5 Komentar

Mengenalkan Kuping Dengan Musik Etnik

Banyak orang dengan jiwa kosong mencoba mencari penyembuhan melalui instant wisdom, misalnya melalui buku, yang sekali baca moga-moga langsung arif bijaksana. Banyak orang yang penat dengan carut marut suasana kota mencoba pergi ke gunung, ke laut, atau menyepi di sebuah pulau dengan harapan mendapat ketentraman sebuah suasana.

Kurang lebih perasaan seperti itulah yang saya dapat saat menyaksikan pertunjukan musik etnik Internasional (SIEM) di Benteng Vanstenberg Solo beberapa hari yang lalu. Kuping kita lama-kelamaan bisa jenuh juga jika terus-terusan dipakai untuk mendengarkan aliran-aliran musik mainstream yang menganut sistem jualan hingga ratusan ribu copy.

Mendatangi sebuah festival musik etnik juga berarti bersiap menemui bebunyian asing, aneh, dan baru dari alat musik yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. Jangan heran kalo “pembuat bunyi” handal seperti I Wayan Sadra bisa mencipta suara yang memekakkan telinga dan menyanyat hati dari gergaji kayu panjang yang digesek-gesek. Atau suara vokal aneh yang keluar dari synthesizer-nya Dwiki Darmawan dipadu dengan beragam alat musik dari seluruh nusantara.

Saya hanyalah salah satu orang yang datang ke festival musik etnik itu sebagai orang awam yang tidak tahu dan tidak pernah mendengarkan musik etnik dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri. Tapi justru disitulah bagusnya, festival semacam ini bisa menjadi ajang pembelajaran bagi masyarakat awam terhadap musik-musik etnik dan mengenal berbagai bebunyian baru. Tak hanya itu, kolaborasi budaya dalam bentuk musik pun bisa terjadi, Gilang Ramadhan yang banyak mengeksplorasi ritme musik Sunda bisa berkolaborasi dengan Kim Sanders asal Australia yang memainkan bag pipe, alat musik tradisional Bulgaria. Dan penari-penari asal Yunani tetap bisa membawakan tariannya meskipun diiringi oleh musik etnik asal Bengkulu.

Jika di Jakarta banyak anak muda berbondong-bondong mendatangi Java Jazz supaya dianggap keren, gaul, dan berselera musik tinggi karena mendengarkan jazz, maka saya sendiri tidak menampik anggapan bahwa mendatangi festival musik etnik supaya dianggap lebih berbudaya. Lagipula menjadi berbudaya itu lebih baik daripada tak berbudaya tho? Bedanya, Java Jazz hanya dimonopoli oleh orang-orang berduit yang mampu beli tiket seharga setengah juta rupiah dan menjadi ajang snobbish bagi golongan tertentu, sehingga musisi jalanan kelas koin cepek-an yang sebenarnya memahami musik jazz terpaksa tak memiliki kesempatan untuk ikut mengapresiasi.

Sedangkan SIEM memang dibuat untuk masyarakat dari berbagai lapisan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pengangguran, seniman, budayawan, walikota, bahkan tukang becak mempunyai kesempatan yang sama untuk mengenal musik etnik dari Indonesia maupun luar negeri. Event besar dan bagus yang memasukkan kata “International” ini bisa ditonton oleh semua orang secara gratis, tak berbayar, dan gratisan bukan berarti rombengan. Dengan kata lain, anda bisa dianggap lebih berbudaya tanpa membayar apa-apa. Ya, di Solo yang mengaku sebagai Kota Budaya, acara semacam festival musik etnik atau pertunjukan budaya lainnya patut diadakan secara rutin. Setuju mboten Pak Walikota?

Fotografi: Adia Prabowo

5 comments on “Mengenalkan Kuping Dengan Musik Etnik

  1. hi mas Dony Alfan, terimakasih telah mmapir ke blog saya. senang kenalan dengan anda.

    tentang kaos, khusus untuk mas dony alfian masih bisa. sudah saya pesankan kemarin. size L.

    seperti ‘petunjuk’ yang anda berikan, meskipun saya belum pernah ketemu dengan beliaunya paman tyo. (fotonya sih sudah)

    hanya saja ada perubahan warna kaos, yang berubah menjadi warna putih.

    silakan mas dony alfian mengirimkan alamat tujuan. begitu kaos jadi, langsung saya kirim pakai tiki.

    untuk SIEM nya, semoga tahun depan lebih meriah dan keren!

    salam

  2. SIEM…sayang sekali saya gak menyempatkan diri melihat pagelaran akbar pemkot solo itu. Gosipnya benteng Vestenberg yang dipake buat acara SIEM itu mau dijadiin hotel to Don? walah berarti jangan banyak berharap ada SIEM jilid 2 dong…kalopun ada dan diadain di lokasi lain kayaknya soulnya kurang dapet deh. Kemaren saya nggak ikutan dampyak-dampyak bareng anak2 nonton SIEM karena saya pikir saya bakalan buang-buang waktu sia2 liat pertunjukan itu, soalnya saya kurang mudeng dan pasti bakalan gak bisa menikmati musik2 yang disuguhkan, itu menurut saya lho…jadi saya ngendon aja di kos nggarap Bab I saya yang gak rampung2 itu…btw terimakasih udah berkunjung ke blog saya yang wagu itu…

  3. kw, oh iki sing pesem oke..kon ndang bayar wae jek…

    kon mbayar nganggo sate kere huahaha

  4. Saya suka kua etnika-nya om Jadug Ferianto, asyik lho…

  5. Musik tradisinal kita di Nusantara ini kaya dengan motif-motif melodi yang cantik, simple tapi apik, namun sayangnya tidak banyak dimanfaatkan oleh pemusik “modern” guna pengembangan “musik Indonesia”. Bagaimana memahami dan mengenal estetika musik tradisional itu? Tidak ada jalan lain kecuali memahami dan mengenali musik tradisional itu sebagaimana masyarakat pemiliknya. Artinya, mempelajari dan memahami musik tradisional itu secara holistik merangkum semua unsur-unsur kebudayaan mereka. Karena musik tradisional itu sendiri bagian yang integral dari seluruh aspek kehidupan mereka. Musik bagi mereka bukan terlepas dan berdiri sendiri, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari unsur-unsur budaya lainnya: pendekatannya adalah Musik sebagai Kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: