Surat Menyurat Dalam Urusan Cinta

16 Mei 2009 68 komentar

Menyurati kekasih, enaknya gimana? :oops:

Ayo, kirimlah surat cinta :)

Ada sebuah cerita, seorang pemuda bernama Erik ingin berkenalan dengan seorang pemudi bernama Indah Ayu. Keduanya tinggal tak begitu berjauhan, tapi belum saling mengenal. Erik merasa canggung untuk berkenalan dengan Indah secara langsung, mungkin dia tipe pemuda yang kamisolsolen saat berhadapan dengan wanita, ribet mengatur kata-kata yang keluar dari mulutnya. Akhirnya, dengan berbekal alamat rumah si Indah, si Erik pun memberanikan diri menulis surat kepada Indah untuk berkenalan. Read more…

Categories: Books

Kartu Nama Blogger

2 April 2009 66 komentar

Kartu nama haha hihi ;)

Salah satu kelemahan yang saya miliki adalah susah mengingat nama orang yang baru saja berkenalan. Begitu salaman, saling menyebut nama, lalu beberapa saat kemudian kadang saya sudah lupa namanya. Entah kenapa, tapi bukan berarti saya pikun. Maka dari itu, saya senang kalau mendapat kartu nama dari orang yang baru saya kenal. Kalau lupa, tinggal cari kartu namanya. Tapi, tentu tak semua orang sedia kartu nama. Kabarnya, di Jepang, setelah membungkuk-bungkuk, dua orang yang berkenalan biasa saling menyodorkan kartu nama. Read more…

Categories: Bloglife, Personal

Sang Putra Daerah

4 Maret 2009 59 komentar

Sang putra daerah
Meskipun sama-sama menggunakan tagline ‘putra daerah’, pemilik blog ini dan calon legislator (caleg) itu jelas memiliki kecakapan yang berbeda. Dan sejujurnya, keduanya tak bisa dibandingkan. Si caleg itu jelas sangat peduli dan aktif berkarya, kalau tak peduli dan ogah berkarya ngapain jadi caleg? Sama juga bohong lah yaw. Peduli dan mau berkarya itu bisa digambarkan dengan memboncengkan seorang abdi dalem Keraton yang sudah renta. Bukankah ‘diboncengi’ dan ‘memboncengi’ itu sangat dekat dengan dunia politik? Read more…

Categories: Umum

Tentang Blog dan Bengawan

26 Februari 2009 54 komentar

Launching Bengawan, komunitas blogger Surakarta

Saya pernah mendengar satu pertanyaan menarik, apakah blogger itu  egois dan tak mau bersosialisasi? Stigma yang menempel terhadap peselancar daring, khususnya blogger memang seperti itu, seolah mereka asyik dengan nyala monitor yang ada di hadapannya, teralienasi. Ya, dunia daring, dunia multimedia, memang penuh liku. Kadang menyehatkan, kadang menyesatkan, kata orang bagai dua sisi koin logam. Tapi saya ingin berpandangan positif saja: blog itu sehat. Pandangan negatif? Bertanyalah kepada pakar telematika itu.

Akhir 2006, pertama kali mengenal blog, saya tak mengira bahwa dunia blog Indonesia akan seriuh ini. Terbentuknya komunitas-komunitas blogger, yang kebanyakan berlandaskan alasan primordial, seperti identitas kedaerahan. Lalu digelarnya Pesta Blogger I pada tahun 2007, telah membuktikan bahwa blog memiliki kekuatan tersendiri di antara jejaring daring lainnya.

Bengawan, komunitas blogger Surakarta dan sekitarnya, baru diresmikan pada tanggal 21 Februari kemarin. Hadirnya komunitas blog di Surakarta memang agak terlambat jika dibanding daerah tetangganya, Loenpia Semarang terbentuk sejak tahun 2005, CahAndong Jogja tahun 2006, kemudian disusul dengan Tugu Pahlawan dot Com Surabaya pada tahun 2007. Bahkan banyak kota-kota kecil yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya, kini telah memiliki komunitas blog sendiri. Rupanya blogger juga butuh bersosialisasi dan menyatu dalam wujud komunitas atau organisasi. Bisa serius, bisa juga cuma cengengesan dan haha hihi.

Blog masih memiliki potensi besar pada media daring. Tak heran jika Jokowi, Walikota Surakarta yang melek teknologi, memberikan dukungan atas terbentuknya Bengawan. Dukungan ini semoga bukan suatu bentuk kooptasi terhadap para blogger, tapi sebaliknya: upaya menjaring kritik dan masukan langsung dari para blogger, khususnya menyangkut hal-hal yang ada hubungannya dengan Surakarta dan daerah-daerah di sekitarnya.

Selamat atas diresmikannya komunitas blogger Bengawan, mengalirlah sampai jauh!

PS: Ucapan terima kasih kepada Pak Jokowi, blogger Warok Ponorogo, Loenpia Semarang, CahAndong Jogja, TPC Surabaya, blogger Gresik, blogger santri Malhikdua, blogger Mojokerto, blogger Malang, Jamaah Blogger Timur Tengah, blogger Jakarta, Prambors Solo, Dagdigdug dot com, Paman Tyo, Ndoro Kakung, Enda Nasution, Iman Brotoseno, Gentho Kelir, Suryaden, dan seorang hamba Allah yang telah berandil besar atas suksesnya acara peluncuran Bengawan. Serta banyak pihak lainnya yang mungkin terlewat.

Categories: Bloglife

Kampung Batik Laweyan Solo

22 Januari 2009 91 komentar

Batik, aroma malam, dan perjalanan menuju masa lalu

Batik tulis dan cap, Laweyan Solo

“Ini warnanya cuma coklat aja ya?” tanya seorang pemuda sembari menunjuk tumpukan kain putih yang lapisan atasnya baru tertutupi lilin. Pemuda tadi menganggap bahwa proses pembuatan batik cap dan tulis itu sama dengan teknik sablon, padahal sama sekali berbeda. Ternyata banyak anak muda jaman sekarang yang belum paham bagaimana proses pembuatan batik.

Mengenalkan proses pembuatan batik adalah satu alasan kenapa kawan-kawan Bengawan mengadakan kunjungan ke kampung batik Laweyan. Pak Gunawan, pemilik usaha batik Putra Laweyan menyambut blogger-blogger Solo ini dengan hangat. Dan mengajak kami blusukan ke tempat produksi batik miliknya.

Aroma malam (lilin) yang meleleh begitu eksotik tercium hidung. Di tempat produksi yang sederhana dan masih tradisional ini batik-batik berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah dibuat. Para pembatik wanita terlihat lihai menggoreskan canting di atas kain, beberapa gadis muda juga terlihat tengah membatik dengan tekun, mereka adalah siswi dari sebuah SMK yang sedang PKL di tempat ini. Semoga saja gadis-gadis muda itu bisa dan mau menjadi generasi penerus dari pembatik wanita yang sudah mulai uzur. Sedangkan pekerja pria ada yang bertugas membuat pola di atas kain polos, membuat batik cap, mewarnai batik, dan nglorot – melepas lapisan lilin dari kain. Sekilas, pembuatan batik cap itu terlihat mudah, padahal sebenarnya susah. Cap berbahan tembaga itu lumayan berat terangkat, dan musti dicapkan di atas kain dengan presisi, tidak boleh melenceng sedikit pun.

Pak Widhiarso, pengurus harian Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, juga menceritakan sejarah kampung Laweyan. Sejarah Laweyan ternyata lebih panjang ketimbang sejarah Keraton Kasunanan, karena Laweyan sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang, sebelum akhirnya terpecah-pecah. Panjangnya sejarah Laweyan ini kalau diceritakan semuanya bisa lebih panjang dari tesis dan disertasi :D . Apa yang diceritakan oleh Pak Widhiarso mungkin belum bisa menggenapi seperempat ‘halaman pendahulan’. Dari cerita Pak Widhiarso itu, banyak sekali sejarah Laweyan maupun sejarah kota Solo pada umumnya yang baru saya ketahui. “Itu karena kalian jarang baca saja. Coba kalau kamu sudah baca novel Canting dari Arswendo Atmowiloto, sejarah Laweyan juga dibahas di dalamnya,” ujar pak tua yang saat itu berdiri di sebelah saya.

Di Laweyan juga terdapat tempat wisata religi, yaitu masjid Laweyan yang merupakan masjid tertua di kota Solo. Persis di sebelah barat masjid ini terdapat komplek pemakaman. Di situ terdapat makam Ki Ageng Henis, dialah orang pertama yang memperkenalkan teknik pembuatan batik di Laweyan. Ki Ageng Henis juga dianggap sebagai moyang raja-raja Mataram Islam.

Kalau Anda berkunjung ke Laweyan, coba berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit di kampung batik ini. Tembok-tembok tinggi, tua, dan kokoh seolah bercerita tentang kajayaan pengusaha batik Laweyan masa lalu. Bayangkan saja, rumah para saudagar batik jaman dulu bisa sampai seluas 10.000 m²! Perjalanan menyusuri gang-gang sempit yang diapit tembok-tembok tinggi di kampung Laweyan bagaikan sebuah perjalanan menuju masa lalu. Masa lalu, di mana Mas Nganten (suami) masih sibuk nyeteti manuk (main burung), dan Mbok Mase (istri) sibuk mengurusi usaha batik.Menyusuri gang sempit Laweyan

Posting terkait:

Kunjungan Bengawan di Laweyan
Batik Solo
Menziarahi Laweyan, Menggenapi “Ke-Solo-an”
Batik Itu, Ya Laweyan
Jelajah Kampoeng Laweyan!

© Foto oleh Dony Alfan S

Categories: Umum