11 Komentar

Kuis Ramadan Identik Dengan Judi?

Kuis di televisi sekarang ini memang semakin menggiurkan hadiahnya. Saat Family 100 AN TV di tahun ‘90an memberikan hadiah sebesar seratus juta rupiah, masyarakat kala itu sudah menganggapnya luar biasa dan berdecak kagum. Lalu bandingkan dengan kuis-kuis masa kini seperti Super Deal dan Deal or No Deal yang mampu memberikan hadiah berupa uang sampai dengan 2 milyar!

Selama Ramadan ini, banyak pula kuis-kuis yang bertebaran di berbagai jenis program, dan beberapa kuis Ramadan itu telah mengalami pergeseran, baik dari segi jumlah uang yang dimenangkan maupun tata cara “bermainnya”. Dilihat dari hadiahnya, tentu hadiah yang diberikan menjadi lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya, hadiah berupa paket umroh atau sepeda motor adalah hal lumrah.

Dari segi cara dan aturan main pun berbeda. Dulu hanya ada satu cara konvensional, pihak penyelenggara kuis – dalam hal ini stasiun televisi – membuka line telepon terbuka untuk siapa saja yang tertarik untuk ikut. Sehingga siapa yang paling cepat memencet nomor telepon dan bisa menembus padatnya saluran masuk, lalu bisa menjawab pertanyaan adalah orang yang berhak mendapat hadiah.

Sistem semacam itu sudah mulai berubah, ada cara baru yang mengharuskan calon peserta kuis untuk terlebih dahulu mengirim SMS registrasi kepada pihak penyelenggara dan kemudian mendapatkan nomor PIN. Nah, nomor PIN inilah yang kemudian akan diacak oleh pihak penyelenggara untuk mencari peserta yang beruntung dan akan dihubungi. Beberapa program acara selama Bulan Ramadan yang mengadakan kuis dengan sistem seperti itu, antara lain Stasiun Ramadan RCTI, Kuis PPT SCTV, dan Komedi Putar TPI.

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menilai kuis Ramadan yang menggunakan sistem semacam itu, identik dengan judi yang diharamkan dalam Islam. Tarif SMS premium yang mencapai 1000 rupiah untuk sekali kirim bisa dianggap sebagai pemasukan bagi pihak penyelenggara, dan kemudian hadiah bagi peserta kuis diambil dari sebagian uang yang masuk ke pihak penyelenggara. 1000 rupiah yang dikeluarkan oleh peserta bisa dianggap sebagai uang taruhan.

Itung-itungannya adalah, semisal biaya pengiriman satu SMS mencapai 250 rupiah, sedangkan sisanya sebesar 750 rupiah dibagi dua antara pihak penyelenggara dan provider seluler. Jadi pihak penyelenggara mendapat pemasukan 375 rupiah per registrasi SMS, seandainya ada 3 juta orang mengirim SMS registrasi, berarti 1,125 Milyar masuk ke “kantong” penyelenggara. Angka sebanyak itu tentu lebih dari cukup untuk sekedar menyediakan hadiah-hadiah berupa paket umroh, kendaraan roda dua, atau bahkan mobil untuk setiap satu kali penyelenggaraan kuis.

Pihak penyelenggara kuis, yakni stasiun televisi dalam hal ini mempunyai posisi yang sama persis dengan bandar dadu. Dia mendapat uang taruhan dari para peserta, lalu melakukan pengocokan dadu, dan peserta yang jitu tebakannya akan mendapat sejumlah uang berlipat dari taruhan awal. Sejumlah uang yang dimenangi itu diambilkan dari kontribusi/taruhan peserta lainnya.

Dari 3 juta peserta yang mengikuti kuis tadi hanya 3-4 orang saja yang bisa mendapat hadiah, sedangkan berjuta peserta sisanya cuma bisa gigit jari. Lalu sisa uang yang masih terlalu banyak itu akan kembali menjadi milik penyelenggara, dimana-mana bandarlah yang selalu untung, dan pesertanya yang buntung.

Permainan judi yang dilarang dalam Islam itu juga berada di peringkat keempat dari mo-limo, lima hal terlarang dalam pemikiran Jawa: madat (mencandu narkoba), madon (main PSK atau perempuan), minum (nenggak air api), main (judi), maling (termasuk korupsi). Bulan Puasa harusnya menjadikan manusia semakin dekat kepada kebaikan dan menjauhi yang jelek, pun ini itu yang dilarang. Toh diluar Bulan Puasa, judi dan “rekan-rekannya” tetap saja dilarang oleh agama.

Posting ini hanya sekedar wacana saja, anggap saja sebagai posting yang sok tau, pembaca yang budiman boleh mengangguk setuju atau justru menggerutu tak setuju, keduanya bisa dituliskan di kotak komentar dan saling beradu. Yang jelas, saya bukan ahli urusan agama, apalagi seorang ustad, tentu masih jauh dari itu, swear dech!

Selamat Berpuasa…

11 comments on “Kuis Ramadan Identik Dengan Judi?

  1. untung saya ga pernah ikut

  2. Apa iya kaya gitu???

  3. Ah masa iya?
    Kenapa baru protes skrg nggak dari dulu2?

  4. semua yang ada di televisi sudah mengalami komodifikasi. semua menjadi barang dagangan. Logikanya begini : kalau program ratingnya tinggi, maka pengiklan pun berlomba, pasang iklan, duit masuk…kayak sistem dagang sapi ato mblanthik..TV sekarang tuh pemirsanya merasa dilibarkan, seolah tiada batas antara realitas yang ada di TV ato di dunia sesungguhnya. Yang jelas, apapun bisa jadi komoditas, mulai dari pornografi, berita kriminal sampai bulan ramadhan..huh, matikan TVmu

  5. mas donny saya mau kirim kaos yang dipesan, kemana alamatnya?
    ok ditunggu ya
    thx

  6. iya juga berdasarkan penjelasan diatas, klo di pikir2 emang “Judi”.
    Dan stasiun TV jadi bandarnya..

    ck ck ck.. prktek perjuadian memang bisa bergerak secara laten!
    Waspadalah!!Waspadalah!!

  7. semua tergantung pada kita2 juga khan, mau ditipu apa nggak?

  8. Kl yg ngirim/ikut quiz itu ikhlas gmn bozz, apakah jg bisa disebut maen judi??

  9. dari post comment aj,, saya baru ngeh, mahasiswa aja banyak yg ga sadar kalo ini adalah judi, palagi orang awam (jauh dari maksud merendahkan orang awam dan mahasiswa lhoo..),,

    Setelah ada bank syariat,,
    kita bikin Casino syariat,, gimana?

  10. Ya memang bener lah kuis SMS termasuk judi…

  11. jadinya hukum kuis SMS itu… H A R A M !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: