18 Komentar

Mengingatkan, Gimana Enaknya?

Saat kata-kata tak lagi mempan, imej pun mengambil alih peranan

Banyak cara untuk mengingatkan sesama, menuju kebaikan tentunya, bukan malah mengajak ke lembah dosa. Namanya juga mengingatkan, bukan menjerumuskan. “Ngajak golek dalan padhang”, orang Jawa bilang.

Hari Minggu, jalanan agak lengang, mungkin orang-orang lebih memilih ngendon dan ‘angrem’ di rumah. Di siang yang cerah dan panas itu saya melintas di daerah Pasar Kliwon, daerah ini terkenal sebagai kampung Arab-nya Kota Solo. Dan saya menemukan spanduk ini, kalimatnya memang sudah biasa terdengar dan terbaca, banyak bertebaran dimana-mana, di musholla hingga blog, “Sholatlah sebelum Anda disholatkan”.

Tapi rupanya, bagi orang pokrol seperti saya, kata-kata seperti itu cuman masuk lewat kuping kiri, dan keluar lewat kuping kiri lagi. Kok keluar lewat kuping kiri lagi? Iya, kalo keluar kuping kanan, pasti masih ada ‘ampas-ampasnya’ di salah satu partisi memori. Lha kalo keluar lewat kuping kiri lagi, tak ada ampas yang tertinggal. Lalu kita pun biasa berlindung dibalik kata lalai, lupa, dan alpa.

Saat kata-kata tak bisa lagi berperan banyak, maka imej, gambar, dan visual pun dihadirkan. Ya, foto sebuah bandoso (keranda) dan jenasah yang sudah dikafani pun hadir di bawah kalimat itu. Sungguh tajam pesan yang disampaikan, dan apa adanya. Shock therapy, bung! Bagi yang melihat diharapkan bisa merenung, sekaligus mengingat.

Tak perlu ada yang tersinggung, kebenaran kadang memang terasa pahit. Masing-masing individu dituntut untuk ngilo githoke dewe, menilai diri sendiri, tak perlu lah nduding orang lain.

Mengingatkan bukan berarti memaksakan. Biarlah masing-masing individu mendapatkan pencerahannya. Sebuah pencerahan spiritual yang bersifat personal, yang tentu saja tak bisa dipaksakan.

Anda dan saya bisa saling mengingatkan…

PS: Jujur sholat saya masih banyak bolongnya, terutama sholat Subuh 😦

© Foto: Dony Alfan

18 comments on “Mengingatkan, Gimana Enaknya?

  1. namanya orang hidup ya kudu saling mengingatkan

  2. Jadi, siapa yang butuh disholati? Tuhan atau manusia yah?😀

    *no force

  3. hi..ceyemmmm

  4. Piye yo..Kadang orang dapat pencerahan itu setelah dia dapat musibah.Misalnya orang sakit trus ingat ama Tuhan,berdoa supaya lekas sembuh.Tp kalo orang dikasih kenikmatan hidup itu biasanya kuq terus lupa daratan.Betul gak mas Dony?

  5. Nah, bagi yang terlanjur lupa lihat tuh gambarnya serem khan??? Kalau perlu lihat langsung saat pemakaman mungkin pikiran jadi lebih terbuka.

  6. Tak sholatke piye Don…matio sik ndang…hahahaha….guyon men…masalah agomo urusane dewe2 karo sing kuoso, jadi ben waelah…

  7. njoel, urusan agomo ncen urusane dewe dewe tapi yo saling mengingatkan untuk kebaikan,yo ra ?

  8. Kalo gitu ayo dong kita saling Mendoakan …

  9. iki do comment opooo yooo????
    asal absen thok…

  10. siiip….
    *ambil wudhu*

  11. wah.. bahasannya bikin malu saya… hiks…

  12. waduh…aku belum sholat

  13. kayaknya pendapat saya sudah terwakili dengan comment2 di atas..saya tambahkan lagi sedikit :
    konon semakin banyak orang lebih takut mati daripada takut akan Tuhan lagi. Ketika hidup semakin enak, orang tak ingin hidupnya diambil sebelum jam yang disepakati itu. Sejak dulu ketakutan purba itu tampil dalam drama-drama klasik, seperti muncul dalam Everyman’s Death. Orang cemas melihat pasir gelas pengukur waktu umurnya kian menipis, dan terus menipis. Perasaan diteror pun ikut merecoki rasa cemas akan mati itu.

    Kematian dianggap tak sama penting dengan tidur. Bahkan orang kaya menolak untuk mati, dan kesehatan kini menjadi agama baru. Obsesi narsisistik kebanyakan orang sekarang bagaimana hidup bisa diulur lebih panjang. Untuk itu orang berani membayar mahal buat menyewa mesin medis, rekayasa genetik, atau keterampilan cerdasnya tangan medis. Jantung buatan dipakai untuk memundurkan umur, dan obat awet muda terus orang kejar, berapa pun orang akan bayar.

    memento mori…

  14. wew..
    semoga menggugah iman ya bang ?

  15. habis ini blog akan berganti jadi blog religi?

  16. kok aku yang tiap hari lewat pasarkliwon, ndak lihat ya? wah jan mataku mirip kupingmu don

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: