15 Komentar

Ngeblog Juga Penuh Resiko

direpro dari Media Indonesia

Blog bukanlah media alternatif yang tanpa resiko sama sekali. Herman Saksono pernah berurusan dengan polisi gara-gara salah satu posting di blognya. Blog sendiri sebenarnya tidak memiliki kode etik khusus, berbeda dengan halaman jurnalistik. Objektivitas, netralitas, dan kebenaran, banyak blog tidak memilikinya. Ya, blog memang bukan barang suci.

Anda mau nulis apa saja di blog, bebas dan hampir tanpa batas. Itulah salah satu alasan kenapa blog bisa menjadi media alternatif yang berkembang dengan cukup pesat, baik kuantitas maupun kualitas, ini terlepas dari pendapat seseorang bahwa blog hanya tren sesaat.

Tapi setelah saya membaca satu berita singkat dalam halaman Jagat 24 Jam Harian Media Indonesia Sabtu (23/2) kemarin, saya berubah pikiran: ternyata blog nggak bebas-bebas amat, dan tulisan pada paragraf ke-2 di atas tak lagi berlaku.

Kabarnya Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Azalina Othman, menyebut para blogger sebagai pengecut dan memperingatkan akan diawasi. Gara-garanya partai oposisi di Malaysia banyak yang beralih ke blog untuk berkampanye dan mengeluarkan opininya. Kenapa musti lewat blog? Yah, seperti kita tahu, media massa di Malaysia diawasi dengan cukup ketat oleh Pemerintahnya, tidak sebebas di Indonesia. Saat media massa sudah mulai dikekang oleh kekuasaan dan pemodalnya juga dekat dengan penguasa, maka blog bisa menjadi media lain yang cukup efektif, meski pengaksesnya tak sebanyak media massa “old fashion“.

Saya jadi teringat dengan nasib Nila Tanzil sekitar setahun yang lalu. Dia kehilangan posisinya sebagai presenter salah satu acara di SCTV gara-gara tulisannya di blog yang bikin geram Menteri Pariwisata Malaysia, Tengku Adnan. Bahkan, Pak Menteri negeri serumpun itu juga mengatakan bahwa blogger adalah pembohong.

Dua pernyataan yang mirip dari dua orang menteri yang berbeda, dan ditujukan kepada dua pihak berbeda. Penyataan dari Tengku Adnan lebih ditujukan kepada blogger asal Indonesia, sedangkan pernyataan dari Azalina Othman ditujukan kepada blogger di negaranya sendiri.

Tak semua blogger itu adalah pengecut, banyak kok blogger yang sudah mulai membuka jati diri mereka sebenarnya, nama lengkap, pekerjaan, domisili, dan tak lupa memasang foto diri. Seandainya masuk DPO pun, mereka akan gampang terlacak oleh polisi. Blogger tentu sudah menimbang setiap posting yang bakal di-publish, menulis tidak sama dengan bertutur yang terkesan lebih spontan, menulis butuh kerja otak yang lebih. Menulis adalah tahapan paling akhir setelah mendengar, berbicara, dan membaca.

Lalu bagaimana dengan tulisan atau posting yang “sembrono”? Setiap blogger tentu punya batasan dan ukuran nyalinya sendiri. Anda dan saya bisa berbeda pandangan.

Blog di mata Pemerintah Malaysia telah menjadi sesuatu yang serius, patut diawasi, dan diwaspadai. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita belum terbelenggu, kawan! Kita orang merdeka, untuk itu mari kita berkarya…

15 comments on “Ngeblog Juga Penuh Resiko

  1. Walah mas Dony…Saya kuq jd takut ngeblog?Tujuan saya ngeblog selain cari istri jg cuma maw membantu orang kuq…gak lebih…Lha menurut mas Dony tulisan di blog saya “aman” gak?
    Apa saya sebaiknya mengganti foto dan profil saya ya…Untuk menghilangkan jejak maksudnya…khukhukhu… ^o^

  2. ngeblog juga beresiko jadi seleb juga lho😛

  3. Wah..jadi kudhu musti hati2 dong ya … Yang penting kita ngeblog untuk tujuan positif deh …

    Salut Don,dengan Artikelmu. Selamat berkarya juga Don …
    Salam.

  4. Gak heran memang klo blog dijadikan sarana utk cheating. UU nya kan ga ada.

    Sebenarnya apapun yg berhubungan dgn internet, selama tdk dilindungi oleh uu security yg benar, semuanya tidak aman…

  5. ada yang selalu ini disalahartikan. bahwa ngeblog itu akhirnya tidak bisa sebebas yang kita kira. Selalu ada etika, norma, budaya, sosial di luar sana yang bisa membatasi ‘ keliaran ‘ kita.

  6. ternyata ngeblog juga beresiko yah! baru tau nih!

  7. malaysia? what can you expect from the country that banned metal music? none

  8. semua ada resikonya, tapi jangan lantas itu menjadi penghalang utama dalam melangkah..
    (halah opo to ki)😀

  9. malaysia emg mengunci media massanya,,,
    untung indonesia masi demokratis,,,
    lebih bebas…
    selama masi ada etika ngeblog juga norma kesopanan, ga masalah…
    tapi tetap WASPADALAH,,wakz..

  10. dalam hal demokrasi, malaysia hari ini ga ada bedanya sama Indonesia pra-98…
    cuma bedanya saat ini rakyatnya belom begitu ‘sadar’… tunggu aja gebrakan kekuatan rakyatnya suatu saat nanti…
    (itu juga kalo rakyatnya bisa ‘sadar’ kalo ‘ternyata’ selama ini matanya ditutup dan mulutnya dibungkam…)

  11. setuju. yang penting berkarya dengan jujur dan penuh tanggung jawab. mau diawasi atau enggak terserah yang mau mengawasi.

    salam

  12. @ Andri – Lho kenapa musti takut? Klo isi blognya positif dan nggak “sembrono” ya oke2 saja tho. Fotonya tetep dipasang aja, biar para blogger cewek bisa lihat betapa ganteng muka anda, kan katanya mau cari istri lewat blog? ;D. Sukses selalu, pak dokter!

    @ Totok – Itu sih resiko yang kepenak. Rasanya jadi seleb blog gimana sih? Saya belum pernah tuh ngrasain

    @ Judith – Tul, yah anggap saja ngeblog itu seperti mau nyebrang jalan, musti lihat kanan kiri dulu, sing ngati2 supaya selamat dan sejahtera selalu… Trims buat komplimen-nya. Selamat masak, jangan lupa sisakan untuk saya ;)…

    @ Zee – Internet memang seperti pisau bermata dua, sedangkan kontrolnya bisa dimulai dari diri kita sendiri

    @ Jari-jari ampuh – Setuju dengan anda, kebebasan bukan berarti tanpa batas, karena ada “peraturan tak tertulis” yang akan menjadi kontrol. “Peraturan tak tertulis” itu kadang lebih heibat dari KUHP, UU, dsb.

    @ Gempur – Masak sih baru tahu? Sampeyan khan lebih senior dari saya, mohon bimbingannya ttg blogging, guru…

    @ Koboi Urban – Untung mereka belum nge-banned TKI/TKW asal Indonesia…

    @ Sayur – Dan berani tidaknya kita menghadapi resiko itu, halah….

    @ Keket – Sekali lagi, masih ada etika dan norma, meski itu tak tertulis.

    @ Lintang Lanang – Sebenarnya orang Malaysia itu sudah mulai sedikit ‘sadar’ kok. Cuman mereka belum bisa bersatu, sehingga masih kalah ‘kekuatan’ dengan penguasa

    @ Yudhi Hartomo – Sudut pandang yang saya tunggu dari kacamata seorang jurnalis. Hehe, salam juga, bung!

  13. wah…wah saya juga baru saja merasakan petaka blog alias blog membawa petaka. gara2 salah interpretasi tiap kata dalam blog saya dan waktu serta situasi yang tidak tepat membuat bencana.alhasil menyinggung diri sendiri dan orang lain. postingan yang anda beri commnet itu juga adalah hasil dari salah sangka.akh untungnya saya belum kapok untuk menyambung hidup blog saya..
    benar2 kena petaka blog (menggaruk kepala yang tak gatal):P

  14. Ternyata Nge Blog Juga Ada Resikonya ya ?!

    Ya tapi nggak apa-apa, selama yang ditulis adalah Kebenaran, Dan Proporsional tidak menyudutkan kelompok atau golongan lain dan juga bukan fitnah

    Saya rasa para Blogger Nggak perlu takut untuk tetep nge Blog.

  15. Resiko tenar juga lho😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: