9 Komentar

Sarimi dan Wiranto

Bagaimana menyikapi ajakan Wiranto?

Saat saya menyebut “sarimi” mungkin anda langsung teringat pada salah satu produk mi instan, tapi bukan itu yang saya maksud. Sarimi (33) adalah seseorang, dia dan keluarganya hanya bisa makan nasi aking, karena harga beras dirasa terlalu mahal, sedangkan Saroni (35) suaminya tak lagi bekerja. Mereka adalah potret keluarga miskin Indonesia.

Kisah tentang Sarimi dan keluarganya ini ditulis di Kompas pada 9 Februari 2006, saya juga belum membacanya secara langsung, hanya mendapati cuplikannya dari space iklan Kompas (15/11) yang ditempati oleh Wiranto, berbagi ruang dengan surat pembaca. Individu yang bisa memasang iklan di harian nasional sebesar Kompas hingga setengah halaman tentu bukan orang sembarangan, dan hanya orang sekelas Wiranto yang bisa. Kalau iklan itu atas nama korporasi, apalagi perusahaan rokok, kita tak perlu nggumun.

Melalui iklan ini, Wiranto mengajak kita untuk bergabung dalam sebuah gerakan moral dengan nama Bersatu Sejahterakan Rakyat, yang meliputi tiga hal: ciptakan 10 juta lapangan kerja, murahkan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, tumbuhkan ekonomi melalui pemerintahan yang kuat dan tegas. Sungguh ajakan yang begitu mulia, bukan? Sayangnya, iklan ini tak memberikan cara-cara bagaimana kita mengiyakan ajakan Wiranto tersebut, tak ada formulir yang bisa diisi, nomor telepon, alamat pos surat, email, atau website yang bisa dituju, apalagi hiperlink – teknologi media cetak memang tak sampai kesitu ding. Dalam hal ini, iklan dari Wiranto memang kalah canggih dengan iklannya paranormal sakti.

“Lalu apa maksud Wiranto dengan memasang iklan ini?” Ya, itu tadi mengajak kita semua untuk ikut dalam gerakan mulia. “Kok musti pake foto dirinya segala?” Kan yang pasang iklan dia sendiri, terserah dia dong mau pasang foto dirinya atau foto mbahnya, kalau sampeyan juga mau nampang di setengah halaman Kompas ya tinggal bayar space-nya, asal jangan di bagian obituari.

“Tapi, kok iklannya itu mirip kampanye capres sih?” Huusss, sudah dibilang itu tadi ajakan untuk melakukan sebuah gerakan moral kok, tentu lain dong dengan ajakan yang berbau politik, kalau ajakan politik pasti bunyinya: Ayo, coblos gambar saya! Bla bla bla. Lagi pula saat ini masih terlalu ‘pagi’ untuk ngomongin pemilu, mumpung masih pagi mendingan kita ngopi-ngopi dulu, sembari nonton infotainment yang lebih juicy ketimbang obrolan politik, siapa tahu ada kelanjutan kisah Ahmad Dhani dan Maia.

“Atau mungkin Wiranto pengen menjadi sosok Dewi Kunthi bagi negeri ini, yang muncul untuk mengusir Sang Kala si pembawa bencana? “ Gimana sih, yang namanya Dewi ya jelas perempuan dong, Wiranto kan lelaki sejati, kalau Dewi Kunthi mungkin cocoknya untuk Megawati. “Kalo gitu, mungkin dia pengen jadi Kresna, titisan Betara Wisnu yang punya Kaca Lopian untuk menjawab semua masalah itu ya?” Bah, mana saya tahu, bung! Setahu saya, dia itu Jenderal purnawirawan dan pernah ikut nyalon presiden tapi gagal masuk final, cuman sampai semi-final saja.

“Jadi, gimana dong kita menyikapi ajakan Wiranto ini?” Itu sih terserah sampeyan, lha wong saya sendiri lagi sibuk nggarap skripsi, belum sempat menentukan sikap.

“Trus, gimana kira-kira nasib Sarimi dan Saroni sekarang?” Lha mbuh ora weruh. Kita doakan saja semoga Sarimi dan Saroni, serta keluarga miskin lainnya di Indonesia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan lebih baik dan bisa makan dengan layak, minimal nasi putih dengan lauk secuil daging. Tapi, kalau sampeyan punya duit lebih, ya jangan cuman nyumbang doa doang, berbagilah sedikit dengan mereka.

“Wah, omongan anda yang terakhir itu kok seperti ceramah sih, lagi belajar jadi ustad ya?” Wooo, sontoloyo…

9 comments on “Sarimi dan Wiranto

  1. Gak ada istilah “terlalu pagi” di dunia politik… Wiranto pasang gambar wajahnya yang pas2an itu di Koran terbesar negeri ini tentu ada maksudnya…apalagi kalo bukan “nyicil” menjaring simpati, ato minimal perhatian lah, dari masyarakat Indonesia…urusan orang2 yang memperhatikan iklan narsis itu nanti nyoblos gambar dirinya di Pilpres 2009 itu urusan belakangan…

    Yang jadi pertanyaan apakah si Sarimi yang makan nasi aking itu nanti bakal milih Wiranto apa nggak ya???

    Tapi tak kasih tau ya..pergerakan partainya Wiranto itu terbilang sangar lho Don, temen kita si Doell itu katanya pindah ke HANURA, dan itu katanya se-DPC partai lamanya direkrut semua…padahal aku udah berharap banyak dari cah kae dapat memperlancar skripsi saya tentang partai yang dia ikuti dulu…asem tenan to….

  2. ha ha.. post power syndrom. tokne wae…

  3. politik??? cuih… rakyat yang sengsara truz… mending pikirin sarimi ( ga pake M ya ?? ).. gimana caranya agar ga makan nasi aking truz.. huahaaa…. tul ga maz ganteng??

  4. Kasihan Wiranto..that’s my comment

  5. upaya pencitraan buat kepentingan 2009 nanti yaaa. Biarlah ia lakukan pencitraan itu, semua berpulang kepada masyarakat yang menilai. Tentu ini berlaku juga buat elit politik yang lain, siapapun, yang pasti dalam lubuk hati yang dalam masyarakat punya penilaian sendiri.

  6. Membangun image baik, welas asih, memperhatikan nasib wong cilik, dan mengayomi.. Pak Wiranto sedang mencitrakan diri sebagai politikus yang “berbaju sosial”. Biar bisa dapet simpatisan banyak. Naga-naganya do’i memang lagi menjalankan stategi untuk menyongsong pilpres 2009. Kaya’ si kangmas bilang, ga ada istilah terlalu pagi dalam poltik.

    Klo menurut saya sih, semakin lama alias semakin “pagi” para politikus membangun citra, tebar pesona ataupun apalah, kita masyarakat bisa semakin diuntungkan bila pinter2 memanfaatkan momentum ini. He3x.. Bagi2 beasiswa, sumbangan atau santunan yuuk mari diterima.. Toh, ntar kita2 mo milih siapa rak yo do’i ndak tahu to?! He3x..

    Btw, sopo jagomu mas?

  7. Apa iki sing diarani jaman kala bendu ya? srengenge-ne dicaplok Bethara Kala. Sik mas… Sang Kala pembawa bencana ki sopo? Kok nang ramalan Jayabaya ki sing disebut2 ya Kala…

  8. @ Ellyasa – Stuju, bung!Saya tunggu tulisan mendalam anda tentang hal ini.

    @ Lovelydee – Yang jadi calon siapa aja belum tahu, masak udah ditanya jagonya. Jago kluruk mungkin🙂

    @ Mufti AM – Sang Kala pembawa bencana ya Bathara Kala itu. Saya balik bertanya kepada sampeyan, siapakah Bethara Kala dalam panggung teater politik Indonesia? he he

  9. Hahahahah upaya pencitraan ya??
    apapun itu maksudnya, lihatlah bagaimana dia berusaha mencitrakan dirinya ..
    “Fotonya Bapak Wiranto dengan menopang dagu sambil tersenyum dikulum menatap gambar kemiskinan”

    BRAVO PAK WIRANTO!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: