2 Komentar

Apakah Saya (Tidak) Ditakdirkan Menjadi Orang Gajian?

Ceritanya saya lagi nyari barang di sebuah laci yang sebenarnya jarang dibuka. Bongkar-bongkar, barang yang dicari tak juga ketemu. Tapi saya justru menemukan sepucuk surat yang masih tersimpan, bukan surat cinta anak singkong tentunya. Surat itu datangnya dari Prambors Solo tertanggal 30 April 2005. Saya jadi ingat bahwa dulu saya pernah apply di radio anak muda ini. Dulu sewaktu surat itu saya terima dari pak pos, saya kira adalah surat panggilan wawancara, buset ternyata bukan! Surat yang saya terima pada waktu itu ternyata adalah surat pemberitahuan bahwa Prambors belum dapat * memberikan kesempatan kepada saya untuk bergabung.

Surat tersebut membuat saya berhitung sudah berapa kali saya melamar pekerjaan. Saya baru empat kali melamar pekerjaan, dan empat kali pula tidak diterima. Memang saya akui, kebanyakan lamaran pekerjaan yang saya ajukan adalah iseng-iseng berhadiah, seperti mengumpulkan huruf demi huruf yang tertera di pembungkus permen karet semasa SD dulu. Maklum, pekerjaan yang saya maksud adalah pekerjaan yang bisa disambi kuliah, kecuali lamaran yang saya ajukan untuk recruitment besar-besaran Trans Corp, yang ternyata lolos tes pertama pun tidak.

Cari pekerjaan itu ternyata memang tak gampang, perlu kerja keras, kesabaran, dan yang terpenting yakni faktor keberuntungan, orang Jawa bilang wong pinter kalah karo wong bejo (orang pandai kalah sama orang beruntung). Saya pun bisa mengamini quote seperti itu, karena rejeki memang sudah ada yang ngatur tho? Perkara ada orang yang tidak pintar dan tidak bejo, saya juga tak mampu menjawab.

Bapak dan Ibu saya yang kebetulan keduanya wiraswasta pernah memberi wejangan kepada saya, untuk tidak mencari pekerjaan tapi bikinlah pekerjaan. Maksudnya tentu supaya saya juga jadi wirausahawan, mengatur dan bukan diatur, menggaji dan bukan digaji. Tentu itu bukan perkara gampang, butuh mental kuat dan keuletan. Setelah saya melihat latar belakang pekerjaan keluarga besar kedua orangtua, memang jarang yang jadi orang gajian (kerja kantoran, PNS, TNI/Polri), semoga saya menuruni bakat menjadi wirausahawan juga.

Yang jelas, untuk saat ini saya tidak mau dipusingkan dengan urusan “status pekerjaan”. Saya lagi fokus ngerjain skripsi, cepet lulus, wisuda, lalu mencari wanita untuk menjadi ibu dari anak-anak saya. Loh kok nggak nyari kerja dulu, bojomu mo dikasih makan apa? Lah, nyari makan sendiri-sendiri tapi tidurnya tetep satu ranjang kan bisa. Hwarakadah…!!!

* : format yang dipake sama dengan yang ada di surat, bold dan underline.

PS: Sewaktu sekolah, guru BP selalu minta kejelasan tentang status wiraswasta yang saya tuliskan di bagian pekerjaan orangtua murid dalam data siswa, lalu saya tambahkan saja dalam kurung pedagang. Untung si guru nggak nanya lagi, pedagang kasur, pedagang kelontong, ato pedagang baju bekas? Kalo orangtua saya PNS, apa iya saya akan ditanya lebih lanjut: guru, dosen, pegawai pemkot, pegawai departemen, atau pegawai ongkang-ongkang kaki?

2 comments on “Apakah Saya (Tidak) Ditakdirkan Menjadi Orang Gajian?

  1. hehehehe….sorry saya cuma ketawa ngakak aja…….
    huahahahahaha.
    salam kenal

    afin

  2. wuah.. aku jadi teringat

    gw juga masih ada tuh tertumpuk bersama hasil IPK semester 4

    surat itu memakan korban yang tak terhingga jumlahnya

    sempat menjadi kasus tertenar

    tapi..

    yang tertera dalam surat itu memang benar adanya.

    jika ada kriteria sesuai dengan spesifikasi bla bla bla akan dipanggil

    gw juga terima bang, surat penolakan itu, tapi kok jebule dipanggil juga buat training

    yah… itulah kenang2an terindah yang kita terima dari prambos, setidaknya ada tanda bukti mencoba,

    lampiran:
    1. Arsip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: