17 Komentar

Mobil dan Kesuksesan


Saat lebaran lalu, saya melintas di depan rumah seorang mantan Lurah. Halaman rumahnya yang tak seberapa luas dipenuhi dengan tujuh buah mobil, tak ada lagi yang tersisa kecuali jalan setapak akses menuju rumah. Anak-anaknya yang bekerja di Jakarta pulang kampung dengan membawa keluarganya masing-masing, dan mobil adalah pilihan alat transportasi yang nyaman untuk mengangkut satu keluarga.

“Wah, pasti anak-anaknya sukses semua di Jakarta”, sebuah asumsi yang hadir begitu saja di benak saya hanya dengan melihat banyaknya mobil yang terparkir di halaman rumah. Ini sekedar asumsi saja, dan saya tidak perlu berlagak menjadi wartawan untuk menanyakan apa pekerjaan anak-anaknya di Jakarta dan berapa penghasilan mereka per bulan.

Di Indonesia, tolok ukur kesuksesan bisa dilihat dari ‘sudah mampukah dia membeli mobil’ dan ‘berapa mobil yang dia punya’. ‘Sudah memiliki’ dan ‘belum memiliki’, keduanya berbeda dan berdampak pada stigma yang melekat pada masing-masing individu. Anggapan sederhananya, yang sudah punya mobil tentu lebih kaya dibanding yang tidak punya mobil, yang sudah punya dua biji tentu lebih berduit ketimbang yang baru punya satu. Dalam konteks Indonesia, saya rasa anggapan ini selalu benar adanya, atau minimal dapat dibenarkan.

Naik BMW keluaran terbaru tentu lebih kece ketimbang naik Suzuki Carry, fungsi keduanya sama, tetapi merek dan harga mobil seolah mempengaruhi strata sosial dan ekonomi pemiliknya. Ini menjelaskan bahwa mobil selain sebagai alat transportasi, sekaligus juga bisa merambah pada makna lainnya, seperti simbol kesuksesan dan prestise. Sama halnya ketika pesawat televisi awal kali dikenal di Indonesia, fungsinya tak cuma sebagai media hiburan dan informasi, tapi juga mendongkrak gengsi.

Memiliki mobil tak melulu soal kebutuhan akan alat transportasi. Kalau saja angkutan umum di Indonesia sudah bagus, minimal senyaman Trans Jakarta, saya kok tetap tidak yakin penggunaan mobil pribadi bisa dikurangi. Orang kaya di negeri ini masih bertinggi hati untuk berkendaraan umum. Kalau sudah begitu, mobil telah terpisah dengan fungsi dasarnya, yakni memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Makna ganda mobil, akan selalu “membebani” pemiliknya.

Makna ganda ini pula yang dibawa oleh orang-orang Jakarta saat mudik menggunakan mobil ke kampung halamannya. Meskipun tak semuanya berniat pamer mobil, tapi orang kampung tetap menganggap mobil sebagai sebuah simbolisasi kesuksesan di kota besar. Pandangan tersebut mungkin belum berubah saat orang kampung itu sudah menjadi bagian dari masyarakat kota – masyarakat yang katanya urban dan kosmopolit.

Di tengah rasa sungkan untuk menyoal kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial yang masih tinggi di negeri ini, mobil-mobil kelas premium justru makin banyak wira-wiri di jalanan Indonesia, khususnya Jakarta. Di acara otomotif televisi, saya pernah lihat mobil-mobil Ferrari berkonvoi ria di jalanan Ibu Kota. Katanya Jakarta itu sering macet, tapi Ferrari tetap saja dibeli. Ah, paling dia cuman bisa ngebut di tol, kalau perlu menyewa Sentul untuk balapan sendirian, toh dia banyak duit. Saat kecepatannya tak mampu dipamerkan di jalanan umum, maka wujud Ferrari itupun tetap bisa dipamerkan di muka umum, bahkan saat diparkir di pinggir jalan. Sebuah harga mahal yang musti dibayar agar bisa dibilang “bergengsi”.

Mobil sebagai alat transportasi, dan mobil sebagai pengangkat citra diri, keduanya selalu berada dalam posisi tawar-menawar.

Ilustrasi: data2.blog.de

17 comments on “Mobil dan Kesuksesan

  1. aku kemaren beli mobil2an lho mas..itu bisa ngangkat citra diri ga ya? aku beli truk, beli bis..tapi ya itu..cuma mobil-mobilan..

  2. ckckckckckck … mantan Lurah aja bisa segitu tajirnya, mpe anak2nya pada sukses… gimana mantan presiden yah????

  3. mobil buat orang indonesia itu adalah indikator kesuksesan. bedanya sama bule, mereka beli mobil karena butuh, kalo orang sini beli mobil karena gengsi. contoh paling gampang lo liat aja pimp my ride, walau ada tikus, bangkai binatang en kotornya naudzubillah, mereka tetep aja make mobil itu. beda kan sama orang indonesia yang 2-3 bulan gonta-ganti mobil mulu?

    jangan salah juga, mate. Trans Jakarta tu udah bobrok sekarang.beberapa haltenya lebih mirip sarang gangster. fasilitas penunjang juga udah banyak yang rusak. sopirnya ugal-ugalan. paling taun depan udah mulai ilang tu busway.

  4. jadi kalau naik becak itu tidak bergengsi ya mas..

  5. Tapi orang2 yang punya kendaraan pribadi (mobil maupun motor) tidak bisa disalahkan lho mas. Memang ada yg beli mobil buat simbol status, tapi sebagian besar memiliki mobil karena memang tuntutan mobilitas yang tidak bisa dipenuhi dengan fasilitas public transport yang ada.

    Masalahnya public transport yang murah di Indonesia masih sangat minim. Misalnya di Surabaya, naik angkot merupakan alternatif yang lebih mahal , sekali naik bisa 3rb – 4rb. Itupun masih berlipat jika mesti ganti trayek lagi sebelum sampai lokasi tujuan. Jelas, bagi saya lebih murah naik motor. 3 hari cuma habis 10 rb.

    Beda dengan negara tetangga kita Singapore yang kalo kemana-mana bisa naik MRT. Cepat,nyaman, bebas polusi dan tarifnya terjangkau.

    Mungkin bila nanti negara kita sudah bisa punya public transport yang oke, penggunaan kendaraan pribadi bisa berkurang. Kapan kah itu ? Saya pun hanya bisa bermimpi..😀

  6. Setuju komentar diatas, btw klo saya naik innopah mengangkat status saya gak ya … hehehehe

  7. Mas Doni, itulah yang saya kira punya andil paling besar penyebab kemacetan di Indonesia. Semua orang pengen “diakui” dalam masyarakat, salah satu caranya ya punya mobil.
    Udah tau jalanan macet dan bakal sering telat ke kantor kalo naik mobil pribadi, tapi tetep aja nekat beli mobil.
    Udah tau bensin mahal dan jalanan gak memungkinkan buat maksimalin kecepatan mobil, tetep aja beli mobil built up ber-cc besar yang boros BBM. Karena apa? yap, persis seperti yang dikatakan mas Doni tadi, karena semua orang butuh untuk mencitrakan dirinya di tengah2 masyarakat. Seorang Bob Sadino gak mungkin kan naik carry?
    Lha kalo mas Doni sendiri mencitrakan diri melalui apa?

  8. don, mungkin ada baiknya kalo kita mulai menghilangkan stereotip yang acapkali kita lekatkan pada sesuatu. jangan hanya karena tingkah segelintir ‘orang Indonesia’ kamu terus menganggap semua orang Indonesia ‘pasti’ melakukan hal yang sama. itu sama saja kamu nganggep orang batak itu tegas, orang solo itu lembut, orang jepang itu pinter, orang cina itu pelit, dsb.
    semua itu tergantung pribadi masing2 don.. (nyatane kowe wong solo yo ra lembut… he2…)
    ketika mereka memilih berdasarkan fashion atau function, seketika itu juga maka kita bisa melihat dengan jelas kapasitas pribadinya… dan otaknya !!!

  9. di sini orang punya mobil karena memang butuh bukan karena gengsi karena kalau bicara ttg gengsi orang2 sini gengsinya “NOL BESAR”
    mungkin karena semua orang dianggap dan diakui haknya di sini, jadi hal yg lumrah kalau tukang bangunan dan petani di sini mobilnya mercedes.

    hebat ya org kita ada yg pakai ferrari, berarti kaya sekali dia ya, tapi apa nggak miris ya, naik ferrari di sana ? maksudnya dgn lingkungan di sekitarnya ?

    Salam kenal kembali, makasih ya dah mampir di blogku🙂

  10. @ Adekjaya. Meskipun cuman mobil plastik atau mobil-mobilan jelas itu juga bisa mempengaruhi citra diri sampeyan. Paling tidak itu membentuk citra sampeyan sebagai orang dewasa yang masih berjiwa kanak-kanak, halaaah.

    @ ichaAwe. Jangankan anak mantan presiden, cucu mantan presiden aja dengan enteng hati berani pake BMW X5 untuk menabrak gerbang rumah istri muda bapaknya. Tau khan siapa?

    @ koboi urban. Tumben lo sependapat ma gw (sok jakarte nih gw). Iya, di negeri barat banyak anak mudah yang masih kuliah rela menabung untuk beli mobil dengan kocek mereka sendiri, meskipun cuman bisa buat beli mobil rongsokan, tapi itu karena mereka bener-bener butuh. Klo di kampus sampeyan kayaknya cuman buat ngeceng doang sembari kuliah.
    Ngurus Trans Jakarta aja nggak becus, kok malah mau bikin monorail. Oya, kabarnya malah subway segera menyusul?

    @ kw. Nek becake ditarik Mercy, mungkin bergengsi kang.

    @ Jiewa. Iya, lha itu Trans Jakarta menurut saya sudah lumayan nyaman, tapi kok mobil pribadi nggak berkurang ya? Padahal Trans Jakarta bermaksud untuk menekan jumlah kendaraan pribadi yang lalu lalang di jalanan ibu kota. Jakarta mo punya monorail katanya, kita liat aja ntar efektivitasnya.
    Saya pernah liat orang naik motor dengan banyak muatan, ditambah bronjong pula di jog belakang. Ada ayah, ibu, dan dua anak kecil bisa terangkut dengan satu motor bebek. Menurut saya merekalah yang sebenarnya butuh mobil, tapi apa daya tangan terlalu pendek tuk menjangkau langit. Motor memang semacam solusi dari alat transportasi di Indonesia, selain irit, kredit motor juga gampang n murah.

    @ Djoko. Naik kijang innova jelas lebih kece ketimbang naik kijang kotak tahun ’80 tho, mas?

    @ Joell. Halah, kok dengaren nyeluk kulo “mas” tho, dik sigit? Kulo tumut sampeyan mawon deh ah.
    Bob Sadino memang nggak naik Carry, tapi meski berlabel konglomerat, dia kemana-mana masih aja pake celana pendek rombengan, macam wong kere! Orang kaya memang nganeh-nganehi.
    Saya mencitrakan diri melalui blog, hehe sok koyo seleb blog ae.

    @ lintang lanang. Yang namanya stigma itu memang susah dihilangkan, kawan. Wah, aku ki jane lembut, tapi sisi kelembutan itu cuman muncul kalo sedang berhadapan dengan wanita saja, hehehe. Fashion is fiction, mind that!

    @Ely Meyer. Sejahtera sekali ya tukang bangunan dan petani di sana…
    Mungkin sudah diasuransikan all risk, jadi nggak perlu miris

  11. kalau saya masih naik angkot hehehe… salam kenal mas😀

  12. Terkadang saya juga pengin punya BMW, namun kemudian bertanya lagi, buat apa bmw klo naek motor udah cukup ?

    Tapi terkadang ada juga orang yang emg pengin punya BMW karena mungkin punya duit buat membelinya, untuk memenuhi kebutuhannya dan segala macem.

    Bener kata lintang lanang, semua itu tergantung pribadi masing2x. Mungkin kalo saya jadi anak mantan lurah itu juga bakalan punya mobil walaupun seperti yang saya blg tadi, naek motor sebenernya sudah cukup.

  13. mobil? mimpi untuk punya saja tidak. terlalu mahal…

  14. don, wong jerman duwe mercy ki normal, meski kuwi petani or tukang bangunan, lha klo mereka naek Timor baru dianggap prestise / mobil impor

  15. Perlengkapan wajib saat mudik.
    1. Mobil bagus (rental)
    2. HP anyar (tapi nggak semua fitur termanfaatkan, apalagi kalau bayar)

  16. Jika seseorang mencitrakan diri dengan mobil, rumah, atau kepemilikan benda apapun, hmmmmm rasanya dia mencitrakan dirinya jelas sekali sebagai budak dari nafsu duniawi.
    (-.-)

    *seolah-olah merenung..

  17. mas2 sekalian klo pny duit itu wajib hukumnya pny mobil lha wong cari duit susah2 kan boleh aja dinikmati , yg penting sering2 sumbang kepanti jompo atau orang susah lainnya klo ada kemampuan bener gak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: