir kayak air… he3. cuman soal taste di jurnalistik… aku ndak tahu menahu. maklum gak penah dapat pelajaran kayak begituan.

    gmn ki kabare mas… bloggos sedut senyut terus ki😀

  27. keren euyy… belum lulus ajah dah kayak begini palagi dah di jakarta trus banyak yg nawarin kerja dengan bayaran tinggi.. wuiihhh.. ndak bisa bayangin..

  28. Wedew… lha wong podo2 nulis wae kok milih dadi blogger… piye to mas Doni iki???
    (oh.. iya ya… blog aja juga lama ga apdet2… hehehe)
    Salam blogger Solo!…

  29. ..sayang ga diterusin..
    kan baru sebentar.. blun kerasa susahnya… hehe
    coba bertahan sebentar lagi… pasti lebih banyak makna yg didapet..

  30. Salam hangat, ketemu di dunia bloger, mari berkarya biar tanpa bertemu muka, yang penting show must go on untuk kerja otak kita

  31. wah gak bisa komentar banyak wong aku sendiri yo ndak paham soal jurnalistik lho…

  32. Met wiken Dony🙂

    Emoh aku nek blocnoot bekas😦 wong nganti saiki blocnoot ku iseh apik2 kae, cuma kertase kok saiki jadi warna kekuning2an yak …padahal dulunya putih resik lho😦 mungkin kesuwen disimpen. Tujune ora ono rayap🙂

    Begadang kiy mempercepat proses penuaan lho Don hi hii 🙂 tak kiro sampeyan dah bangun Subuh, ealah..

    Good luck ya Don🙂

  33. Rejeki, jodho lan pati kuwi kuasane gusti kang murbeng dumadi.
    Kowe ki bakalan nggenteni ndorokakung!

  34. wah, sayang tuh ditinggal begitu saja..
    padahal semua kerjaan pada awalnya begitu…. bos pasti gak akan puji2 kerjaan kita, biarpun sebenernya sangat memuaskan, pasti si bos komplain.
    itu memang udah biasa setauku…agar pegawai terus berusaha sebaik mungkin. buktinya pas kamu mengundurkan diri bos nya nahan2.
    ah sayang baget ituh..padahal kamu bs aja jd penulis/wartawan terkenal.
    coba ngelamar ke kompas ajah… kan bahasa mereka lebih tegas dan lurus. sperti gaya penulisanmu

  35. Nice posting mas..salam kenal, lagi blogwalking nih

  36. nice posting mas..salamkenal..*ngeloyor*

  37. Doni Alfan? kok rasanya gak asing ya…

    salam..

  38. mending nulis buku ndiri aja mas..terus jadi terkenal..hihihi..

    jadi ntar bisa diwawancarain deh ma tu harian..

    sapa tau..hehehe..

  39. Sebulan? wah.. sayang banget tuh don… Mbok ngampet minimal tiga bulan ato setengah taon gitu, biar langsing… Hahaha… Ora ding.. Sayang jhe don sebenere.. Dibetah2ke sik sembari nyari yang lebih oke.. Kan bisa menaikkan position bargaining… Tapi yen selak ra tahan yo gimana lagi.. Mungkin rejekimu di tempat lain, Nak… Yang pentiing jangan lupa selesaikan skripsimu…And good luck buatmu slalu… Wokey?🙂 Btw, aq juga pake deadline koq kerjanya… Kaceke aq di in door..🙂

  40. susah banget
    sering salah ketik sehingga salah arti

  41. Piye kabare Don …😎
    Met wiken ya🙂

  42. tempat baru pengalaman baru juga…
    salam kenal🙂

  43. kang mungkin pancen bener kui tembunge kang lintanglanang, sampean cocog e dadi bos hehhe

  44. setuju sama KITA, nulis buku aja… trus laris, terkenal, dibikin film (kalo bisa) kayak laskar pelangi, trus diwawancara sama tuh harian. hehehehe… pasti keren!
    jangan lupa, ntar aku minta tanda tangan di bukunya. hehehehe…

    tapi, percaya deh!
    emang lebih enak jadi Bos!
    hehehehehee….

    meskipun skala kecil, tapi kan Bos.
    semoga lama-lama kalo telaten kan bisa jadi Bos besar.
    amien amien amieeen…

  45. di sini juga tak udang :p
    klik untuk lihat detail info sarasehan blogos🙂

  46. iya nih…
    alhamdulillah sudah pulang.

    sebenarnya, kalo terjebak di bandara Suvarnabhumi sih sebenarnya lebih seru lagi. nanti aku bisa jepreat-jepret kejadiannya pakai kamera pocket, trus hasilnya aku kirim ke koran harian atau koran minggun itu tuh…

    sebagai kontributor dadakan…
    atau saksi mata sekaligus korban…

    atau, pas kejadian … telpon langsung ke metroTv atau TvOne, melaporkan langsung dari lokasi kejadian. kalo aku lihat berita kemaren sih, yang ditelpon stasiun2 TV berita itu adalah Dubes RI untuk Thailand. lha nih Dubes kan gak ngerti kejadian di lapangan, dia kan ada di kedutaan.
    nah kalo aku ikut terjebak di sana… hehehehe….

    udah ah, kok jadi ngalor ngidul ngene…

  47. whuahah.. keren keren..🙂 mantebh juga.. salam kenal yah..

  48. Maju terus pantang mundur….😀

  49. […] ada di saya dan ada di Putra Daerah. Info pendukung di sana. Apakah Anda juga punya? Ayo umumkan. Siapa tahu pabriknya minta dibuatkan […]

  50. setujuh sama kyai slamet: “Kowe ki bakalan nggenteni ndorokakung!”😀

  51. kok yo apik temen block note’e?😀

  52. yokk blajar nulis sama-sama aja mas, …
    kita khan punya “guru”, ada mas sawali, blog em dll..btw kira2 brapaan SPPnya ya..?..he..hee

  53. […] satu acaranya. Tidak terlalu percaya diri juga untuk ngomong di radio, maklum saya lebih terbiasa menanyai, daripada ditanyai. Lagipula saya sendiri masih blogger kelas ecek-ecek. Saya sudah mengajak […]

  54. hahaha, memang jan merendah itu meninggikan mutu,…

  55. saya juga pernah jadi wartawan radio mas, trus saya banting ke dunia buku dan penerbitan. sebenarnya asyik banget, tapi insentifnya ga sepadan. Maju terus mas, jangan mau kalah sama kera, kera nulis saja bingung apalagi kera sakti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: