10 Komentar

Jangan Terlalu Lama Jadi Presiden


“Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men.”

Lord Acton

Rupanya nasihat dari Lord Acton tersebut tidak dihiraukan oleh dua orang yang pernah memimpin Indonesia, Sukarno dan Suharto. Kesalahan paling kasat mata antara keduanya adalah terlalu lama berkuasa dan otoriter. Dalam politik, kekuasaan adalah objek sentral, dan kekuasaan bisa menjadi sesuatu yang menggoda sekaligus mengiurkan. Tahun 1963 Sukarno diangkat sebagai presiden seumur hidup, dan dia tidak menolak. Sekitar 20 tahun Sukarno berkuasa, tapi ternyata kesalahan yang sama justru diulang kembali oleh Suharto, 30 tahun Suharto berkuasa, lebih parah ketimbang mantan atasannya.

Pada saat itu memang belum ada peraturan yang membatasi berapa kali presiden boleh menjabat, sehingga tidak dianggap menyalahi konstitusi. Tapi, manusia yang menjadi pemimpin dan berkuasa begitu lama tanpa membuat noda, dosa, dan cela tampaknya tidak ada, kecuali dia sejajar dengan malaikat yang notabene tidak memiliki hasrat maupun nafsu. Syukurlah, masa jabatan presiden sudah dibatasi cuma dua periode.

Sukarno terjebak dalam penyatuan ideologi yang sama sekali bertentangan melalui Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis). Sampai akhir jabatannya, Sukarno tidak mau membubarkan PKI karena dia konsisten dengan pendiriannya sejak tahun 1925 tentang Nasakom. Komunisme justru menjadi batu pijakan licin bagi Sukarno, dan menjadi alasan bagi “pihak lain” untuk “memenjarakannya” di Wisma Yaso.

Sedangkan Suharto senang bermain-main dengan kekuasaan. Menurut Machiavelli, ”…it would be best to be both loved and feared. But since the two rarely come together, anyone compelled to choose will find greater security in being feared than in being loved”. Berdasar ajaran Machiavelli tersebut, Suharto bisa memainkan perannya dengan cantik, ditakuti sekaligus dicintai. Ditakuti oleh mereka yang mencoba menentang, dan dicintai oleh rakyatnya yang berpikiran simple (baca: gampang cari makan). Sayangnya, Suharto juga sibuk “menyuapi” orang-orang disekitarnya dan juga anak-anaknya, sampai akhirnya dia lupa bahwa sudah saatnya untuk pensiun.

Seandainya saja, Sukarno dan Suharto mau melepas jabatan presidennya lebih awal, pasti akan terasa elegan. Tidak perlu ada konspirasi, intrik politik, dan anarkisme massa dalam rangka penggulingan kekuasaan otoriter. Sehingga, nama besar mereka akan dikenang dengan lebih anggun.

Sukarno sang Founding Father dan Suharto sang Bapak Pembangunan, keduanya memimpin Indonesia pada masa yang berbeda, dengan jasanya masing-masing, tentu tak lepas dari kekurangan dan kesalahannya.

Kita bisa belajar dari kesalahan masa lalu, dan menjadikannya sebagai sarana belajar bagi masa depan yang lebih baik. Jangan anggap ini sebagai petuah lama yang mulai membosankan. Ayo dong, sudah saatnya kita bangkit dan optimis. Kita dilahirkan sebagai putra bangsa! Bukan sebagai Sisyphus yang selalu gagal – dikutuk untuk mendorong batu besar ke atas gunung, namun ketika sampai di puncaknya, batu itu kembali menggelinding ke bawah.

Merdeka!!!

Ilustrasi: Britannica.com

10 comments on “Jangan Terlalu Lama Jadi Presiden

  1. Kalo terlalu sebebtar juga ga efektif, saya rasa 5 taun bukan waktu yg cukup untuk menjalankan program2 presiden.
    Malah kepotong 1 tahun buat orientasi jabatan (emangnya ospek? hehe) trus 1 tahun terakhir konsen mikirin kampanye buat pemilu berikutnya. Efektif cuma 3 tahun deh.. mana cukupp..😛

  2. kalo lama bisa keblinger ama kekuasaan ya

  3. “merdeka” dengan nada manja N lembut..:D ^^::^^ ga’ semangt belaz..

    semangtnya 75 tp optimisnya 57,cemangtt doozo…^^::^^
    induk ayam yg sulit mengenali anak2nya N sebaliknya

    namun saat badai induk ayam menyelimuti N melindungi anak2nya…itu anak ayam ama induk,meskipun ga’ kenal satu2 tp sangt perhatian….

    pemimpin yg baik dalam peperangan maju dulu baru pasukannya….tp kebanyakan sebaliknya tp kita ga’ perang…

    +*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*

  4. Kelamaan jadi presiden tuh gak papa mas! Asal gak otoriter, gak rakus dan tak menyalahkan kekuasaan untuk kepentingan rakyat..

    Untuk pemimpin yang memang benar2 merakyat.. [mudah2an tak utopis lagi saya]… berpihak dan selalu memikirkan rakyat.. juga mengajak rakyat pada kebaikan, maka dia pantas untuk memimpin hingga akhir hayat..

    tak penting demokrasi, monarkhi atau apapun namanya.. yang paling penting, mengajak rakyat bertemu kemakmuran dan bertemu Tuhan di atas pijakan kebenaran..

    *halah pidato keagamaan*

  5. Don,aku mendoakan km…Semoga kalo km jd presiden,km masi inget pernah nulis artikel ini..Hohoho…
    ^o^

  6. @ Jie – Memang nggak efektif sih, makanya presiden selanjutnya juga harus meneruskan rencana2 bagus dari presiden sebelumnya, atau memperbaiki yang kurang. Tak perlu bikin kebijakan baru yang sama sekali beda, kalau kebijakan lama sudah bagus, ya tinggal diterusin tho. Butuh proses untuk menjadi lebih baik, lama tidaknya tergantung beberapa faktor, halahhh…

    @Gempur – Saya setuju sama sampeyan. Kalau ada pemimpin seperti itu, brarti dia bisa disejajarkan dengan malaikat, alias kagak ada cacatnya. Ato anggap saja, manusia berhati malaikat. Saya bakal support pemimpin macam itu.

    @ Andri – Nek aku lali, yo sampeyan sing ngelengkke, hehe.

  7. tempo untuk menjabat sebagai seorang pemimpin yang dipilih kangsung oleh rakyat ya 5 tahun saja. setelah itu, dievaluasi. kalo lolos electoral threshold ya maju lagi..tapi, apa rakyat gk bosen dgn kinerja yang gitu-gitu saja dan ngga membawa perubahan signifikan. Semua model pemilihan langsung seharusnya dikaji ulang, karena rentan terhadap konflik horizontal antar pendukung masing2 calon. wuah, demokrasi memang sering disalahtafsirkan, seolah-olah dengan pemilihan langsung itulah,demokrasi ter-representasikan. melihat masa depan tetap linear dgn masa lalu dan masa kini.ya, mari belajar melahirkan demokrasi yang proporsional..he.he.salvo buat para pemimpin itu..

  8. Rata2 mereka yang jadi presiden dalam waktu lama memiliki pengaruh yang kuat di dunia internasional. Termasuk ke dua tokoh tersebut tentunya.

  9. WAH KALAU SUHARTO BAPAK MPEMBANGUNAN GAK SEPAKAT BANGET BOS

  10. Hukum yang dibuat oleh manusia itu tidak ada yang sempurna !
    Seharusnya, kita tidak menilai seseorang dari segi negatifnya saja, apalagi beliau beliau itukan pemimpin kita.
    Bukankah Indonesia merdeka karena jasa-jasa mereka juga. !

    Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: