10 Komentar

Blogger di Tengah Masyarakat Tidak Membaca

Orang yang merdeka boleh memilih diantara beberapa pilihan. Dan memutuskan untuk ngeblog atau tidak adalah juga soal pilihan, masing-masing punya alasannya sendiri. Saya sendiri bertanya-tanya, pantaskah saya memiliki sebuah blog dan mengisinya dengan tulisan-tulisan dangkal, lalu sekonyong disebut blogger? Lalu apa untungnya ngeblog, jika beberapa orang masih menganggapnya membuang waktu? Sekali lagi ini adalah soal pilihan, bung!

Saya tak pernah yakin bahwa tulisan-tulisan saya di blog bakal dibaca orang. Saya mencoba realistis, di Indonesia yang belum lama lepas dari buta aksara ini, membaca masih dianggap berat untuk dijadikan suatu kebiasaan. Membaca yang saya maksud adalah membaca sebagai sarana bagi pembelajaran diri, kalau perlu perubahan pola berpikir sekalian. Orang yang menenteng KOMPAS belum tentu membaca straight news, opini, dan Humaniora, karena bisa jadi yang dia baca cuma skor sepakbola, jadwal acara televisi, atau bahkan obituari.

Menulis di blog dengan tema apapun itu harusnya dibarengi dengan kebiasaan membaca, karena tanpa membaca akan menjadikan tulisan terasa kering. You are what you read, begitu bunyi suatu kutipan. Dengan makin banyaknya orang membangun blog, semoga makin banyak pula orang di negeri ini yang gemar membaca. Maraknya budaya ngeblog tentu menjadi hal yang luar biasa di tengah masyarakat yang tidak membaca. Banyak blog bermunculan tapi kalau tanpa pembaca, tentu tiada guna dan memang benar hanya membuang waktu saja. Kalau sudah begitu, sosok blogger malah teralienasi dalam masyarakat yang tak membaca itu sendiri.

Dari tulisan curahan hati di blog sekelas Friendster, hingga blog yang posting-nya lebih mirip tesis dan disertasi, semuanya berjalan beriringan. Pembaca yang budiman boleh menentukan mana yang bagus menarik, dan mana yang kacangan. Blog mana yang ingin dibaca, dan mana yang tidak, itu tergantung selera pembaca. Siapa saja yang membaca tulisan kita di blog, kita tak pernah tau, kecuali dia meninggalkan komentarnya, tapi toh berkomentar tak ada yang mewajibkan.

Kepuasan seorang blogger adalah saat posting atau tulisannya dibaca dan terbaca oleh orang lain, seperti halnya “didengar” yang lebih asyik ketimbang “mendengar”. Kalau ternyata suatu blog banyak dibaca orang dan begitu populer lalu bisa dibukukan, itu adalah rejeki dari Tuhan, yang jelas rejeki semacam ini tidak semua blogger bisa ketiban. Tentu karena tidak setiap blog pantas dibukukan.

Saya tidak bisa memprediksi apakah blog itu hanya sekedar tren semata atau justru menjadi sebuah awal gerakan menulis dan membaca di tengah masyarakat. Alasan saya ngeblog adalah ingin belajar menulis, menyalurkan uneg-uneg, dan membunuh lamunan. Meski beberapa orang menganggap ngeblog sebagai membuang waktu, tapi saya berharap alasan untuk tetap ngeblog bukanlah suatu pilihan yang keliru.

Dengan ngeblog, kita menjadi ada!

Ilustrasi: Getty Images

10 comments on “Blogger di Tengah Masyarakat Tidak Membaca

  1. Kita berpikir karena kita ada!
    Itu salah satu kata2 seorang filsuf yang aku suka banget!
    Dan itu amat sangat dibutuhkan untuk menulis suatu posting!
    Fenomena ini memang terjadi, aku sebenernya sie mau nulis masalah ini tapi sekali lagi karena aku lagi males nulis maka nggak jadi deh.
    Postingan kamu kali ini lebih bagus kalau dibahas secara deep.
    Well nggak muna, aku juga kadang demikian.
    Dateng ke blog orang, baca belum tentu!
    Kadang dari judulnya aja udah jelas ketauan isinya, jadi tinggal komen!
    Kalau judulnya okeh dan menarik, aku pasti baca semuanya.
    Lalu tinggal komen.
    Kadang kalau nggak sesuai selera langsung aja deh ngibrit!
    BTW, sebenernya malas baca bukan karena kita suka nggak suka dengan postingannya.
    Coba tilik dari segi koneksi internet!
    Seberapa banyak yang pakai speedy atau d-net dan seberapa banyak yang buka lewat warnet dan hal ini memaksa kita untuk menulis singkat, to the point sampai kadang terasa garing.
    Aku ngeblog juga untuk nyalurin pikiran dan uneg2 serta cinta matiku pada nulis.
    Tapi kadang ada yang memang mentah banget, nggak worthit and dangkal banget!
    Kadang ada yang suka dan misuh2 tentang postinganku itu.
    Well memang buat aku, aku lebih suka orang membaca semuanya sampai habis dan tidak meninggalkan komen yang dalam dunia blg kita kenal sebagai “sampah”
    Tapi aku menghargai mereka yang komen karena konsep blog itu adalah jurnalisme masyarakat.
    Mungkin kemalasan itu akan berakhir ketika semua faktor yang ada berkaitan dengan blog menunjang.
    Aku optimis blogger indonesia bukang pintar berbicara tapi juga punya isi.

    *PANJANG BANGET YA KOMENKU?*

  2. post keren man, gw setuju tuh..
    gw rada kesentil juga mengingat dulu pas awal2nulis lagi di blog yang sekarang gw rada males baca punya orang dan dengan egoisnya ngurus punya sendiri.. hehe, well at least I’m trying to read my friends’ blogs now.. hehe..

    posting loe keren2 kok, jangan mrendah kawan, hehe, masa dibilang kacangan..

    cuma gw kadang menyayangkan blog yang isinya cuma copy paste dari artikel lain, gak menyalahkan sih, cuma well sayang aja.. setuju gak?

  3. Saya heran, kenapa akhir2 ini topik ttg “why blogging” lagi HOT. Apakah para blogger sedang jenuh lalu mengintrospeksi diri ? Atau sebaliknya, blogging kini semakin mendapat pengakuan sbg the new media ?

    Menurut saya, ga ada yg namanya blog kacangan. Tiap orang punya tujuan ngeblog yg berbeda-beda. Ini ada hubungannya dgn kepuasan, bagi tiap blogger ukuran kepuasan itu berbeda-beda. Misal, ada yg ngeblog hanya untuk dirinya sendiri.. tidak butuh dibaca & diberi komen. Dan ngeblog menjadi kepuasan baginya karena bisa mencurahkan unek2 yg ada dikepala, just as simple as it. No need of publicity.

  4. Doni my man…ini toh posingan yang kamu ceritain belom mateng kemaren. Kok sepertinya sampeyan kaya kehilangan semangat ngeblog gitu, saya aja yang blognya bener2 blog sampah masih tetep semangat nambahin timbunan2 sampah di blog saya…

    Lha sampeyan bayangken coba, kriteria2 blog kacangan menurut komentar2 di postingan ini semua dapat ditemukan di blog saya…

    Kalo gitu mari kita berlomba-lomba untuk meraih gelar blog kacangan, hahaha…

  5. Ngeblog bagiku adalah sebagai sarana untuk mengasah diri. Mengasah apa? Mengasah pikiran untuk membuat tulisan2, baik itu artikel, ungkapan hati atau apapun jua. Yah, daripada dikirim ke media juga tak laku atau hanya sekedar dicatat dan disimpan di buku, mending diposting aja khan. Saya yakin, segala sesuatu pasti ada manfaatnya, termasuk nge-blog…

  6. bro, mo ngomong blog kacangan, ato kelas durianan (buah yang harganya lebih mahal)kita ga bisa menilai. semua tergantung niat. kalo sampean bikin blog buat curhat apa mo dibilang ? mo menghujat ? apa mo dibilang kalo buat emang buat menghujat. saya pingin tanya sama anda sebagai orang yang menilai sebuah blog itu kacangan seperti yang anda link pada punya anda sendiri ato kelas diatasnya ato apalah, sebenrnya apa definisi blog ? blog itu ada n difasilitaskan buat apa ? ada gak aturan yang membatasi tulisan dan isi blog ? makasih, kapan2 rokoke tak ijoli yen kwe wis ra bathen jemani hehehe !!

  7. Jello Biafra pernah berkata : “don’t hate the media, do the media”.

    Blog merupakan sebuah media dengan filosofi Do It Yourself. makanya, contentnya bisa sangat beragam, karena para blogger punya latar belakang pendidikan, sosio kultural dan profesi yang bisa menentukan isi posting. Dalam blog ada demokratisasi. siapapun boleh menulis. mau berkualitas atau tidak isi sebuah posting, kita bisa melihat, man behind the gun – nya saja, iya to? sebenarnya saya juga agak malas kalau membaca posting di sebuah blog yang isinya sudah ada di media massa mainstream. lha wong tinggal beli koran seribu aja, kita bisa dapat benyak sekali informasi. Iya to ? Trus mengenai posting, bukan berati yang menjadi selebritis blog itu postingannya selalu bagus. kadang dari hal yang sepele, remeh temeh, comment-nya banyak. menurut saya, jumlah Comment bukan parameter yang bnisa dijadikan tolok ukur kualitas sebuah posting. kalo saya, ikut2an jadi blogger aja lah, baru pemula. Kalo menurut Stuart hall, pembaca itu tidak pasif. Dia juga memiliki daya apresiasi, tentu saja mengingat unsur proximity yang akan dikontekskannya dengan lingkungan terdekatnya. Hidup blogger Indonesia, hell yeah..

  8. nge-blog = onani.

  9. Terima kasih saya haturkan kepada anda semua yang telah berkomentar untuk posting ini. Benar sekali apa yang dikatakan oleh evelyn (komentar paling panjang di blog ini), bahwa posting ini kurang deep. Namun, komentar dari anda semua telah menjadikan posting ini semakin kaya dan menutup kekurangan yang ada.
    Terima kasih…Teruslah Ngeblog!

  10. Nggak ada tuh blog kacangan atau bagus. Itu khan masalah gaya bahasa penyampaian. Bukankah yang penting kontent. Ada omongan Wimar Witoelar yang menyatakan blog orang Indonesia berbeda dengan blog Malaysia / Singapore. Mereka cenderung INFORMATIF dan FAKTA sedang, kita cenderung REAKTIF, AKSI dan WACANA. Dari pendapat disitu sudah terlihat bahwa, mestinya kita bangga mempunyai karakteristik budaya ngeblog yang unik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: