2 Komentar

Terbelenggu Komunisme

Foto ini adalah karya Igor Amelkovich, saya temukan di portal fotografi photo.net. Foto ber-caption New Simbol ini, terdiri dari dua objek, dengan mengusung masing-masing simbolisasi yang berbeda dan bertentangan. Palu arit, orang awam dan tak paham sejarah sekalipun tahu itu perlambang komunis. Komunis maupun komunisme, saya hanya ngeh permukaannya saja. Kalau ingin tahu lebih silakan ketik kata kuncinya di kotak Google, ribuan link bisa sampeyan dapatkan. Anggapan yang selama ini muncul adalah komunis itu keras, sangar, kaku, dan membelenggu. Anggapan itu tak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah. Di Indonesia, lambang ini masih sensitif untuk kembali diperbincangkan apalagi divisiualkan. Salah-salah anda malah bisa dibui gara-gara dituduh makar dan antek komunis.

Perempuan sendiri adalah suatu perlambang dari dari keanggunan dan kelemahlembutan, serta sisi-sisi feminin lainnya yang tak gampang dimengerti melalui pandangan patriarki. Kaum hawa lebih dekat dengan kapitalisme dibanding komunisme, bagaimana tidak? Karena perempuan memang benar-benar dimanjakan dengan berbagai produk kapitalis, dari wewangian pengharum badan sampai dengan penghilang kerut di wajah. Satu lagi, perempuan itu doyan belanja. Barang/produk yang sangat macho sekalipun banyak menggunakan sosok perempuan sebagai senjata pemasaran, dari deodoran AXE, iklan ban, sampai Andrew Shoes. Perempuan telah dieksploitasi untuk menjual produk, perempuan adalah aset berharga kapitalisme.

Jadi, baik berada dalam bayangan kapitalis maupun komunis, posisi perempuan sama-sama dibelenggu. Bedanya perempuan sangat menikmati kala dibelenggu oleh kapitalisme, tentunya kerena kapitalisme itu sangat juicy. Sedangkan, dibelenggu dalam sebuah sistem komunis itu bagaikan berada dalam neraka yang dibuka lebih awal, neraka dunia. Tak hanya bagi perempuan, saya pun sebagai lelaki emoh hidup di bawah panji-panji komunisme, tak bebas, mau “obah” susah.

Foto ke-2 di atas saya dapatkan dari si S.Sos yang menjepret ulang/me-repro kala diperlihatkan pada sebuah pameran, sayangnya saya tidak tahu foto tersebut karya siapa. Foto ini menampilkan dua objek yang sama dengan foto pertama, sosok perempuan dan lambang palu arit. Namun foto ke-2 ini menampilkan sosok perempuan yang lebih tradisional dan mature. Sisi tradisional terlihat dari kostum dan background yang ditampilkan, sedangkan sisi maturity terlihat jelas dari sikap badan yang sedang menggendong anak, anggap saja dia adalah seorang ibu. Seorang ibu yang mencoba membesarkan seorang anak ketika panji komunisme (palu arit) masih berkibar.

Sedikit menyoal tentang lambang, pada awalnya lambang memang dibuat dengan kesepakatan dan tafsir tunggal. Namun, tak manutup kemungkinan kita sendiri memiliki tafsir yang berlainan terhadap sebuah lambang, baik itu dalam tautan ideologis, semiotik maupun semantik. Apapun itu, pastinya tidak dapat saya paksakan kepada sampeyan untuk disepakati.

2 comments on “Terbelenggu Komunisme

  1. […] Sumber Foto: putradaerah.wordpress.com […]

  2. Banyak anggapan yang keliru atas faham ini… Yang paling sering diucapkan dan ditulis adalah Komunis sama dengan anti Tuhan… hmmm.. Masalah keTuhanan adalah masalah diri pribadi, sedang komunis adalah faham kebersamaan dalam masyarakat. Kesalahan ini tak lepas dari peran pemerintah berkuasa saat itu yang ingin menutupi boroknya dengan mencari kambing hitam dan kebetulan komunis adalah musuh bersama pemerintah dan dalangnya kapitalis amerika.
    Suka atau tidak suka… Ada persamaan antara komunis dengan pandangan islam soal masyarakat yang mempunyai hak yang sama atas segala hal… Apa mau masih dibilang komunis = anti Tuhan??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: