1 Komentar

Cari Ilmu Bukan Cari Mati

Kekejaman oleh “senior” dalam dunia akademik negeri ini seperti kejadian yang terus berulang. Keledai bisa dua kali kejeblos di lobang yang sama, tapi manusia bisa jadi berpuluh kali mengulang kebodohannya, bahkan oleh calon pelayan masyarakat bernama pamong praja sekalipun. Mereka yang masuk ke sekolah tinggi itu pasti untuk cari ilmu, cari pinter, me-realisasi-kan impian dan cita, bukan cari mati dengan pukulan atau tendangan dari sang senior. Si junior yang dendam dan dengki karena disakiti kakak angkatannya, akan melakukan pembalasan kepada angkatan di bawahannya, maklum junior tak berani melawan senior, kecuali nyali setajam pisau belati. Terus berulang sampai berpuluh tahun, sekali lagi yang terulang adalah suatu kebodohan nan gombal, keledai masih jauh lebih baik. Kalo kemudian ada yang tanya, lalu darimana kekerasan itu berasal? Jawabannya bisa jadi dari sekolah.

Mencetak seorang pamong praja itu sama sekali lain dengan mencetak preman, centeng, atau jawara. Kurikulumnya preman dipakai untuk sekolah tinggi pemerintahan itu sama saja mencetak preman berseragam rapi dengan status PNS, kelakuan ala kriminil jalanan dengan kostum white collar, sebuah perpaduan kelas kambing, mbeeek!

Melatih seorang pelayan masyarakat itu lain dengan melatih orang untuk menggunakan bayonet atau mengarahkan peluru ala serdadu. Senior sok militer itu mungkin sudah lupa kalo yang dia pake adalah jaket alma mater, bukan seragam loreng camouflage. Tentara atau militer memang terkadang “bertugas” membunuh, lingkungan yang keras, push-up ribuan kali, dan latihan membidik sasaran itu adalah wajar dalam latihan militer. Tapi kok lucunya, setahu saya nggak ada tuh calon tentara atau prajurit yang sampai tewas gara-gara dianiyaya selama proses pelatihan.

Satu hal lagi yang mungkin sudah terlupa oleh kita, sekolah dinas pemerintahan yang notabene pencetak pelayan masyarakat itu tak berbayar, karena sudah disokong oleh rakyat via pajak. Namanya juga sekolah dinas, begitu lulus langsung “ditempatkan”, sebagai pelayan publik tentunya. Dalam kasus ini, ternyata pelayan publik itu “dicetak” dengan cara yang keliru, maka tak bisa dibayangkan pelayanan macam apa yang akan kita dapatkan.

One comment on “Cari Ilmu Bukan Cari Mati

  1. Wah.. sudah lupa mau komen apa kapan hari hehe..
    Tapi bener2 mengenaskan, IPDN memberikan hukuman mati lebih banyak daripada pengadilan. Serem juga liat video dokumentasi di SCTV liat para junior diterjang tendangan kungfu ala Jet Li ! Sungguh kekerasan yg terlembagakan >_< Dan kemaren malem baru aja di acara yg dipandu Rosiana Silalahi (Topik Malam ?), liputan kunjungan wapres ke asrama IPDN. Saking hebatnya doktrin2 disana, para praja pun tidak berani bicara terbuka dgn pak Kalla. Kita liat aja deh kelanjutannya gimana, moga2 ada perubahan besar disana & para pelakunya diberi hukuman setimpal. Ciaoo.. !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: