18 Komentar

Antara Orang Cina atau Chinese, dan Saya Yang Bukan Keduanya


Saya teringat kejadian beberapa saat yang lalu sewaktu saya membeli onderdil motor di sebuah toko milik orang Cina. Anak pemilik toko itu bertanya kepada saya mengenai onderdil yang saya maksud, dan di akhir pertanyaannya dia menambahkan dengan kata sapaan “koh” (dari kata engkoh). Entah kenapa dia menyapa saya dengan “koh”, mungkin dia kira saya juga orang Cina. Lucu, padahal saya adalah orang Jawa murni, ndeso lagi.

Sebenarnya kejadian tadi bukanlah yang pertama saya alami, sewaktu SMA (yang banyak murid Cina-nya) pas bubaran sekolah, dan keluar dari gerbang banyak tukang becak yang menawarkan jasanya kepada saya dengan sapaan “koh” pula. Mereka kira karena di sekolah itu banyak orang Cina, ditambah spesifikasi muka saya waktu itu mirip Cina, maka tukang becak itu berkesimpulan saya juga orang “keturunan”. Saya kena imbasnya.

Dari kejadian-kejadian tadi, saya jadi tertarik untuk menulis tentang “orang Cina” itu tadi. Setelah melakukan googling, akhirnya saya dapat juga data tentang sejarah orang Cina di Indonesia.

Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia, dikatakan bahwa istilah “Cina” berasal dari nama dinasti Chin yang berkuasa di Cina lebih dari dua ribu tahun. Namun bencana, kelaparan, dan perang telah memaksa orang-orang bangsa Chin untuk merantau ke seluruh dunia. Dan salah satu tujuan mereka adalah wilayah nusantara kita. Bangsa Chin yang merantau ini di Indonesia biasa disebut Cina Perantauan. Mereka juga dikenal sebagai bangsa yang penyebarannya paling tinggi ke berbagai belahan dunia.

Dan konon dulu di jaman penjajahan Belanda, orang Cina mendapat perlakuan yang lebih istimewa dibanding orang-orang pribumi. Mereka adalah etnis yang paling diperhitungkan oleh Belanda dalam menjalankan roda pemerintahan. Status istimewa ini mengakibatkan warga asli atau penduduk pribumi menjadi tidak suka kepada Cina perantauan ini. Bukan hanya itu, tetapi kolaborasi mereka dengan penjajah Belanda dan praktek dagang yang bercorak koneksi dan kolusi yang merugikan masyarakat pribumi, serta perilaku mereka sebagai pemadat dan penjudi membuat orang-orang Cina perantauan ini semakin tidak disukai. Akibatnya, istilah “Cina” menjadi stigma yang berkonotasi jelek yang berpengaruh terhadap semua orang Cina perantauan.

Pasca kerusuhan Mei ’98, orang Cina mulai bertambah kurang nyaman jika disebut “orang Cina”. Sapaan itu sudah kadung bercitra miring dan sangat traumatis. Sebagai gantinya mereka lebih memilih disapa chinese atau keturunan Tionghoa.

Sebenarnya ironis juga jika membuka kembali lembaran kerusuhan Mei itu, kenapa saat itu orang yang “ngakunya” pribumi sangat membenci orang Cina? Iri dan kecemburuan sosial biasa dianggap sebagai pemicunya. Selama ini orang Cina terkenal dengan kekayaan dan kemakmurannya, serta keuletannya dalam berdagang. Padahal di Singkawang banyak amoy yang melacur untuk cari makan.

Dan kalau mau jujur, banyak “unsur-unsur” ke-Cina-an yang telah masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Barang murah meriah (elektronik, mainan, pernak-pernik, dll) yang kita beli kebanyakan adalah bikinan Cina. Pun iPod yang dirakit di Cina. Contoh lain, makanan misalnya, bukankah kita sangat menyukai masakan Cina karena cocok dengan lidah Indonesia? Mulai dari mie, cap cay, fuyung hay, cakue, sampai bakpao. Tanpa disadari akhirnya kita telah menjadi “Cina” itu sendiri.

Jadi, apakah status orang Cina menjadi suatu hal yang musti diungkit-ungkit terus-menerus, jika orang Cina itu dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia? Saya pernah ketemu orang Cina yang sikap dan tutur bahasanya sangat nJawani, kromo inggil-nya bagus sekali. Padahal orang Jawa sendiri banyak yang sudah “hilang” Jawa-nya (wong Jowo ilang Jawane).

Satu hal lagi, saya suka wanita berwajah oriental. Lha terus ngopo?

PS: Posting ini sebenarnya hanyalah re-publish dari tulisan saya di blog sebelumnya, yang kini sudah “almarhum”. Terima kasih berlipat karena anda masih berkenan membacanya.

18 comments on “Antara Orang Cina atau Chinese, dan Saya Yang Bukan Keduanya

  1. Padahal orang Jawa sendiri banyak yang sudah “hilang” Jawa-nya (wong Jowo ilang Jawane).

    http://anangku.blogspot.com/2007/06/bahasa-jawa-punah-di-pulau-jawa.html

  2. Suka wanita berwajah oriental to pak? Pek bojo wae pak…! Podho, aku yo seneng.

  3. Mungkin mas Dony matanya sipit kali ?😀
    Tapi mungkin juga yg dimaksud ‘koh’ bukan ‘engkoh’, tapi ‘Koko’ alias kakak. Kalo dalam masyarakat Chinese (saya jg gak suka disebut Cina), walaupun tidak ada hubungan kekerabatan, lelaki yg lebih tua tak jarang dipanggil Koko. Sebagai suatu tanda hormat / respect.

  4. cerita lama bersemi kembali, hahaha…

    tapi bagus lah, di repost. Biar banyak orang baca, khususnya blogger2 baru. Seperti saya ini.
    Dan ngomong2 soal cina, besan saya cina. Anaknya jadi lucu2. Cina campur Jawa.

  5. @Anang, saya waktu itu googling, cari artikel ttg nasib bahasa Jawa sekarang, eh mengarah ke blog sampeyan.

    @M. Mufti, wah mana ada ya, perempuan cina yang mau sama saya…

    @Jie, makasih koreksinya. Berarti klo begitu saya dihormati sama orang cina yang jual onderdil tadi ya? Wah, sebuah kehormatan bagi saya.

    @ Tukang Ketik, berarti sebutannya Ci-Wa alias Cina Jawa, hehe

  6. “Satu hal lagi, saya suka wanita berwajah oriental”

    Halah….ada maunya ternyata. Tapi emg betul kok….track record anda sudah berbicara dengan sendirinya.

  7. wajah oriental emang menghanyutkan… (waduh..?) dadi hitachi yo rapopo bro, aku yo sering diceluk ngono..
    Hitachi = hitam tapi china😀

  8. wah orang jawa malah pada udah hilang ke-Jawa-annya malahan ke-arab-araban
    sudah lupa jati diri

  9. koh, putri cina tidak lepas dari sejarah tanah jawa. lebih jelasnya baca novel nya sindhunata – “putri Cina”

  10. wah gan itu fotonya orang yang dikenal pa gan

  11. hehhehe….tu artinya dia menghargai engko…ehhheheh kamu………hehheheheheh

  12. didarani wong cino, paling bar tangi turu.., dadine kriyip-kriyip…

    apapun bangsanya, tetep manusia

  13. gandheng tautane nuju nang tulisan lawas iki, yo wes, tak komentar nang kene…
    *aku seneng wong cino utawa turunan cina, kulitane biasane kuning resik, marai birahi*

  14. mungkiin anda sdkit gk mirip m orang cina..>>>><
    tp…klow mnurut q mh g dh..????
    mLhan MiMiRip ARTIzzZ..??HEHE
    tu Lho..si LEoNi…TAOE kn../L];L,

  15. BETUL..SAYA JUGA SUKA BOKEP CHINA WAKAKAKKAKA

  16. ada gak ya cowok pribumi yang suka sama cewek chinese?
    saya cewek chinese tapi kalau saya perhatikan sepertinya tidak ada yg suka (kalaupun ada paling cuman sedikit)

  17. malesi banget sih tentang kerusuhan mei 98 apalagi mall klender yang sekarang jadi angker.
    kamu kok dipanggil koh emangnya kamu ada keturunan thionghoa nya ya? *^_^* salam kenal ya

  18. hampir tiap hari saya di ledekin dgn sebutan Cina.wong sya jawa qo.jawa kalimantan sih..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: