Arsip

Archive for the ‘Mediacare’ Category

Mencoba Sebuah Tantangan Baru

16 Oktober 2008 55 komentar

Siang pada awal bulan puasa itu ada telpon masuk dari salah satu kenalan, saya masih terlelap, maklum baru tidur setelah sahur. Dia bilang, ada koran baru di Solo yang sedang butuh reporter. Kalau mau, saya disuruh datang ke kantor koran itu. Mata saya masih kriyip-kriyip, belum sepenuhnya bangun, tanpa berpikir lama saya jawab, “Yo, aku gelem.”

Hari itu juga, saya langsung bertemu calon-calon atasan. Saya tunjukkan kepada meraka beberapa posting di blog ini dan blog Dolan ke Solo – yang sebenarnya tak cocok dijadikan portofolio, karena bukan halaman jurnalistik, lagipula isinya juga tak berbobot. Menurut mereka, saya kurang pas untuk menjadi reporter yang melaporkan hal-hal tertentu seputar lifestyle, gaya penulisan saya dianggap masih terlalu berat, kurang ringan, dan lebih cocok untuk rubrik-rubrik lain. Ternyata koran ini bukan koran harian biasa, tapi koran iklan yang terbit mingguan. Artikel-artikel di dalamnya hanya berbentuk feature.

Mungkin mereka sudah desperate mencari reporter lain, waktunya sudah terlalu mepet, akhirnya mereka jadi juga hire saya. Tanpa ada kontrak kerja apapun yang musti saya tanda tangani, maupun pembahasan soal gaji. Esok harinya langsung dapat assignment, disuruh meliput ke beberapa tempat, sekaligus melakukan interview. Kalo dihitung, selama tiga hari pertama kerja saya sudah melakukan liputan di belasan lokasi, termasuk interview dengan banyak narasumber. Deadline sudah dekat, tiap malam musti lembur sampai sahur untuk nulis artikel, esoknya liputan lagi. Capek badan, capek pikiran, sudah pasti.

Minggu itu hanya saya satu-satunya reporter yang ada. Naik brompit keliling kota bersama seorang tukang jepret dadakan. Saya ‘bersenjatakan’ hand-recorder, pulpen, plus notes (baca: no-tes) kecil cap KERA yang disampulnya ada gambar kera sedang menulis. Berteman terik matahari, peluh, hitam asap polusi, dan debu jalanan. Untungnya puasa saya tidak bolong, tapi pasti amalan puasa telah banyak berkurang. Maklum, di jalan saya sering mengumpat dalam hati. Benar-benar satu minggu yang berat di awal bulan puasa. Syukurlah, minggu depannya ada bala bantuan dari dua reporter lain dan seorang jurnalis foto senior. Kerja saya agak enteng.

Si bos coba menilai hasil kerja saya di minggu pertama, dia tidak puas. Artikel-artikel dari saya dianggap masih kurang ciamik. Saya berkilah, “Harusnya ini ya dikoreksi dan diedit dulu sama redaktur, dia ahlinya.” Rupanya posisi redaktur masih kosong, redaktur lama sudah keluar. Ternyata saya memang tidak bisa menulis ala koran iklan ini. Sudah saya paksakan, tapi jadinya malah lucu dan wagu. Saya memang pandir.

Meskipun pandir, sedikit-sedikit saya sudah tahu tentang teknik penulisan jurnalistik, bangku kuliah lah yang mengajarkannya – meski belum jadi sarjana juga :D . Praktek mencari dan membuat berita sudah beberapa kali. Dari model cetak, radio, sampai tivi. Pengalaman kerja, saya tak punya. Terus terang baru kali ini saya bekerja, di sebuah media massa pula. Mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis, tentu tanggung jawabnya berbeda dengan menulis di blog. Seorang kawan lama berpendapat, kerja di media massa itu banyak dosanya, ada banyak kepentingan-kepentingan yang bermain disana. “Mendingan aku sendiri deh yang bodoh, daripada aku disuruh bikin banyak orang jadi bodoh,” begitu yang dia tuliskan di ruang chat, sangat idealis memang. Padahal bisa juga berlaku sebaliknya: media massa itu mencerdaskan. “Every tool is a weapon – if you hold it right,” Ani DiFranco dalam salah satu lirik lagu yang ditulisnya.

Banyak pengalaman dan pelajaran baru yang saya dapat dari pekerjaan ini. Dimana saya harus melakukan pendekatan-pendekatan dengan narasumber supaya mereka mau ngomong banyak, sekaligus mengenali beragam karakteristiknya agar saya bisa menyesuikan diri. Paling susah kalau dapat narasumber yang sejak awal sudah pasang tampang jutek, cemberut. Beberapa kali saya ditolak untuk melakukan interview dan liputan oleh narasumber. Mungkin di benak mereka kadung ada stigma negatif terhadap profesi pewarta – reporter, wartawan, jurnalis. Saya berusaha sabar saja – aslinya bukan tipe penyabar, hehe. Semuanya dilakukan demi mendapatkan informasi sebanyak bisa tergali. Disitu saya juga belajar menulis cepat dibawah tekanan, merasakan rush dan excitement saat kejar deadline. Benar-benar sebuah tantangan baru.

Baru sebulan bekerja, dengan alasan ini dan itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri, toh tidak terikat kontrak kerja. Anehnya, si bos yang kurang sreg dengan tulisan saya itu justru berusaha menahan saya agar tetap bekerja di situ. Gaji yang saya terima cukup lumayan, tapi saya tetap memilih untuk keluar. “Kowe iki nyat kethoke ora cocok dadi wong gajian, patuté dadi bos,” ujar si semprul sontoloyo, seorang mantan reporter radio – sekarang pindah ke cetak juga rupanya. Aha, kalau memang yang dia bilang itu benar, sepertinya saya bisa mencoba tantangan baru lagi, bikin koran sendiri mungkin, haha. Pemilik kumpeni, pemodal, pimpinan redaksi, dan reporter, nanti semuanya dipegang oleh satu orang: saya sendiri. Itu pun masih merangkap lagi sebagai pembaca tunggal, hwarakadah!

PS: Kalau dipikir-pikir, saya memang tak pandai menulis, tak layak jadi reporter. Kera di sampul notes itu pasti lebih pandai menulis, seharusnya dia yang jadi reporter, bukan saya :D . Ajari aku menulis, wahai kera…

© Ilustrasi oleh Dony Alfan

Categories: Mediacare, Personal

Krisis Listrik dan Pembatasan Jam Siaran TV

13 Agustus 2008 14 komentar

Sepertinya krisis listrik kembali terjadi di Indonesia. Pabrik-pabrik dibatasi dan dialihkan jam kerjanya, kantor-kantor pemerintahan dihimbau untuk berhemat, dan siaran televisi juga kena dampaknya. Stasiun televisi kembali membatasi jam siarnya. Ini mengingatkan saya akan kejadian serupa beberapa tahun lalu, pemerintah memberikan instruksi untuk membatasi jam siaran televisi, hal itu berlangsung beberapa bulan, sampai akhirnya stasiun tv kembali beroperasi 24 jam, padahal tak jelas apakah instruksi itu sudah dicabut atau belum.

Saat ini grup MNC, SCTV, ANTV, Indosiar, grup Trans Corp, dan TV One sudah berhenti siaran pada sekitar pukul 1 WIB, dan kembali siaran pada pukul 4 pagi. Hanya Metro TV saja yang masih nekat siaran 24 jam. Pastinya pembatasan jam siar ini tak akan berlangsung lama, maklum sebentar lagi kan Ramadan. Slot iklan pada jam sahur tak kalah larisnya dibanding prime time, jaman sekarang makan sahur pun musti ditemani televisi. Setelah Ramadan nanti tak tahu apakah pembatasan masih berlaku.

Berhenti siaran selama 3 jam bukanlah masalah besar. Hanya manusia nocturnal – masih melek, saat orang lain sudah pada tidur – yang mempermasalahkan, mereka seperti kehilangan cagak lek alias aktivitas yang bikin betah melek.

Padahal acara-acara tv pada dini hari itu kadang lebih bagus ketimbang prime time yang selalu dipenuhi dengan sinetron-sinetron. Banyak film-film bagus justru diputar pada jam tayang yang tidak populer. Saya pernah nonton film You’ve Got Mail dan Lock, Stock, and Two Smoking Barrels diputar sekitar pukul 2 pagi, kalau tidak salah di Indosiar.

Kembali pada masalah listrik tadi, negeri ini sebenarnya berlimpah sumber energi, ada pilihan lain selain bahan bakar fosil. Panas bumi, sinar matahari, angin, air, tapi kita belum bisa mengelolanya dengan baik dan tentu saja nilai investasinya besar. Wacana lainnya adalah goes nuclear. Memang bisa menjadi salah satu opsi, tapi banyak juga yang menentang. Saya sih setuju-setuju saja, asal PLTN-nya tidak berada di dekat lingkungan rumah, sono yang jauh, not in my backyard! Egois, mau enaknya doang, nggak mau nanggung resikonya, oportunis, atau apalah, haha.

PLN ngakunya sering merugi, bahkan beberapa PLTU ada yang masih memiliki hutang kepada pemasok batubara. Apa iya semua BUMN itu merugi, kalau sudah begitu lalu dijual murah ke pihak asing? Terus Indonesia punya apa dong? Semoga saja martabat bangsa masih tersisa, tak ikut tergadai.

PLN itu menurut saya aneh, lha wong listrik dagangannya laris kok malah disuruh membatasi pemakaian, mengurangi konsumsinya. Nolak rejeki itu namanya, iyo ra? Ajakan hemat energi itu bagus, tapi kalau terlalu hemat dan irit – satu rumah cukup pakai 50 watt misalnya – PLN juga yang bakal rugi. Atau mungkin juga tidak, karena listriknya bisa dijual lebih mahal ke negara tetangga :P .

Tentang Koleksi Kaset

13 Agustus 2008 7 komentar

Masihkah Anda menyimpannya?

Saya baru sadar, ternyata cukup lama juga saya tidak mendengarkan musik dari kaset. Kemarin bersih-bersih kamar, laci yang berisi puluhan kaset itu kembali saya tengok, setelah sekian lama tidak dibuka.

Kira-kira sudah sejak SMP saya membeli kaset, hobi saja mendengarkan musik, tapi sama sekali tidak bisa memainkannya :D . Tak mudah saya membeli kaset-kaset itu, untuk satu album barat saya musti nabung, maklum dulu kéré – sekarang juga masih.

Kaset tidak begitu tahan lama, jika terlalu sering diputar jadi gampang nglokor. Selain itu juga ribet kalau mau menuju track tertentu, belum lagi dengan side A dan B nya. Tape deck dan walkman pun tak laku lagi, pemutar cakram CD/DVD dan MP3 player seperti iPod jadi pengganti.

Saat ini harga kaset kosong masih lebih mahal ketimbang CD blank kelas termurah yang cuma 1500 rupiah. Tapi anehnya, CD musik original harganya jauh berlipat dibanding kaset original. Maka yang laris adalah adalah CD bajakan, soal kualitas bisa jadi nomor dua, asal kuping Anda bukan kelas priyayi.

Ya kaset memang telah menjadi barang usang, lawas, jadul, vintage, tak semua album baru masa kini hadir dalam bentuk kaset, beberapa hanya sedia dalam bentuk CD. Meski begitu, kaset tetap layak koleksi, jadi klangenan. Koleksi kaset saya yang paling lawas adalah album Fenomena dari Search yang terkenal dengan lagu Isabella itu, kaset ini tinggalan dari almarhum kakak saya. Sedangkan kaset yang terakhir saya beli adalah kaset dagelan Basiyo, terbeli sekitar setahun yang lalu di Lokananta Solo.


Masihkah Anda menyimpan kaset? Kaset apa yang paling Anda sukai?

Categories: Mediacare, Umum

Blogger di Tengah Era Citizen Journalism

3 Mei 2008 21 komentar

Anda bisa menjadi ‘jurnalis’

Koran Blog

Saat terjadi tsunami di Aceh beberapa tahun lalu, kita bisa melihat detik-detik awal terjadinya bencana tersebut melalui televisi. Dan stok-stok gambar bergerak tersebut kebanyakan bukanlah hasil kerja wartawan, melainkan dari masyarakat biasa yang kebetulan membawa kamera video dan merekam kejadian itu. Memang gambar video tersebut berkualitas rendah –banyak goyang, blur, dan ber-resolusi rendah- , tapi justru mengandung nilai berita yang sangat tinggi. Konon Reuters justru membagikan Nokia N75 kepada respondennya agar bisa melakukan liputan secara langsung saat ada peristiwa yang tak terduga.

Ya, sekarang ini masyarakat awam sekalipun sudah bisa terlibat dalam jurnalisme media massa, meski masih sangat terbatas. Metro TV selama ini sudah rutin menerima video kiriman dari masyarakat, dan menayangkannya dalam program Suara Anda, Snapshot, dan program barunya I-Witness. Anda tidak perlu memiliki kamera video dengan 3 CCD, karena rekaman dari kamera handphone pun diterima, asalkan mengandung nilai berita. Sedangkan media cetak, seperti Republika dan Media Indonesia juga sudah mulai ‘membuka diri’ atas citizen journalism dengan memuat artikel dan foto dari publik. Posisi masyarakat yang dulu hanya menjadi khalayak pengkonsumsi media, sekarang ini juga bisa memposisikan dirinya sebagai komunikator melalui media massa.

Sebenarnya kita bisa mengaplikasikan citizen journalism tanpa harus melalui media massa jenis old fashion –koran, tv, radio. Yakni melalui blog, meski pengaksesnya tak sebanyak media massa old fashion, tapi blog juga memiliki pengaruh yang besar, bahkan blog bisa dibilang lebih demokratis dan liberal dibanding media massa biasa. Blog hampir tidak dibatasi oleh etika apapun, inilah perbedaan mendasar antara citizen journalism versi blog dengan versi media massa. Citizen journalism versi media massa harus terlabih dahulu berada di meja redaksi sebelum dipublikasikan, demi menjaga objektivitas, netralitas, dan nilai kebenaran.

Sedangkan citizen journalism versi blog, pemilik blog lah yang menangani semuanya, dari mulai sebagai ‘wartawan’, ‘redaktur’, hingga menangani publikasinya. Tapi dampak dari media blog ternyata tidak kalah dibanding media massa old fashion. Pada waktu pemilihan Presiden AS tahun 2004, baik kubu Demokratik maupun Republik memberikan surat ijin pers kepada blogger untuk meliput konvensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa blogger juga memiliki kredibilitas dan pengaruh. Contoh lain, menteri dari negeri seberang sampai mencak-mencak gara-gara tulisan di blog.

Web seperti Wikimu.com secara kasat mata menampung tulisan-tulisan dari masyarakat biasa. Web ini mulai dari awal sudah memproklamirkan diri sebagai web citizen journalism. Selain Wikimu, masih ada lagi Panyingkul.com, Kabarindonesia.com, dan masih banyak lagi. Kalau Anda memang gemar menulis, silakan menjadi anggotanya.

Blog bukanlah barang suci, tapi ingatlah bahwa media massa sekalipun kadang kala juga bisa tidak suci. Selalu saja ada ‘tangan tak terlihat’ dan ‘kepentingan lain’ yang mempengaruhi netralitas penyajian informasi. Kalau sudah begitu, blog dan media massa harusnya bisa saling mengisi, melengkapi, dan mengingatkan.

Lalu kita sebagai pengakses blog dan sekaligus media massa musti bagaimana? Ya, pandai-pandai lah menyaring informasi, ‘kunyah dulu’ dan ‘rasakan’, jangan langsung ‘telan’, karena Anda sendiri sebenarnya bisa menjadi watch dog dari sebuah media.

PS: Orang di sebelah mengaku sudah lama melakukan watchdogging terhadap blog saya ini. Dia bilang, blog ini penuh kibul dan omong kosong belaka.

Wah, saya jadi merasa bersalah dengan Anda semua yang pernah berkunjung ke blog ini, semoga Anda tidak menuntut saya untuk mengembalikan uang yang terbuang percuma untuk membayar bandwidth saat mengakses blog ini. Saya benar-benar mohon ampun, pembaca blog yang bijak dan budiman harap maklum.

Categories: Bloglife, Gombalan, Mediacare

Tren Koran Edisi Siang

2 Maret 2008 15 komentar

Ada yang menyusul setelah Sindo dan Kompas

Iklan Media Indonesia edisi siang
Setiap detik, di bumi ini selalu saja ada peristiwa yang layak diberitakan. Tuntutan di jaman modern, khalayak butuh update informasi secepat mungkin, maka radio, televisi, dan internet pun hadir untuk memenuhi tuntutan itu. Bagaimana dengan koran? Ya, media cetak itu ternyata belum punah tergerus oleh media yang lebih canggih.

Mulai Senin (25/2) kemarin Media Indonesia (MI) terbit dua kali dalam sehari, edisi pagi (reguler) dan edisi siang. Apa yang dilakukan Media Indonesia ini sebenarnya bukan terobosan baru, Seputar Indonesia (Sindo) adalah koran pertama yang terbit dua kali, kemudian disusul Kompas dengan edisi Update yang cuman seribu rupiah itu.

Sayangnya saya belum pernah membaca MI edisi siang, saya tahunya juga cuma dari iklan di dalam MI edisi pagi, jadi belum bisa bercerita banyak. Di dusun saya, koran ini belum begitu banyak yang baca, kalah telak dengan koran terbitan lokal.

Jika menginginkan informasi terbaru kan sudah ada radio dan tv? Jadi untuk apa ada koran siang? Dibanding radio dan tv, koran tetap menyimpan kekuatannya. Sifat radio dan tv hanya menyajikan informasi sekelebat saja, kita tidak bisa mengulang informasi yang terlewat, penulisan naskah berita dalam radio dan tv menganut prinsip “keep it short and simple” alias tidak bertele-tele. Sedangkan dengan koran, kita bisa mengulang atau membaca kembali informasi yang terlewat dan terlupa. Kalau mau, anda bisa menyimpan halaman informasi tersebut, itulah yang disebut kliping. Informasi yang disajikan oleh koran biasanya juga lebih komplit dan mendetail.

Lalu bagaimana dengan internet, kan kita cukup berlangganan RSS-nya saja tho? Alasan klasik, di Indonesia belum banyak orang yang mempunyai sambungan internet di rumah, saya saja ngeblog masih lewat warnet.

Bagi khalayak, koran siang bisa menjadi alternatif lain dalam memenuhi kebutuhan akan informasi terbaru. Sedangkan bagi pemodalnya, koran siang juga berarti membuka lahan bisnis baru, orang Jawa bilang, “babat alas”.

PS: Sepertinya saya tidak cocok membaca koran MI edisi siang ini, karena di iklannya tertulis: Untuk Anda yang muda, sibuk, cerdas, kritis, dan berpikiran global. Saya memang muda, tapi tidak sibuk, tidak cerdas, tidak kritis, dan tidak berpikiran global.

Yang pasti itu adalah Anda, bukan saya

Categories: Mediacare