21 Komentar

Yang Salah Merasa Benar


Lampu lalu lintas menyala hijau, sesuai dengan hapalan sewaktu TK dulu, hijau artinya boleh jalan. Saya pun menarik gas dari setang motor, tapi dari arah lain ada motor berlari kencang yang nekat menerobos lampu merah, si pelanggar ini justru membunyikan klakson panjang, meminta disediakan jalan untuknya.

Itu bukan pengalaman pertama bagi saya, tapi yang kesekian kalinya – tanpa mampu menyebut hitungan pasti. Tentu saja saya kesal dan menggerutu, sedangkan pengendara lain ada yang sampai misuh-misuh. Apakah perilaku melanggar seperti itu memang sudah menjadi watak banyak orang Indonesia, lalu kita menyebutnya “Indonesia banget”? Kalau saya jawab “iya”, pasti banyak orang di luar sana yang bakal protes, baik blogger maupun bukan. Yang salah justru merasa benar, itu tak cuma ada di jalanan, yang beginian juga ada di ruang-ruang partisi lainnya, dari menerobos antrian di tempat kakus umum, hingga gontok-gontokan beraroma politik.

Di jalan raya memang banyak orang pandir yang sak-sake memacu kendaraannya tanpa mau mempedulikan nasib pengguna jalan lainnya, ada baiknya kita – yang insyaallah masih waras ini – tak perlu ikut-ikutan. Namun, arus yang salah kadang lebih banyak pengikutnya, banyak teman lebih aman, padahal temannya itu gombal semua. Meski menjadi mayoritas, tapi semoga itu bukan alasan bagi pembenaran.

Banyak lampu merah kini sudah dilengkapi panel LED canggih yang menampilkan angka menghitung mundur, rasanya hanya akan menjadi barang mubazir saja kalau para pengguna jalan masih bermental melanggar aturan.

21 comments on “Yang Salah Merasa Benar

  1. Wah saya merasa terhormat bisa jadi yang pertama ngisi komen disini…sakjane pengen muni “Perrtamaaaaaxxx” ning ndak mbok jotosi..hehehe…

    Masalah berperilaku di jalan raya, kurang lebih itu bisa menjadi gambaran bagaimana orang2 itu sehari2nya…nampaknya mental untuk berperilaku tertib itu harus semakin ditingkatkan demi kemajuan negara ini…setidaknya dimulai dari diri sendiri aja dulu…

  2. intinya adala kesabaran.. jika sabar tak akan sampai terjadi hal sedemikian.. sebuah contoh kecil dalam kehidupan.. sabar dalam menekan pedal gas demi terciptanya sebuah keteraturan yang diharapkan…

  3. Contoh lain, waktu lampu baru aja jadi hijau, semua pada ga sabar pengen maju. Alhasil pada rame2 ngebunyiin klakson yg bisa bikin hati panas.
    Gak mikir apa ya, kalo kendaraan dari keadaan diam lalu bergerak lagi kan butuh waktu dan persiapan. Oper gigi, injak pedal, liat spion, nyalain sein kalo mo belok, lambai2 ama cewe kece di trotoar .. eh.. yg terakhir gak dink ! hehe..

    Ah.. sudahlah, rasanya capek mengkritik soal kedisiplinan di Indo *skeptis*

  4. Wah…di kota putra daerah saja sudah pake lampu merah canggih🙂
    Kedisiplinan harus dimulai dari diri sendiri, dan memang diperkuat sistem yang mengatur…
    Nahh ini cuma segelintir yang disiplin dan sistem yang mengatur pun cuman cari surat tilanggg..ya sudahhhh gak bisa klop!!

  5. Merampas hak orang lain itu pak namanya. Apa itu kali yah gambaran umum orang Indonesia yang bermental suka merampas hak orang lain? Terutama yang tinggi di atas sana.

  6. kendaraan terlalu banyak utk jalan yg segitu2 aja..

  7. hahahaa… tapi walaupun ada yang nylonong2 trafik lait yang pake nomor tetep penemuan jenius.. pasalnya secara psikologis lebih menenangkan. kalo orang nunggu rasanya ada kepastian.

  8. Udah salah, tapi tetep arogan itu orang mas.. Katanya kita, rakyat, gak suka klo pemerintah dan pemimpin pada arogan. Tapi koq ya, malah pada arogan sendiri gitu di jalanan..
    Tapi mungkin saja arogansinya itu ekspresi dari rasa takutnya. Takut ndhak selak konangan pak pulisi klo nrabas lampu merah. Hehehe…
    Oalahh…

  9. pokoke ra umum..aku sendiri kadang merasa gerah dengan prilaku mengemudi masyarakat kita..sering sakpenake dewe..nek ada yang ngebut, paling ta komentari..halah, paling belet beol piye !!

  10. Memang kesadaran harus bermula dari diri kita sendiri

  11. Ada dua hal menurut saya, pada level masyarakat adalah soal kesadara, sementara pada level pengawal kebijakan adalah tindakan yang tegas.

  12. kalo anda mengiyakan frase ‘Indonesia banget’, saya adalah orang pertama yang bakal protes. he2…
    ini bukan masalah Indonesia ato bukan.
    ini masalah kualitas masing2 dari diri kita sebagai manusia.
    apakah kita ini adalah sekedar ‘manusia’, ato ‘Manusia’, adalah diri kita sendiri yang berhak menentukan.

  13. indonesia gitu lho..

  14. ya susah..kalo mentalnya udah mental pelanggar…mmhhh…Ato mungkin keadaan stress sesorang..yg akhirnya udah males matuhin peraturan2 dijalan…

    yaahhh…ujungnya sih saran saya….kalo bawa kendaraan pribadi..yah sabar2 aja dijalan..bnyk orang mendadak sinting soalnya
    dimesir sini jg bgitu kok

  15. Durasi mundur trafik lait memang membantu..namun sudah menjadi kebiasaan “peraturan dibuat memang untuk di langgar” hehehe just kidding🙂

  16. LED canggih apa pejabatnya yg canggih cari peluang proyek

  17. @ Lintang Lanang – Saya tau kok sampeyan bakal protes, saya khan sudah baca tulisan sampeyan: Mengapa hanya hitam yang kau lihat?

    Saya lebih memilih menjadi ‘manusia’ saja, dibanding ‘Manusi’a, maklum tanggung jawabnya terlalu besar, apalagi untuk fakir seperti saya.

  18. menjadi ‘manusia’ atau ‘Manusia’ itu sepenuhnya hak pribadi kita. tapi bukan berarti ketika kita memilih menjadi ‘manusia’ terus dijadikan pembenaran & permakluman atas ‘kesalahan’ yang dilakukan.

    ‘lha saya kan manusia biasa… manusia itu tempatnya dosa dan lupa…. jadi wajar to kalo manusia khilaf…’, adalah kalimat yang seringkali disalahgunakan.
    seharusnya manusia bisa memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki (termasuk hati, otak, kekuatan fisik, dan semuanya) untuk mencapai sebuah ‘kebaikan’ yang lebih dari sebelumnya.

    ingat, yang membedakan manusia dengan spesies lainnya adalah logika.

    mari bersama2 mencoba untuk memperbaiki keadaan yang mungkin memang sudah terlalu parah. bukankah lebih baik mencoba (meski potensi kegagalan terlalu besar) daripada sekedar diam yang pasti tak akan membawa perubahan?

  19. Kuncinya adalah kewibawaan hukum. Hukum berfungsi untuk melindungi dan mengatur agar masyarakat bisa hidup berdampingan secara fair dan merasa aman. Selama wibawa hukum belum bisa ditegakkan, maka hukum rimba-lah yang berlaku. Dalam hukum hukum rimba ya isinya seperti itu: siapa kuat menang, waton suloyo, waton ngeyel, waton nyangkem, becak tanpo pelek…dst)

  20. hidup indonesia!
    tapi memang ada beberapa perempatan yang — anehnya — oleh polisi diiznkan untuk diterabas cepat padahal lampu masih merah. Misalnya di perempatan Lebakbulus – Pondok nIndah, Jakarta😀

  21. […] sesak, koboi penunggang kuda besi tak mau antri, trotoar jadi opsi untuk dilintasi. Di jalanan, yang salah bisa merasa benar. Salah pun tak jadi masalah, karena yang bikin salah melakukannya berjamaah, jadi merasa aman […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: