Mencoba Sebuah Tantangan Baru

Siang pada awal bulan puasa itu ada telpon masuk dari salah satu kenalan, saya masih terlelap, maklum baru tidur setelah sahur. Dia bilang, ada koran baru di Solo yang sedang butuh reporter. Kalau mau, saya disuruh datang ke kantor koran itu. Mata saya masih kriyip-kriyip, belum sepenuhnya bangun, tanpa berpikir lama saya jawab, “Yo, aku gelem.”
Hari itu juga, saya langsung bertemu calon-calon atasan. Saya tunjukkan kepada meraka beberapa posting di blog ini dan blog Dolan ke Solo – yang sebenarnya tak cocok dijadikan portofolio, karena bukan halaman jurnalistik, lagipula isinya juga tak berbobot. Menurut mereka, saya kurang pas untuk menjadi reporter yang melaporkan hal-hal tertentu seputar lifestyle, gaya penulisan saya dianggap masih terlalu berat, kurang ringan, dan lebih cocok untuk rubrik-rubrik lain. Ternyata koran ini bukan koran harian biasa, tapi koran iklan yang terbit mingguan. Artikel-artikel di dalamnya hanya berbentuk feature.
Mungkin mereka sudah desperate mencari reporter lain, waktunya sudah terlalu mepet, akhirnya mereka jadi juga hire saya. Tanpa ada kontrak kerja apapun yang musti saya tanda tangani, maupun pembahasan soal gaji. Esok harinya langsung dapat assignment, disuruh meliput ke beberapa tempat, sekaligus melakukan interview. Kalo dihitung, selama tiga hari pertama kerja saya sudah melakukan liputan di belasan lokasi, termasuk interview dengan banyak narasumber. Deadline sudah dekat, tiap malam musti lembur sampai sahur untuk nulis artikel, esoknya liputan lagi. Capek badan, capek pikiran, sudah pasti.
Minggu itu hanya saya satu-satunya reporter yang ada. Naik brompit keliling kota bersama seorang tukang jepret dadakan. Saya ‘bersenjatakan’ hand-recorder, pulpen, plus notes (baca: no-tes) kecil cap KERA yang disampulnya ada gambar kera sedang menulis. Berteman terik matahari, peluh, hitam asap polusi, dan debu jalanan. Untungnya puasa saya tidak bolong, tapi pasti amalan puasa telah banyak berkurang. Maklum, di jalan saya sering mengumpat dalam hati. Benar-benar satu minggu yang berat di awal bulan puasa. Syukurlah, minggu depannya ada bala bantuan dari dua reporter lain dan seorang jurnalis foto senior. Kerja saya agak enteng.
Si bos coba menilai hasil kerja saya di minggu pertama, dia tidak puas. Artikel-artikel dari saya dianggap masih kurang ciamik. Saya berkilah, “Harusnya ini ya dikoreksi dan diedit dulu sama redaktur, dia ahlinya.” Rupanya posisi redaktur masih kosong, redaktur lama sudah keluar. Ternyata saya memang tidak bisa menulis ala koran iklan ini. Sudah saya paksakan, tapi jadinya malah lucu dan wagu. Saya memang pandir.
Meskipun pandir, sedikit-sedikit saya sudah tahu tentang teknik penulisan jurnalistik, bangku kuliah lah yang mengajarkannya – meski belum jadi sarjana juga
. Praktek mencari dan membuat berita sudah beberapa kali. Dari model cetak, radio, sampai tivi. Pengalaman kerja, saya tak punya. Terus terang baru kali ini saya bekerja, di sebuah media massa pula. Mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis, tentu tanggung jawabnya berbeda dengan menulis di blog. Seorang kawan lama berpendapat, kerja di media massa itu banyak dosanya, ada banyak kepentingan-kepentingan yang bermain disana. “Mendingan aku sendiri deh yang bodoh, daripada aku disuruh bikin banyak orang jadi bodoh,” begitu yang dia tuliskan di ruang chat, sangat idealis memang. Padahal bisa juga berlaku sebaliknya: media massa itu mencerdaskan. “Every tool is a weapon – if you hold it right,” Ani DiFranco dalam salah satu lirik lagu yang ditulisnya.
Banyak pengalaman dan pelajaran baru yang saya dapat dari pekerjaan ini. Dimana saya harus melakukan pendekatan-pendekatan dengan narasumber supaya mereka mau ngomong banyak, sekaligus mengenali beragam karakteristiknya agar saya bisa menyesuikan diri. Paling susah kalau dapat narasumber yang sejak awal sudah pasang tampang jutek, cemberut. Beberapa kali saya ditolak untuk melakukan interview dan liputan oleh narasumber. Mungkin di benak mereka kadung ada stigma negatif terhadap profesi pewarta – reporter, wartawan, jurnalis. Saya berusaha sabar saja – aslinya bukan tipe penyabar, hehe. Semuanya dilakukan demi mendapatkan informasi sebanyak bisa tergali. Disitu saya juga belajar menulis cepat dibawah tekanan, merasakan rush dan excitement saat kejar deadline. Benar-benar sebuah tantangan baru.
Baru sebulan bekerja, dengan alasan ini dan itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri, toh tidak terikat kontrak kerja. Anehnya, si bos yang kurang sreg dengan tulisan saya itu justru berusaha menahan saya agar tetap bekerja di situ. Gaji yang saya terima cukup lumayan, tapi saya tetap memilih untuk keluar. “Kowe iki nyat kethoke ora cocok dadi wong gajian, patuté dadi bos,” ujar si semprul sontoloyo, seorang mantan reporter radio – sekarang pindah ke cetak juga rupanya. Aha, kalau memang yang dia bilang itu benar, sepertinya saya bisa mencoba tantangan baru lagi, bikin koran sendiri mungkin, haha. Pemilik kumpeni, pemodal, pimpinan redaksi, dan reporter, nanti semuanya dipegang oleh satu orang: saya sendiri. Itu pun masih merangkap lagi sebagai pembaca tunggal, hwarakadah!
PS: Kalau dipikir-pikir, saya memang tak pandai menulis, tak layak jadi reporter. Kera di sampul notes itu pasti lebih pandai menulis, seharusnya dia yang jadi reporter, bukan saya
. Ajari aku menulis, wahai kera…
© Ilustrasi oleh Dony Alfan















Komentar