Tinggalkan komentar

Pengumuman: Tidak Ada Sekolah Murah


Sekolah, untuk beberapa orang yang kurang beruntung bisa jadi hanya sekadar angan. Banyak anak rela banting tulang untuk membiayai sekolahnya sendiri. Seperti kisah pilu Rizka Amalia, pelajar yang sepulang sekolah berubah menjadi penjual koran untuk biaya sekolahnya, namun apa yang dilakukannya justru mendapat sandungan dari sang Kep-sek. Fakta: sekolah atau pendidikan masih menjadi sesuatu yang mewah bagi orang miskin. Sudah seharusnya kita bersyukur bisa sekolah bahkan sampai kuliah.

Kredo seperti, “kalo mau bagus dan bermutu, maka pendidikan harus mahal”, justru menjadi penghalang bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Saya sendiri kurang paham apakah benar mutu pendidikan itu berbanding lurus dengan biaya yang musti dikeluarkan. Anak berbakat dan pintar (baik yang minum tolak angin maupun tidak), bisa jadi tidak tersentuh oleh pendidikan karena tak punya biaya. Itu sama saja halnya kita (bangsa Indonesia) membunuh janin kader-kader bangsa yang cakap.

Membicarakan mutu pendidikan juga tidak bisa dilepaskan dari peran pengajar, dalam hal ini guru. Nasib “pahlawan tanpa tanda jasa” itu memang terkesan tak berbalas jasa. Apalagi yang masih berstatus guru bantu atau honorer, konon ada guru yang bayarannya hanya bisa untuk membeli pasta gigi. Malah ada yang memakai SK Pengangkatan untuk jaminan pinjaman kredit bank. Padahal pengajar yang baik harus berkonsentrasi pada apa yang sedang diajarkannya, pikirannya bukan terpecah dan terbebani dengan kebutuhan ekonomi yang tak tercukupi. Guru dituntut untuk mencerdaskan bangsa, tapi apa yang diterimanya tidak sesuai dengan tugas berat yang diemban. Kocek negara masih payah untuk menambah gaji dan meningkatkan kesejahteraan guru.

Biaya pendidikan murah apalagi gratis hanya terdengar seru dari bibir ca-pres dan jur-kam partai politik saat musim kampanye berlangsung. Realisasi? Ah, itu urusan belakangan, bung! Lama-lama blog ini mangkin ngebosenin karena ngomongin hal-hal klise seperti ini. Maklum di negeri ini juga banyak kisah-kisah ngebosenin bersaing tampil sebagai headline, biar basi tapi masih tetap renyah untuk jadi bahan omongan, padahal the story remains the same.

Buku Pengumuman: Tidak Ada Sekolah Murah terbitan Resist Book ini sebenarnya mencoba untuk memperjuangkan pemerataan dan kesamaan hak dalam bidang pendidikan. Uniknya buku ini disajikan dalam bentuk komik dengan teks-teks yang sarat dengan muatan perlawanan ala Eko Prasetyo, bahkan ada beberapa bagian yang cenderung sarkastik. Maka tak heran jika pada sampul di bagian kanan bawah terdapat announcement: Parental Advisory (Explicit Comic), seperti sampul albumnya Eminem saja. Sedangkan imej/gambar di dalamnya ada yang bagus, tapi ada pula yang jeleknya setengah mati, mungkin memang sengaja dibikin jelek oleh mas Terra. Secara keseluruhan buku ini asyik dan gokil, pastinya tidak akan membuat kita berkerut dahi dengan serangkaian Ibid, Loc.Cit, dan Op.Cit.


JUDUL: Pengumuman: Tidak Ada Sekolah Murah PENYUSUN: Eko Prasetyo (naskah), Terra Bajraghosa (gambar) PENERBIT: Resist Book, Yogyakarta, 2006 TEBAL: 144 halaman HARGA: Rp 22.000 (pameran)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: