28 Komentar

Menjadi Golput Adalah Hak

Menyikapi pernyataan Megawati

Pernahkah Anda menjadi golput alias golongan putih saat pemilu? Saya pernah, dua kali, keduanya hanya pada pilkada, bukan pemilu nasional. Saya hanyalah satu diantara jutaan orang Indonesia yang memilih untuk menjadi golput, apatisme bisa jadi sebab utama. Dalam pilkada Jateng kemarin saja, angka golput mencapai 45%.

“Orang-orang golput seharusnya tidak boleh menjadi WNI, karena mereka menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi serta perundang-undangan di negara ini,”
Sumber: Kompas.com

Menarik sekali pernyataan Megawati itu, meledak-ledak, mirip bapaknya. Niatnya sih baik, supaya WNI mau menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Tapi sebenarnya, apa yang dikatakan Megawati itu kurang tepat – saya nggak berani bilang salah – dan terlalu berlebihan.

Mungkin ibu Mega lupa, bahwa mencoblos di dalam bilik suara itu adalah suatu hak, bukan suatu kewajiban atau keharusan. Kewajiban bisa dipaksakan, berbeda halnya dengan hak. Tidak menggunakan hak pilih saat pemilu adalah juga merupakan suatu hak. Melarang untuk golput sebenarnya justru mengingkari nilai demokrasi itu sendiri.

Saat tidak ada partai atau calon pemimpin yang sesuai dengan ideologi dan cita-cita kita, saat partai dan calon pemimpin tak bisa lagi kita percaya, untuk apa kita paksakan untuk memilih? Kalau Anda tetap memaksakan untuk memilih, mungkin Anda bisa mencoba metode ‘hitung kancing’ dan metode ‘tutup mata’ saat berada dalam bilik coblos.

Jangan pula menyalahkan orang-orang yang memilih untuk golput. Yang saya maksud golput disini adalah golput aktif, bukan golput pasif. Golput yang memang sengaja, bukan golput karena beberapa kendala, seperti misalnya tidak memiliki kartu pemilih. Demokrasi memang sudah berkibar di negeri tercinta ini, tapi apatisme juga semakin kuat. Bagaimana bisa kita percaya dengan wakil-wakil dari parpol, saat pemberitaan media yang menyangkut kasus korupsi, suap, dan skandal seks justru semakin sering terdengar, bukan semakin menghilang. Saya tidak bermaksud gebyah uyah, tapi jika nila setetes saja bisa merusak susu sebelanga, apalagi dua hingga lima tetes?

Menuding dan menyalahkan orang lain itu memang paling gampang. Mungkin ibu Mega belum tau bahwa jika satu jari menunjuk orang lain, empat jari lainnya sebenarnya menunjuk diri sendiri. Maksud saya, jangan lah terburu-buru menyalahkan orang lain, tapi cobalah bercermin pada diri sendiri, ngilo githoke dewe. Karena bisa jadi kesalahan dan kekhilafan justru ada pada diri kita sendiri, bukan orang lain. Tapi terkadang manusia memang tak mudah mengakuinya.

PS: Budiarto Shambazy pernah menuliskan bahwa Megawati itu hanya teh celup rasa Soekarnoisme, Anda tak akan pernah tahu rasanya sebelum dicelupkan ke cangkir berisi air panas.

Foto: Washingtonpost.com

28 comments on “Menjadi Golput Adalah Hak

  1. mendingan golput aja..daripada milih pemimpin eh gataunya korup..ikut berdosa dong kita…ahh.cape de…. ^^

  2. oot. jan serasi updet bareng blog joel. sama kaya menikah. nyoblos jg pilihan wkwkwk. joel dan dony benar2 pasangan sehati. wkwkwkwk

  3. Kalo versi seorang teman bunyinya jadi seperti ini, “Memilih untuk tidak memilih adalah suatu bentuk pilihan.”

  4. Don don … sejak aku tinggal diswiss kok nggak pernah ditawari nyoblos? Piye to orang di Kedutaan ki, aku kan bukan penduduk gelap.

    Berarti aku termasuk Golput tanpa disengaja ya Don ….

  5. mega lupa pas “mendukung” golput pada pemilu 1997 lalu…
    dah lupa sama pdi soerjadi dah lupa sama pdi fatimah ahmad dah lupa dia….
    dah lupa sama mega bintang asli solo…
    dasar kemaruk….

    😀

  6. @ Ojat – Bukannya milih wakil rakyat, tapi malah milih calon koruptor😀. Dan kita pun apatis…

    @ Anang – Halah opo sampeyan ki, senengane nyambung2ke.

    @ Fiz – Yup, sama saja itu.

    @ Judith – Iya mbak, sampeyan termasuk golput pasif. Klo mbak memang ingin nyoblos, sebenarnya jangan nunggu ditawari sama kedutaan, tapi justru aktif bertanya dan mencari informasi ke mereka.

    @ Slamet – Oh tahun ’97 ibu Mega pernah ‘mendukung’ golput tho? Makasih sudah melengkapi postingan saya. Tapi di Solo sepertinya pendukung PDI (P) masih banyak, masih banyak pula ‘posko-posko’ berwarna merah yang tak jelas fungsinya apa.

  7. Wah Don, kayaknya kita dipantau sama si anang…kita punya fans!!!!hahahaha…btw soal golput, saya rasa ini masalah hak asasi. Mo milih mo nggak milih juga hak kita sendiri kan…coba megawati suruh keluar dari bayangan besar bapaknya, kira2 bisa apa ya beliau?

  8. wah, saya sebenernya juga pengen gak milih…tapi, saya gak mau nanti kalau salah satu pemimpin, baik itu walikota, kepala daerah atau presiden yang tidak merepresentasikan keinginan dan suara rakyat (seperti saya), memenangkan event ini…saya ikutan mencercanya. makanya saya tetep nyoblos, walaupun bagaikan membeli kucing dalam karung. setidaknya, diantara kucing2 itu ada kucing terbaik diantara yang terburuk. seperti di AS ketika para warganya golput dan yang menang George W Bush, sebagian besar orang yang golput itu memprotesnya. Kenapa dulu gak nyoblos Kerry kalo gak ingin Bush menang…

  9. Golput bukan WNI ? heh kok sakpenake tnan. meskipun pemilu kemaren saya bukan termasuk golput, saya kok ra mathuk dengan pendapat tersebut. Rasa nasionalisme orang golput ra kalah sam yang nyoblos, golput mungkin seperti yang sudah disebut2 sebelumnya yaitu gak ada yng cocok. golput salah satu fenomena yang udah biasa dalam demokrasi. mmm.. piye yo …? mbuh lah…

  10. hhhhhhhhhhhhh……………

  11. saya akan tetap golput sebelum calon independen diijinkan ikut dalam proses pesta demokrasi. saat ini partai2 bukan lagi media penyampai suara rakyat. tapi sekedar kendaraan politik menuju kursi, tahta, dan harta. apatis? mungkin. tapi saya lebih suka menyebutnya ‘realis’.

    terima kasih..

  12. Yen urusan coblos-coblosan aku ra pernah absen mas! Wong nyoblos ki penak kuq…tinggal dibukak trus dicoblos.

    Gitu aja kuq repot.
    **gus dur mode on**

  13. tidak memilih termasuk satu pilihan, yo ra bro?

  14. Golput sebenarnya juga punya pilihan kok. Tidak datang sama sekali ke bilik suara atau datang tapi nyoblosnya lebih dari satu alias kartu suaranya sengaja dibikin tidak sah.

  15. kl dalam bahasa bapaknya; ” Golpoet adalah tindakan jang kontra revoloesioner dan itoe semoea pasti adalah antek-antek dari kapital birokratis…”

  16. iya betul..golput juga merpakan pilihan.. Memilih itu hak, bukan kewajiban. Kecuali itu wajib dan ada sanksinya… Rak ngono to yo bro?

  17. saya ga golput ko…saya pasti ikut nyoblos tiap kali pemilu….tapi nyoblosnya sambil kertasnya aku lipet…hehehhe
    wah bapake yang jual koran di atas jadi jarang nongol di sastra…ada apa gerangan????

  18. Kate komen tibake wis didisiki sayur. Idem wis….🙂

  19. Bu Mega juga berhak untuk mengemukan pendapatnya .

  20. Golput mungkin memang tidak salah.

    Nah, kalau apatisme?
    Bukan sesuatu yang dianjurkan jika ingin menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Jangan lupa kalau korupsi itu terjadi dalam budaya yang cenderung apatis.

    Saya pribadi tetap nyoblos taun depan, bayar utang, soale PEMILU terakhir ngga nyoblos ..ketiduran!

  21. untung jari ini ga pernah dinodai tinta pemilu…:))
    salah satu alasan saya ga nyoblos ya itu, ngotorin jari aja…

  22. bner banget thu…

    golput kok di paksain gitu loh…

    sejak kapan pemilu ntu jadi kewajiban???

    bukannya pemilu dari jaman dodol udah mengusung prinsip LUBER = Langsung Umum BEBAS Rahasia…

    Bebas : jadi terserah kita mau milih to gak toh???

    itu dah terlalu sibuk korupsi para petinggi2 itu…jadi mau menang sendiri…

  23. ada pilkada jatim kemarien saya bukan golput tapi nggak nyoblos (bingung toh..he3)

  24. saya pernah sekali golput. selebihnya selalu mencoblos.
    kebetulan karena memiliki ktp di 3 propinsi yang berbeda, saya sering mengikuti pemilukada di 3 propinsi yang berbeda juga *kalau waktunya pas*

  25. Sepertinya kita sudah pesimis bahwa siapapun pemimpinnya, tidak akan ada perubahan berarti. Ini sama saja berdiam diri dan pasrah pada kondisi yang ada. Kalau pemimpin dianggap tidak membawa perubahan yang berarti dan agar anggaran pemilihan tidak mubadzir, kenapa kita tidak berikhtiar untuk merebut kepemimpinan itu (tentunya dengan niat untuk membuat perubahan berari dan bukan untuk kepentingan pribadi/golongan). Kalau parpol dianggap tidak membawa aspirasi rakyat, kenapa kita tidak berikhtiar untuk membawa aspirasi rakyat dengan masuk/merebut ke posisi parpol tsb dan berusaha sekuat tenaga untuk mengarahkannya supaya memperjuangkan aspirasi rakyat. Apapun hasilnya, at least kita sudah berusaha dan itu menurut saya lebih baik ketimbang sekedar berdiam diri dan pasrah.

    Terkadang kita pesimis terhadap diri kita sendiri: “apalah artinya kita, kita kan hanya orang biasa”. Tapi kalau kita yakin dan berusaha, Insya Allah gabungan dari kemampuan “orang2 biasa yang amanah” mampu mengalahkan segelintir “orang2 luar biasa yang tidak amanah”. Mari kita yakini bahwa bersama-sama kita bisa membuat perubahan.

  26. mari mas adi.. mari… keyakinan memang dasar dari segalanya… tapi inget mas, perjuangan itu ga harus lewat partai politik. tiap-tiap manusia itu punya jalan dan cara masing2 untuk media berjuang.

  27. ahhhh si ibu ini ada – ada saja, mbok ya sudah sana pijit aja orang sudah tua dan udah pernah ‘tidak berhasil’ kok ya masih brani jualan nama Bapaknya🙂 masih kurang kaya kali ya..?

  28. aku sih milih untuk tidak golput z i2 kn hak smua warga negra, tentang msalah pemimpin yg adil n bijaksna 2 memang sulit zman skrg qt (smua rkyt indo) cari, tapi gda slhx qt memcalon ya kn………..percayai slah satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: