8 Komentar

Tanpa TV, Sanggupkah Kita?


“Tidak ada tv, tidak masalah kok. Kalau perlu jual saja tv-nya”.

Satu kutipan menarik dari khotbah shalat Jumat yang saya simak siang tadi. Pengkhotbah itu sedikit menyinggung tentang tv, dan mengkaitkannya dengan perilaku malas, malas belajar, pun malas untuk urusan ibadah. Dari kutipan tadi muncul sebuah pertanyaan, hari gini tanpa tv, sanggupkah kita?

Membeli sebuah tv dan meletakkannya di dalam rumah, sama saja halnya memindahkan dunia luar ke dalam lingkungan rumah kita, segala hal akan mengalir dari kotak itu, instantly. Bahkan Garin Nugroho bilang tv itu bagaikan anak pertama dalam keluarga, serba menjadi pusat perhatian. Tv telah menjadi bagian dari keluarga.

Saya bukanlah orang yang anti tv, sikap saya terhadap tv masih mendua, kadang benci dan menghujat, lain hari bisa kembali suka dan mencumbui. Fungsi tv sendiri bagi saya pribadi adalah media hiburan dan informasi. Dari sisi tv sebagai media hiburan, saya masih bisa mematikan tv untuk beberapa waktu, dan mencari bentuk hiburan lain seperti mendengarkan radio dan musik digital, atau nonton DVD bajakan (masih pakai monitor tv juga sih). Namun, dari sisi penyedia informasi apalagi dalam bentuk berita, saya belum mampu mematikan tv. Sebenarnya penyedia informasi bisa saya alihkan ke media lain, seperti koran dan internet. Sayang, saat ini di rumah hanya berlangganan satu koran yang penyajian beritanya tidak berbobot, itupun koran sore. Jadi, saya masih menggantungkan akses informasi dari tv. Internet? Wah, di rumah tak sedia komputer online, nge-blog saja masih lewat warnet.

Dengan alasan ini dan itu, maka saya juga tak ikut seruan pekan anti tv. Tidak semua acara tv jelek seperti cirit ayam, masih banyak acara bagus dan layak tonton. Siaran tv di Indonesia dengan segala centang perenang-nya tetap setia kita tonton. Baik-buruknya dampak televisi itu tergantung bagaimana kita menyikapinya, tanpa bermaksud menggurui, tapi begitulah adanya. Kita tak bisa hanya mengandalkan KPI agar siaran yang masuk ke rumah kita itu sudah tersaring, kontrol terbaik memang datang dari diri kita sendiri, meskipun selera masing-masing orang tidak sama. Saat remote controll ada di tangan anda, maka andalah yang punya kendali. Anjuran pemandu acara atau host untuk tidak pindah saluran selama iklan, bisa dengan mudah anda abaikan.

Langkah ekstrim dengan tidak menonton tv sama sekali dan bahkan menjual tv seperti yang dibilang pengkhotbah tadi, bagi yang sudah kecanduan apalagi pada taraf couch potato sungguh tak mudah melakukannya. Namun kalau anda sedang butuh uang dan tak ada pinjaman, menggadai atau menjual tv bisa jadi langkah cepat untuk dapat money in cash, asalkan itu tv anda sendiri, bukan tv milik tetangga!

PS: Tanggal 23 Juli nanti kabarnya akan ada hari tanpa tv, siapkah anda menyambutnya? Mungkin nasibnya hanya seperti hari tanpa tembakau, tak banyak yang tahu dan patuh.

8 comments on “Tanpa TV, Sanggupkah Kita?

  1. Saya pribadi, jarang sekali nonton tivi, kecuali ada isu tertentu dan mengharuskan saya mencari bahan melalui media TV. Rata-rata, perminggu, sekitar 4-8 jam.

    Saya tidak anti TV, dan juga tidak mencintainya. Sikap saya, sama terhadap media-media lainnya. kalau butuh, ya dipake, kalo ga butuh, cuekin. Huehehe. Oportunis banget.

    Di sisi lain, saya nampak seperti orang bego, apabila ada teman datang dan lalu ngomongin seorang artis anu yang terkena gosip. Sebab sama sekali nggak ngerti, apa yang dia omongin.

  2. nice post kawan, keren deh tulisan2nya..

    anyway, saya juga kayak bangaiptop di atas ini, jaraaang banget nonton tv..
    acara2 yang gak saya lewatkan paling cuma berita2 (khususnya seputar Indo), english premier league, republik mimpi, sitkom OB, ma american idol.. haha..

    saya juga gak ngerasa butuh banget ama tv, gak ada tv juga saya bisa hidup, cuma perlu diakui kok konyol bener itu yang bikin hari tanpa tv, entah apalah maksudnya.. toh cuma berhenti nonton tv dalam sehari gak banyak gunanya..

    mengenai kualitas tayangan tv di Indonesia, perlu diakui jelek banget, sinetron2 konyol, acara2 religi yang berlebihan sehingga menimbulkan persepsi yang salah terhadap agama tertentu, infotainment, reality show yang aneh2 terlepas dari ada beberapa yang menarik juga..

  3. ga sanggup ga bisa liat bola dong

  4. paling gak suka dari televisi : Sinetron remaja (kasihan anakku kayak di karbit)

    paling aku suka : Alvatar (sering terlambat kerja karena nunggu acara ini)

    jangan tanpa televisi deh, gak kuat klo gak lihat alvatar

  5. TV memang bagaikan agama baru…

  6. mas, sampean ki blogger serius mas.. wah edan tenan, hahaha… tipiku tak gadaikan di antemi sak kos2an iso mas.. aku Fak.Pertanian, jurusane podo Antobilang.

  7. kalo acaranya jelek² ya ngapain di tonton.. ;D

    tapi emang tipi ntu kotak ajaib yang memberikan imajinasi tingkat tinggi… ;D bikin kecanduan kalo ga selektip memilih…😀

  8. tv kan bnyk acaranya ada gosip berita humor musik sejarah dan masih bnyk banget yg berguna bagi masing2 individu. klo gak ada tv gk kebayang deh ribetnya , misal ada bencana , pidato kenegaraan , berita kriminal , berita orang hilang DLL.
    lha yg dilihat cuma film tengah malam aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: