Arsip

Archive for the ‘Umum’ Category

Romansa Wonosobo

28 Juli 2009 66 komentar

Wisata Blogger di Wonosobo

Sunrise Dieng - Wonosobo

Sebelumnya saya tak terlalu mengenal Wonosobo, berkunjung pun belum pernah. Yang saya tahu, Wonosobo itu identik dengan Dieng, hawa dingin, dan khasiat purwoceng yang melegenda. Sampai akhirnya seorang paman tuwa mengajak saya mengunjungi Wonosobo untuk sekadar dolan. Setelah kunjungan pertama tersebut, saya selalu kangen dengan Wonosobo dan hawa dinginnya, keinginan untuk kembali tersimpan dalam hati. Read more…

Categories: Bloglife, Indonesia-ku, Umum

Memotret Bulan

12 Juli 2009 37 komentar

Menangkap romantisme bulan purnama

Bulan Purnama...

Let’s swim to the moon
Let’s climb through the tide
You reach your hand to hold me
But I can’t be your guide
Easy, I love you
As I watch you glide
Falling through wet forests
On our moonlight drive, baby
Moonlight drive

(Moonlight Drive – The Doors)

Kebanyakan anak muda generasi saya mungkin sudah melupakan romantisme bulan purnama, terangnya sudah kalah oleh lampu-lampu kota, juga tak semeriah lampu disco. Hanya lagu dan puisi yang sesekali mengingatkan kita akan keindahan purnama. Read more…

Categories: Imej, Umum

Sang Putra Daerah

4 Maret 2009 60 komentar

Sang putra daerah
Meskipun sama-sama menggunakan tagline ‘putra daerah’, pemilik blog ini dan calon legislator (caleg) itu jelas memiliki kecakapan yang berbeda. Dan sejujurnya, keduanya tak bisa dibandingkan. Si caleg itu jelas sangat peduli dan aktif berkarya, kalau tak peduli dan ogah berkarya ngapain jadi caleg? Sama juga bohong lah yaw. Peduli dan mau berkarya itu bisa digambarkan dengan memboncengkan seorang abdi dalem Keraton yang sudah renta. Bukankah ‘diboncengi’ dan ‘memboncengi’ itu sangat dekat dengan dunia politik? Read more…

Categories: Umum

Kampung Batik Laweyan Solo

22 Januari 2009 92 komentar

Batik, aroma malam, dan perjalanan menuju masa lalu

Batik tulis dan cap, Laweyan Solo

“Ini warnanya cuma coklat aja ya?” tanya seorang pemuda sembari menunjuk tumpukan kain putih yang lapisan atasnya baru tertutupi lilin. Pemuda tadi menganggap bahwa proses pembuatan batik cap dan tulis itu sama dengan teknik sablon, padahal sama sekali berbeda. Ternyata banyak anak muda jaman sekarang yang belum paham bagaimana proses pembuatan batik.

Mengenalkan proses pembuatan batik adalah satu alasan kenapa kawan-kawan Bengawan mengadakan kunjungan ke kampung batik Laweyan. Pak Gunawan, pemilik usaha batik Putra Laweyan menyambut blogger-blogger Solo ini dengan hangat. Dan mengajak kami blusukan ke tempat produksi batik miliknya.

Aroma malam (lilin) yang meleleh begitu eksotik tercium hidung. Di tempat produksi yang sederhana dan masih tradisional ini batik-batik berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah dibuat. Para pembatik wanita terlihat lihai menggoreskan canting di atas kain, beberapa gadis muda juga terlihat tengah membatik dengan tekun, mereka adalah siswi dari sebuah SMK yang sedang PKL di tempat ini. Semoga saja gadis-gadis muda itu bisa dan mau menjadi generasi penerus dari pembatik wanita yang sudah mulai uzur. Sedangkan pekerja pria ada yang bertugas membuat pola di atas kain polos, membuat batik cap, mewarnai batik, dan nglorot – melepas lapisan lilin dari kain. Sekilas, pembuatan batik cap itu terlihat mudah, padahal sebenarnya susah. Cap berbahan tembaga itu lumayan berat terangkat, dan musti dicapkan di atas kain dengan presisi, tidak boleh melenceng sedikit pun.

Pak Widhiarso, pengurus harian Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, juga menceritakan sejarah kampung Laweyan. Sejarah Laweyan ternyata lebih panjang ketimbang sejarah Keraton Kasunanan, karena Laweyan sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang, sebelum akhirnya terpecah-pecah. Panjangnya sejarah Laweyan ini kalau diceritakan semuanya bisa lebih panjang dari tesis dan disertasi :D . Apa yang diceritakan oleh Pak Widhiarso mungkin belum bisa menggenapi seperempat ‘halaman pendahulan’. Dari cerita Pak Widhiarso itu, banyak sekali sejarah Laweyan maupun sejarah kota Solo pada umumnya yang baru saya ketahui. “Itu karena kalian jarang baca saja. Coba kalau kamu sudah baca novel Canting dari Arswendo Atmowiloto, sejarah Laweyan juga dibahas di dalamnya,” ujar pak tua yang saat itu berdiri di sebelah saya.

Di Laweyan juga terdapat tempat wisata religi, yaitu masjid Laweyan yang merupakan masjid tertua di kota Solo. Persis di sebelah barat masjid ini terdapat komplek pemakaman. Di situ terdapat makam Ki Ageng Henis, dialah orang pertama yang memperkenalkan teknik pembuatan batik di Laweyan. Ki Ageng Henis juga dianggap sebagai moyang raja-raja Mataram Islam.

Kalau Anda berkunjung ke Laweyan, coba berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit di kampung batik ini. Tembok-tembok tinggi, tua, dan kokoh seolah bercerita tentang kajayaan pengusaha batik Laweyan masa lalu. Bayangkan saja, rumah para saudagar batik jaman dulu bisa sampai seluas 10.000 m²! Perjalanan menyusuri gang-gang sempit yang diapit tembok-tembok tinggi di kampung Laweyan bagaikan sebuah perjalanan menuju masa lalu. Masa lalu, di mana Mas Nganten (suami) masih sibuk nyeteti manuk (main burung), dan Mbok Mase (istri) sibuk mengurusi usaha batik.Menyusuri gang sempit Laweyan

Posting terkait:

Kunjungan Bengawan di Laweyan
Batik Solo
Menziarahi Laweyan, Menggenapi “Ke-Solo-an”
Batik Itu, Ya Laweyan
Jelajah Kampoeng Laweyan!

© Foto oleh Dony Alfan S

Categories: Umum

Sampah Yang Dipisah dan Dipilah

29 November 2008 21 komentar

Semoga tak sekedar gaya

Pilih kotak sampah yang bener, sesuai sampahnya

Tempat sampah berbahan plat stainless ini cukup mencolok jika dibanding tempat sampah lain yang biasanya berbahan plastik dan berwarna oranye. Apalagi saat siang yang terik, tempat sampah ini memantulkan sinar dari matahari, bikin silau, para pelintas bisa tertarik untuk melirik, istilahnya ‘nyolong fokus’. Di Solo, saya menjumpainya di tiga tempat, yakni di depan Balai Kota, Bank Indonesia, dan Kantor Pos besar, di tempat lain sepertinya juga ada, tapi saya lupa di mana.

Setiap jenis sampah punya tempatnya masing-masing, tulisan stiker di kotak sampah ini menuntun kita di kotak mana sampah musti dibuang, pilih antara logam, non logam, dan organik. Sungguh ajakan yang baik, supaya masyarakat paham memilah sampah.

Tapi, apakah petugas pengangkut sampah akan tetap memisahkan tiga jenis sampah itu? Saya tak tahu. Bisa jadi, saat tiba di Putri Cempo – Bantar Gebang-nya Solo – tiga jenis sampah itu kembali bercampur dan tercampur.

Manajemen sampah* tidak hanya soal pemilahan jenis sampah, tapi juga penanganan dari masing-masing jenisnya. Sampah organik diubah jadi kompos, sampah plastik bisa didaur ulang, sampah beling untuk dimakan kuda lumping :D , sampah logam seperti besi bisa dijual kiloan dan kemudian dilebur atau dicor di Ceper, Klaten. Atau seumpamanya ada orang yang membuang MacBook, iPod, dan Blackberry ke tempat sampah, itu sih saya juga bersedia memulungnya :mrgreen:

Kalau tempat sampah yang bagus itu sudah memilah sampah, tapi kemudian dicampur aduk jadi satu lagi ya percuma. Dipisah dan dipilah, untuk dicampur lagi kemudian? Semoga saja dugaan saya itu salah dan keliru.

* Bisakah Anda membedakan antara ‘manajemen sampah’ dengan ‘manajemen kelas sampah’? Hahaha …

Categories: Umum