3 Komentar

Saat Rokok Amerika Menyaru Sebagai Rokok Lokal

Exprience the richness of Marlboro’s world class tobaccos, blended with Indonesia’s finest cloves. The best mix of flavor: round & smooth, sweet & spicy.”

Kalimat itulah yang tertera di kemasan belakang rokok Marlboro Mix 9, rokok kretek filter di bawah merek Marlboro. Saat kali pertama melihat iklannya, saya langsung cari di warung dan toko, dan baru kemarin bisa saya dapatkan. Kenapa saya tertarik untuk merasakan rokok ini? Tak lain adalah karena brand Marlboro yang selama ini kental dan identik dengan cita rasa Amrik, lha ini kok malah bikin rokok kretek, lebih tepatnya filter kretek.

Begitu saya buka bungkusnya, aroma wangi khas rokok kretek langsung tercium, aromanya cukup nyegrak (menusuk hidung). Fisik batang rokoknya sendiri sama persis dengan Marlboro biasa, namun teksturnya terasa lebih padat, seperti halnya rokok kretek pada umumnya. Satu pack-nya berisi 12 batang, lain dengan Marlboro versi rokok putih yang berisi 20 batang.

Batang rokok sudah mengambil posisi di bibir, korek sudah dinyalakan, langsung kebal-kebul…Hisapan pertama, saya langsung teringat cita rasa rokok Gudang Garam, khususnya Gudang Garam Nusantara, rasanya mirip benar. Dihisap terasa enteng, gurihnya juga cukup, sayang saya kurang suka aroma wanginya yang berlebihan, bikin eneg. Jadi, saya tidak berminat untuk kembali membelinya. Saya masih tetap memilih Djarum Super sebagai juaranya filter kretek.

Satu hal yang saya sukai dari filter kretek Marlboro ini adalah kemasannya, klasik sekaligus modern. Warna kemasan yang agak kecoklatan dipadu bronze terkesan klasik, sedangkan finishing glossy-nya yang bisa memantulkan cahaya menjadikannya terkesan sangat modern.

Ini adalah salah satu keuntungan yang bisa dimanfaatkan oleh Philip Morris setelah membeli saham HM Sampoerna. Dia bisa tahu lebih tentang resep-resep kretek khas Indonesia, sekaligus melakukan eksperimen untuk mencipta cita rasa baru. Dibungkusnya tertulis “Made by PT Hm Sampoerna Tbk Surabaya, under the authority of Philip Morris…”, jadi rokok ini adalah bikinan Sampoerna dengan meminta restu dari Philip Morris agar diijinkan untuk mengusung merek Marlboro. Ahhh, rokok ini dibikin oleh siapa, sama saja, nggak ada bedanya, sekali lagi toh HM Sampoerna sudah dibeli Philip Morris. Atau mungkin ini adalah strategi HM Sampoerna untuk memasarkan kreteknya secara internasional? Bisa jadi iya, karena Djarum dan Gudang Garam sudah terlebih dahulu memasarkan rokok kreteknya di Amerika.

Yang menarik adalah digunakannya angka “9” di belakang kata “Mix”, apakah terdiri dari 9 campuran/racikan rahasia? Saya tak tahu. Dari dulu HM Sampoerna sepertinya sangat terobsesi dengan angka 9, Dji Sam Soe (234) kalau dijumlahkan menghasilkan angka 9. Huruf yang membentuk “sampoerna” berjumlah 9 huruf. Lalu lihatlah deretan angka di bawah barcode pada semua rokok produksinya, anda akan menemukan banyak angka 9 (999909). Bahkan, ruang direktur utama-nya konon berukuran 9×9. Wah, lalu apa hubungannya? Yo mbuh, namanya juga othak-athik gathuk.

Gambar Marlboro Mix 9 saya usung dari blog-nya Mas Djoko Santoso, dia sendiri ambil dari Bloomberg.

3 comments on “Saat Rokok Amerika Menyaru Sebagai Rokok Lokal

  1. Wah, mas Dony piawai kalo soal rokok ya. Saya yg kerja di sampoerna aja bahkan know nothing about cigarettes😀

    Yap, semua di Sampoerna berbau angka 9. Bahkan plat nomer kendaraan sampai alamat kantor semua ada kaitannya dgn angka kesayangan kaisar-kaisar China tersebut🙂

  2. Angka keberuntungan barangkali pak, mungkin harapannya adalah seberuntung sampoerna di pasaran kali ya…

  3. @Jie, wah udah balik dari Balikpapan ya? Saya cuman tau sedikit ttg rokok, Mas Djoko Santoso tuh ahlinya, tapi sekarang dia udah quit.
    Berarti bener ya sangat percaya dengan “kekuatan” angka 9. Apakah Sampoerna bisa seperti sekarang ini karena angka 9 juga?

    @M.Mufti, Philip Morris Indonesia (PMI) dan Sampoerna kan sama aja. Klo Sampoerna untung, PMI jg untung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: