20 Komentar

Kamera Digital

Teknologi telah memberi kemudahan, tapi manusia tak pernah puas


Kira-kira kapan terakhir kali anda memakai kamera film? Si juru potret itu justru belum lama beralih ke D-SLR, dia semakin antusias mengajak teman-temannya untuk menekuni hobi fotografi, tiap hari maunya ngajak hunting terus, mentang-mentang nganyari, ha ha.

Dulu, praktek mata kuliah fotografi, saya dan teman-teman seangkatan masih diajari motret dengan Nikon FM 10, termasuk praktek cuci cetak film di kamar gelap. Ada perdebatan seputar bagaimana mengawali belajar fotografi, apakah dari analog lalu meningkat ke digital, atau mending langsung pakai digital. Untuk masalah itu, Iman Brotoseno pasti punya pendapatnya.

Tak bisa dipungkiri dunia fotografi digital memang semakin banyak digunakan, dari yang kelas kamera kwaci, prosumer, hingga kelas pro. Irit dan efisien, kita tak perlu lagi beli rol film dengan berbagai tingkatan ISO dan mencuci cetak hasil jepretan di lab. Kalau anda punya printer yang bagus, maka anda bisa mencetaknya di rumah, atau mungkin sudah cukup puas hanya dengan melihatnya di layar monitor. Beruntunglah kita hidup di era teknologi digital, kemudahan-kemudahan yang kita rasakan adalah berkah.

Tapi rupanya manusia tak pernah puas, kita selalu saja menuntut lebih. Saya teringat salah satu artikel di Kompas bulan Desember kemarin, tentang kamera yang diinginkan oleh fotografer. Kamera yang dimaksud bukanlah kamera dengan merek dan tipe tertentu, tapi kamera yang ‘seandainya’ bisa begini dan begitu, dengan fitur ini dan itu. Artikel itu menuliskan beberapa hal yang diperlukan dalam sebuah kamera idaman, antara lain: kamera yang ringan dan mungil tapi kemampuan rekamnya 50 megapixel , kamera yang bisa memotret hingga ISO 50.000 tapi fotonya tetap berbutir halus, kamera yang tanpa under water housing bisa dipakai menyelam hingga kedalaman 50 meter , kamera yang lensanya tak perlu diganti-ganti lagi karena range zoom-nya dari 10mm-600mm, kamera dengan hard disk yang bisa menyimpan hingga 1 juta gambar, dan kamera yang fokusnya diatur oleh pikiran.

Namanya juga kamera khayalan, sama halnya seperti kita membayangkan gimana rasanya naik mobil terbang. Tapi teknologi terus berkembang, bukan tidak mungkin kamera khalayan itu bisa menjadi kenyataan, memberi kemudahan melebihi dari yang bisa kita rasakan saat ini, bahkan bisa jadi melebihi ekspektasi. Yah, siapa tau.

Ilustrasi: mbuh

20 comments on “Kamera Digital

  1. Teknologi semakin berkembang mengikuti keinginan dan kebutuhan manusia juga mas. Apa yang kita khayalkan hari ini bisa jadi kenyataan entah kapan. Seperti dulu orang berkhayal bisa pergi ke bulan, nyatanya terlaksana juga khan??

  2. besok bakal ada kamera super mini yang bisa motret bumi secara jelas dari angkasa… wahahahahhahaha

  3. Gembuzz le……. daripada duwe kamera tapi mung di onggrokke wae…sisan wae dimenyani ro dikembangi…tak tunggu acara hunting barenge meneh…seru to yang kemaren???

  4. Wah mbok yen hunting ngejak2 to don…
    n biar kameramu itu kepake, jangan disimpen terus. kalo disimpen terus benar seperti yg tertulis di atas ini.

  5. udah ada belum ya kamera tembus pandang. yang bisa memotret apa yang ada di balik baju, atau pikiran orang-orang?
    🙂

  6. wuihhh…kamera jenis opo kui kang? he he he…..

    jadi ingat kamera pentax ku yg lenyap di Indonesia..(camera 35 mm yg terakhir aku punyai, sampai saat ini blitz nya dan extended lense nya masih tak simpen…)

  7. aku pgn punya kamera..yg sesuai dgn kemampuan mata manusia dlm menangkap….

  8. bisa jadi khayalan2 itu bisa terwujud di masa depan *wew, serius bahasanya😀 * wah sepertinya saya bisa blajar ama mas dony nih…kapan ya bisa hunting bareng😀

  9. Kalau terkait resolusi, tergantung format kameraanya:
    * 35mm film VS 6 megapixels digital, jelas menang digital
    * large format film VS 6 megapixels digital, jelas menang filmnya

    Lebih lanjut:
    http://www.kenrockwell.com/tech/filmdig.htm

  10. Mas mas….

    Foto sampeyan di flickr underexposured, kamera Nikon dioptimize untuk penggunaan dengan lensa Nikon. Kalo sampeyan pakai lensa Tamron, cb exposure compensationnya distel ke +0.3ev atau +0.7ev. Dijamin fotonya jadi lebih crisp.

    Trus kalau mau gambar langit/air lebih saturated birunya atau ngilangin pantulan di kaca/air, cb pakai filter yang circular polarizer.

    Ttg Fuji S1 Pro nya. Sorry banget, tadi sore tak cek lagi ternyata sudah dibeli orang duluan, padahal 2 jam sebelumnya masih ada.

  11. These photos were taken using the same camera as you used in your flickr:
    http://flickr.com/photos/22190339@N08/

    If those images look brighter on your screen, it could be because you’re using a CRT monitor. The brightness of those images were optimised to be viewed on an LCD monitor.

    The lens I used was a Nikon VR 24-120mm.

  12. Aku udah lihat jepretannya temen sampeyan. Foto yang siang tonenya oke banget. Untuk yang foto malam hari agak oversaturated (atau mungkin white balancenya yang agak kurang pas), jadi skin tonenya jadi kurang natural gitu.

  13. wah kok jadi kaya “FN” neh. abis pada ngomentarin foto karya orang seh.
    huahahahaha

  14. Wah jd tnyt si tukang nggunem itu kamera baru…
    Kerja sambilan dong ….😀

  15. utk itulah manusia senantiasa mengupdate teknologi..

  16. kalau lihat camera DSLR saya jadi ngiler hihihi.. pengin punya tapi apa daya tabungan blum sampai

  17. leh pinjem kameranya?
    😀

  18. Aku ada kamera manual, merek nikon, keren punya. Mau beli?

  19. Tiba-tiba fotografer jadi banyak …

  20. @ Herman Sam – Termasuk sing kelas karbitan koyo aku iki🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: