20 Komentar

Centralismo Ala Indonesia

Di tengah obrolan enteng sambil lesehan di wedangan, saya bertanya kepada seorang kawan tentang rencananya sesudah lulus kuliah nanti. “Nyang Jakarta noh, Solo terlalu cilik kanggo obsesiku”, jawabnya. Entah obsesi apa yang akan dia kejar, pastinya sebuah obsesi besar.

Jakarta tetap menarik bagi orang-orang daerah, dari yang berkeahlian minim, hingga pemuda fresh graduate seperti kawan saya tadi. Media massa menyebutkan bahwa Jakarta menyerap 70% perputaran uang nasional, hebat betul. Inilah salah satu bukti bahwa Indonesia masih terlalu sentralistik dalam hal ekonomi. Jakarta adalah lahan basah, banyak duitnya. Jakarta sekaligus sebagai pusat pemerintahan. Jadi, Jakarta adalah gabungan antara Washington dan New York.

Tidak perlu heran jika eksodus dari daerah menuju ke ibu kota selalu terjadi setiap tahunnya. Ini adalah dampak dari tidak meratanya pembangunan dan kurangnya penyediaan lapangan kerja di daerah. Orang-orang daerah itu rela menyandang sebutan ‘orang udik’ dan ‘orang kampung’ untuk meraih kehidupan yang lebih baik ketimbang di tempat asalnya, meski sebenarnya ibu kota tak selalu menjanjikan keberhasilan dan kesuksesan. Para pendatang itu berlomba meraih ‘Jakarta dreams’, diantara mereka ada yang menang atau paling tidak mencoba bertahan, sebagian lagi kalah dan terkalahkan.

Saya berpikir, Indonesia adalah sebuah negara besar dan kaya sumber daya alamnya, tapi kenapa 70% duitnya cuma sibuk diputar di Jakarta saja. Sayang sekali, bukankah daerah lain juga bisa dikembangkan? Bagaimana jika posisinya dibalik, 70% perputaran uang terjadi di daerah, sedangkan 30% sisanya di Jakarta? Entahlah, saya bukan ahli ekonomi.

Selama ini daerah turut menyetor kas ke pusat, sebuah kepercayaan besar. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah Jakarta bisa menjaga dengan baik kepercayaan itu? Harta yang sampai di Jakarta itu akankah terkelola dengan baik? Disini kita mempertanyakan sikap profesional orang-orang Jakarta sebagai pemegang dan pengelola duit negara, pun penentu kebijakan ini itu untuk wilayah sini situ Indonesia

Seno Gumira dalam esainya, Jakarta Tanpa Indonesia (majalah Djakarta!), menuliskan bahwa Jakarta dalam konteks Indonesia sekarang bagaikan sebuah dunia yang orang-orangnya asyik dengan diri sendiri. Sesuai judulnya esainya, maka bayangkanlah Jakarta tanpa Indonesia. Jika daerah sudah mulai geleng kepala ‘mendanai’ Jakarta, masih bisakah Jakarta mempertahankan gemerlap dan kemegahannya?

Jakarta yang megapolitan, lengkap dengan banjir, kemacetan lalu lintas, dan kepadatan penduduknya, mau tidak mau juga harus siap melayani kepentingan daerah, membangun potensi-potensi yang dimiliki daerah, dan untuk kepentingan daerah. Itulah tugas berat dan berkeringat sebagai ibu kota negara.

Wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan nan luas – tak cuma seluas Taman Mini – jelas masih butuh pemerataan pembangunan. Sekali lagi, negara ini sungguh luas, sayang sekali jika 70% uangnya hanya berputar di Jakarta saja. Seumpama daerah juga bisa berkembang, bahkan melebihi Jakarta, maka orang-orang seperti kawan saya tadi tak perlu lagi ke Jakarta untuk mengejar obsesinya.

Selamat ulang tahun Jakarta, semoga panjang umur dan lekas sembuh dari semua masalahmu…

Ilustrasi: femina-online.com

20 comments on “Centralismo Ala Indonesia

  1. Beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan:
    1) Sebarkan pusat administrasi pemerintahan ke beberapa daerah. Di negara-negara maju, kantor pusat administrasi pemerintahan disebar di beberapa kota dan tidak hanya di ibukota saja. Misal, kantor pusat departemen tertentu atau BUMN bisa saja direlokasi ke kota lain. Dengan demikian pusat2 kegiatan ekonomi diharapkan tidak hanya berada di Jakarta.
    2) Desentralisasi proses administrasi dan perijinan. Jadi untuk ngurus beberapa perijinan dan administrasi tertentu tidak harus ke Jakarta. Bisa juga dengan cara pengurusan proses admistrasi dan perijinan secara online atau via pos.
    3) Hal2 tersebut diatas bisa berjalan lancar kalau didukung dengan fasilitas infratruktur transportasi dan komunikasi yang handal, cepat dan murah.

  2. Sakjane perusahaan2 iku iso luwih murah biaya operasionale yen pusat kegiatane nang luar jakarta, nang Jakarta cukup kantor pemasaran wae; asal komunikasi telpon&internet apik, aman, cepet tur murah. Dadi akses data iso online soko ngendi wae. Akeh perusahaan multinasional sing saiki mindah kantor pusate nang negoro2/kota sing biaya hidupe luwih murah, pajek rendah, gaji karyawan murah & biaya operasional rendah. Lha wong jamane saiki, iso wae produk tertentu pimpinane nang kota A, bagian desain produk nang kota B, bagian pemasaran nang negoro C, trus bagian produksi/pabrik nang negoro D selama komunikasi online apik. Iso wae mengko wong Amerika pesen jas online soko penjahit pak Joko nang Solo soale regane luwih murah tinimbang pesen jas nang negarane🙂

  3. hmm masalah klasik dari kota terbesar di indonesiya. bok ya ora rakus, didum karo kota lain. byuh nek carane ngene sing jenenge indonesa mung jakarta tok, dan sila kelima pancasila hanya sekadar teks tanpa makna

  4. wah teman sampeyan itu pikirannya kok konservatif sekali ya…padahal pola pikir seperti itu tidak akan mengurangi jumlah penganguran karena masih tergantung dengan lapangan pekerjaan yang ada. Urbanisasi bukan hanya disebabkan karena daya tarik kota yang lebih menjanjikan daripada di daerah. faktor di daerah yang tidak bisa menciptakan lapangan kerja baru juga menjadi pemicu.

    Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

    Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya.

    wah, semoga kawan sampeyan itu benar-benar membawa bekal dan skill. kalo tidak dai akan ditakhlukkan jakarta..ha..ha..ha

  5. Jakarta itu kecil … tapi ya itu, 70% berkutat disini doang… sumpek😦
    Karena jakarta ibukota, begitu?
    jakarta = kapten sebuah tim sepak bola yang gak mau bagi2 bola alias egois

    huhuhu

  6. pertama, waktu ngeliat fotonya gak langsung ‘dong’, gue pikir itu foto bunga apaan gitu, gak taunya kembang api di monas, hehehe =D

    kedua, sejujurnya gue sbnrnya gak seneng kalo org daerah pada ke jkt, yg golongan menengah ke bwh itu lho… (maap), tp jkt jadi tambah macet, tambah jorok, tambah banjir.

    ketiga, minta jatah “kue” don? jangankan elu don, lha wong gue aja “nyumbang” terus jg gak ada timbal baliknya. Kota gue aja tambah awut-awutan tuh, gmn yg daerah? =D

  7. @atas saya: satu lagi potret sikap orang metropolis, “kere po maneh bodo, ra sah nang JKT” emange sing duwe JKT sopo??
    malu kalo ketahuan bahwa JKTers ga bisa ngatur kotanya sndiri, salahin aja pendatang.. Dazars..
    wkakakaka…

  8. @ Anonymous 1&2 – Wah wacana dari njenengan benar2 menarik. Harusnya juga didengar oleh para birokrat dan pembuat kebijakan di Jakarta sono.

    @ Anang – Kowe isih apal Pancasila tho? Hehe.

    @ Suarahimsa – Gimana kawan, kapan berangkat ke Jakarta?😀
    Ditunggu lagi forum wedangannya.

    @ Paams – Analoginya dengan kaptep bola itu menarik juga😀 Klo egois gol-nya lama pasti.

    @ Rey – Lha orang ‘asli’ Jakarta sendiri apa sudah merasa cukup tertib dan disiplin?
    Trus, duit yang banyak itu kemana larinya yak?

    @ Sayurs – Sabar mas, sabar. Eling umur😀

  9. Padahal nggak seharusnya ibukota itu selalu ruwet yak? Tapi tetep aja begitu! Inget pilem2 dulu katanya ibukota tuh lebih kejam daripada ibutiri, he he … lha seng kejam ki manungsane kok, dhudhu ibukotane.

    Potone apik lho Don, ketok meriah tenan…

  10. itu mungkin cuma keinginan mahasiswa yang bentarlagi mau lulus.kalo tau jakarta spt apa, mngkn dia akan kapok .he2..

  11. Sayangnya, masalah banjir masih tetap jadi agenda rutin bila penghujan tiba. Emoh ah, nang jakarta. Ndak kebanjiran maneh.

  12. Kata Zam Matriphe,”Jakarta kota sekejam ibu tiri, tapi tak kejam soal gaji.” Entahlah apakah itu betul apa tidak. Di Jakarta sini, orang yang bergaji sebulan 300 ribu banyak, yang bergaji 3 juta juga buanyak. Yang bergaji 30 juta juga ada.
    Trus, aku dulu kenapa ya kok kerja di Jakarta? Ya semoga nanti bisa di solo lagi yang lebih nyaman dan tidak kampung kampung amat😀

  13. Paling asik tuh tinggal di Solo, rejeki Jakarta, tongkrongan di wedangan. Wuiihhh sedaaapppp.

  14. jakarta memang penuh daya tarik!!!!

  15. waduh emang bener, tapi trus piye maneh, wong kita ini wong cilik, besuk mungkin kalau kita sudah jadi orang besar, paling tidak bisa mencetak orang-orang besar

  16. saya berikan satu trick agar bisa survive bekerja di Jakarta:

    jangan jadikan pekerjaanmu itu sebagai sebuah pekerjaan, tapi jadikanlah sebuah lifestyle..

    karena kemacetan di jakarta itu lifestyle..
    karena banjir di jakarta itu lifestyle..

  17. Lha mas Dony ntar setelah lulus maw kemana?Ke Jakarta-kah?Saranku:Pergilah ke pelosok2 daerah di luar Jawa.Masih buanyak tenaga yg dibutuhkan untuk membangun daerah2 terpencil itu.Tp kalo penginnya cuma nyari uang ya cari kerja di Jawa aja..hihi..

  18. @ Judith – Bener mbak, manungsane sing kejem😦
    @ Haris – Bisa kapok, bisa juga ketagihan😀
    @ Mufti AM – Meskipun rutin, tapi tetap belum teratasi…
    @ wongndesokecemplungnjakarta alias Bambang – Yang gajinya 30juta itu jangan-jangan sampeyan ya? Hehe. Ayo mas nanem modal di Solo, nanti saya nguli sama sampeyan saja
    @ Cah Ndeso – Tinggal di Solo, rejeki Jakarta? Walah, mbok aku yo gelem
    @ Gempur – Jakarta gitu loh
    @ Gudang Kambing – Saya sudah jadi orang besar lho, tapi besar secara fisik ;D
    @ Koboi Urban – Ada bimbingan dari orang urban asal Bekasi, alias Jakarta coret, mohon didengarkan.
    @ Andri Kusuma – “Lha mas Dony ntar setelah lulus maw kemana?Ke Jakarta-kah?” Yo mbuh mas, misih belum ada gambaran.
    Lha kalo sampeyan ke luar Jawa itu kan dalam rangka pengabdian, mas. Lha aku sing sontoloyo iki ameh mengabdi karo sopo?😀
    Oya mas, komen-nya kok dobel gitu, wah kalo kebanyakan bisa dikira seleb blog saya nanti. Tak hapus salah siji ya

  19. 1. memang kawan sampeyan itu sapa to? ato jangan2 ada ‘magnet’ laen, yang menariknya ke jakarta selain ‘obsesi’ itu sendiri? sejenis faktor X gitu..

    2. …Oya mas, komen-nya kok dobel gitu, wah kalo kebanyakan bisa dikira seleb blog saya nanti. Tak hapus salah siji ya…

    bukannya sudah????

  20. […] Saya hanya menanyakan kabar dan pekerjaannya. Semenjak lulus dari STM, dia langsung merantau ke Ibu Kota. Dan sekarang sudah jadi sopir pribadi di daerah Jakarta […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: