13 Komentar

Ongen Diadili Oleh Televisi (SCTV)

Siapakah Ongen? Nama lengkapnya Ongen Latuihamalo, bagi yang belum tahu, sebenarnya dia adalah penyanyi yang lumayan ngetop di tahun 80an. Dan saat ini namanya cukup sering disebut-sebut kembali di media, tapi kali ini kapasitasnya bukan sebagai penyanyi apalagi artis, melainkan sebagai saksi pembunuhan konspirasi tingkat tinggi pejuang HAM Munir.

Karena posisi dia saat ini sebagai saksi kunci pembunuhan itu, maka dia banyak diburu wartawan dari berbagai media. Dari beberapa media itu, SCTV adalah media televisi yang paling beruntung karena bisa menghadirkan Ongen di studio untuk sebuah wawancara eksklusif. Dan yang menjadi pe-wawancara saat itu adalah Rosianna Sillalahi, seorang reporter gaek dari SCTV .

Ya, dari awal wawancara ini berjalan cukup serius, jadi jangan bandingkan Rosianna Sillalahi dengan seorang Tukul Arwana yang cengengesan sepanjang acara, apalagi untuk sebuah wawancara penting menyangkut kasus pembunuhan yang sulit diungkap. Studio berita SCTV telah berubah menjadi semacam sidang terbuka yang disaksikan jutaan orang lewat televisi.

Ada dua pertanyaan terakhir dari mbak Rosianna yang membuat saya benar-benar merasa heran. Yakni, dia langsung “menembak” Ongen dengan sebuah pertanyaan, “Apakah anda membunuh Munir?”. Dengan sabar Ongen menjawab, “Alangkah sialnya saya, kalau hanya gara-gara duduk untuk minum, lalu saya dituduh menjadi seorang pembunuh”.

Apakah seorang hakim atau jaksa penuntut di pengadilan akan bertanya seperti yang ditanyakan oleh mbak Rosianna kepada seorang saksi? Pertanyaan itu salah alamat tentunya. Dan dari pertanyaan tadi, mbak Rosianna telah melebihi kapasitasnya sebagai seorang pewawancara.

Pertanyaan selanjutnya justru lebih parah, di pertanyaan pamungkas itu mbak Rosianna berkata, ”Saya lihat penampilan anda sangar, rambut gondrong, badan besar, tapi di sini anda terlihat santun. Apakah anda sedang akting?”. Buset, reporter itu telah menghakimi narasumber, sungguh bukan sebuah pertanyaan yang dewasa, tak berbobot, dan keluar dari konteks wawancara. Tak selayaknya pertanyaan itu terlontar dari seorang reporter gaek, seandainya pertanyaan itu datang dari wartawan magang, saya bisa maklum. Kalau reporter/pewawancara mempertanyakan kapabilitas seseorang yang hendak diwawancarainya, kenapa dia musti nekat menjadikannya sebagai narasumber?

Kutipan-kutipan dari wawancara tersebut memang hanya hasil rekonstruksi semantik saya, namun itu sudah mewakili, dengan segala lebih dan kurangnya.

Dalam hal ini sebenarnya narasumber juga punya hak, narasumber bisa saja memutuskan untuk tidak menjawab atau menolak pertanyaan tadi. Tak selamanya narasumber harus menjawab pertanyaan dari wartawan atau reporter, berbeda dengan setiap pertanyaan yang diajukan oleh polisi sewaktu penyelidikan, menolak menjawab atau tidak jujur bisa bikin panjang urusan.

Seringkali saya lihat di stasiun televisi nasional, televisi seolah justru telah menghakimi seorang tersangka yang tersangkut kasus hukum, padahal pengadilan-nya pun belum digelar. Prinsip “praduga tak bersalah” tak lagi dipegang. Banyak media (khususnya televisi) yang menyebut secara terang-terangan nama seorang tersangka, padahal nama tersangka haruslah disamarkan sebagai inisial, gambar wajah tersangka pun juga musti dikaburkan atau blur. Karena status tersangka masih dalam tahap “diduga melakukan”. Kecuali kalau statusnya adalah terdakwa, monggo saja untuk disebut namanya.

Menjadi newscaster maupun newsreader televisi bukanlah perkara gampang, meskipun bukan untuk siaran langsung sekalipun. Salah tanya, salah ucap kata, keliru berkalimat, penekanan yang kurang pas, dan sejenisnya kadang susah untuk dihindari. Kalau itu siaran langsung maka kesalahan itu juga akan langsung didengar dan dilihat khalayak. Erratum atau errata setahu saya di televisi tak sedia, karena biasanya hanya ada di media cetak. Kalau newscaster dan newsreader sadar dengan kesalahan yang dia buat, dengan cepat dia akan mengkoreksinya sendiri dengan berkata, “Maksud kami, bla bla bla”.

Bicara tentang pembawa berita, terutama yang wanita, saya lebih suka mbak-mbak dari Metro Tv, karena menurut saya kebanyakan dari mereka cantik dan charming.

“Lho sampeyan itu perhatikan beritanya atau pembawa beritanya?” Dua-duanya boleh kan?

Ilustrasi:

Wawancara dengan Ongen dari: liputan6.com

Announcer Metro: di-capture dari tv

13 comments on “Ongen Diadili Oleh Televisi (SCTV)

  1. Si mbak Rosianna kayaknya hanya menyontek gaya peng-interview dari luar negeri. Baik itu interviewer untuk para selebriti, rakyat jelata mirip si Ongen, ataupun pejabat tinggi sekalipun. Begitulah interviewer luar negeri, kalau bertanya suka tidak memikirkan konsekwensinya. Karena mereka berpikir itu masih layak ditanya. Memang mirip pertanyaan seorang pengacara pembela dipengadilan. Suka langsung membuat yang ditanya kelimpungan. Begitulah interview pihak “Entertaiment Tonight” (sebuah acara tentang selebriti di US), yang waktu itu menginterview tunangan (ataupun body guard-nya) si mendiang Anna Nicole Smith yang mati karena over dose. Mirip sekali. Pertanyaan pertama yang ditanya totally similar.

    Eniwei, artikelnya enak dibaca. Salam kenal dan thnx sudah mampir keistanaku.
    Oya Mas… yang jelas semangka sini gak ada bedanya dengan semangka di Indonesia :]

  2. Setuju sekali dgn Vie, memang mirip sekali dgn interviewer luar negri dar i USA. Saya lupa namanya, yg jelas wanita dan sudah agak tua =D Bok’ ya di sesuaikan dgn budaya kita gt loh..

  3. Jie, pewawancara yang di US itu namanya Barbara Walters. Dia bukan “sudah agak tua”, tapi sudah tua, 78 tahun dalam waktu beberapa bulan ini. Masih energetic orangnya.

  4. Waduh aku ra iso melu komen bermutu piye ki? Aku sering nonton Larry King Live ning ora mudheng sing diomongke. Katro tenan aku mas hehe

  5. Setau saya, dan sejauh pengamatan saya, SCTV memang terkenal dengan jurnalisme investigasinya…sering banget gaya wawancara yang “menohok” kaya gitu di lontarkan, gak cuma oleh mbak Rossi(panggilan saya kalo dirumah untuk dia), tapi kayaknya semua presenter acara semacam itu di SCTV memang diplot untuk bisa mengajukan pertanyaan sadis macam itu, inget pas lagi rame2nya PAPERNAS? ada satu pertanyaan dahsyat “Apakah anda seorang Komunis?” yang diajukan sebagai pertanyaan pembuka…sangar deh…

  6. ember.. sctv, presenter nya selalu bertanya secara frontal..
    memang ciri khas nya sctv bangeds

    yg nerecel, tajem..
    tp itu ngenak bangeds siy..

  7. saya tidak mengerti tulisan anda. namun, ada tiga hal yang jelas di sini.
    satu, jelas sekali anda tidak mengerti jurnalisme.
    dua, tidak ada yang salah dengan pertanyaan rosianna: ‘apakah anda membunuh munir?’.
    tiga, seperti kebanyakan orang indonesia, anda menyukai ‘eye-candy’, sesuatu yang cantik & charming.

    saya memberi komentar ini judul:
    “rosianna diadili oleh putra daerah”

  8. Tabik,
    Untuk mbak/mas Dria, seharusnya anda melihat dulu tag-line dari blog ini:kosong mlompong, subjektif, penuh prasangka, dangkal, sesat, dan tanpa manfaat.

    Kalo sampeyan bilang saya tak tau jurnalisme, ya anda 100 persen benar, saya tak bisa merangkai 5W+1H dengan baik, piramida terbalik pun saya tak paham, pemilihan angle pun kacau balau, menuliskan judul saja kadang cuma kacangan, apalagi lead.

    Tulisan ini terbikin oleh orang awam yang mencoba meng-kritisi media dengan cara berpikir dan sudut pandang yang awam pula. Karena sesungguhnya media tak bisa langsung ditelan, tapi musti ditelaah, dan dicerna terlebih dahulu. Lagipula apakah salah khalayak mencoba meng-kritisi media? Ingatlah, bahwa jurnalisme bukan suatu hal/barang suci nan jauh dari dosa.

    “…tidak ada yang salah dengan pertanyaan rosianna: ‘apakah anda membunuh munir?’.”
    Menurut saya pertanyaan itu memang berlebihan, dan sejauh ini kebanyakan pertanyaan semacam itu terlontar dari pewawancara SCTV.

    “Tiga, seperti kebanyakan orang indonesia, anda menyukai ‘eye-candy’, sesuatu yang cantik & charming.”
    Masalah penyiar metro yg cantik n charming, itu hanya penutup gombal dari sebuah tulisan kelas rombengan pula, jangan dianggap terlalu serius. Itu komentar pribadi saya, jadi tak perlu berlebihan dengan membawa “kebanyakan orang indonesia”.

    Terima kasih atas kritik-nya.
    Lalu siapakah Dria, kok link-nya saya telusuri nggak bisa? Ayolah tunjukkan diri anda…

    Saya memberi judul komentar ini: “Dria hadir di blog putradaerah dan meninggalkan komentarnya”

  9. “Lalu siapakah Dria, kok link-nya saya telusuri nggak bisa? Ayolah tunjukkan diri anda…”

    Maaf ternyata setelah saya klik kanan lalu liat properties. Seorang Dria bs ditemukan disini:riandhini.blogdrive.com
    Dan dia adalah seorang wanita. Tulisannya dahsyat lho, kunjungilah blog-nya, percayalah…

  10. mungkin kita ini ndak biasa aja dapet something yang “to the point” macam mbak rosianna..
    tapi ya kayaknya emang ndak ada yang salah sih pertanyaan pertama ituh..
    hehe..
    cuma sayah agak kurang setujuh ituh yang mbak rosianna ngomentarin bab penampilan..
    lha sayah itu biasa mandi sekali sehari jeh..
    kalo saya tau2 tampil rapi, brarti saya akting dong..
    wekekek..

  11. wah menarik ni, pak de. kalo boleh komentar plus tebak2 dikit, saya pikir mbak rosi (yg lugas dan tepercaya) ingin mendapat kutipan langsung dari bpk ongen perkara apakah dia membunuh munir atau tidak.

    kebetulan di majalah tempo berita ini berulang kali diturunkan dan berakhir dengan kesimpulan, bpk ongen adalah pembunuh munir.

    IMHO pertanyaan mbak rosi ini adalah kesempatan bagus bagi ongen untuk merespons desas-desus bahwa dialah pembunuh munir.

    btw, saya kok jarang lihat mbak fifi aleyda yahya lagi ya? hehehe

  12. pak de,
    (ikut-ikutan donkeekong manggilnya. hehehe..)

    hikz.., saya lupa lagi comment panjang lebar yang tadi menghilang itu tadi apa..

    ngg.., ok..
    jadi gini pak de..
    saya sebenarnya tidak terlalu paham tentang aturan atau kode etik kepenyiaran.
    yang saya pahami bahwa ada dasarnya suatu reaksi/respons yang pertama – apakah itu lisan ataupun tertulis – yang tidak terjeda waktu, pada umumnya adalah suatu kejujuran (bukan kebenaran). walaupun terdapat pengecualian salah satunya bagi para psikotik n psikopat.

    bisa saja rosi mau mendapatkan reaksi/respons jujur tersebut dengan gaya tajam dan kejamnya.
    cuman rasanya sia-sia kalau ternyata yang dia temui adalah psikopad.. hehehe..

    saya sendiri kl nanya orang memang rada galak-galak n nyebelin gitu.. makanya banyak yang komplen.. hehehe..

  13. menurut saya, Rosi forum diskusi yang dibawain Rossi selalu jadi ruang sidang dan kalo nara sumbernya dua kubu tanpa sungkan seolah dia memojokkan salah satu. sekali lagi MENURUT SAYA. thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: