Arsip
Memotret Asap
Menangkap wujud detail asap

Gold Wave
Sekilas, imej di atas tampak seperti hasil olahan desain grafis. Padahal imej tersebut adalah hasil tangkapan kamera, meskipun sudah banyak bersentuhan dengan olah editing digital, tetapi masih bisa disebut foto.
Read more…
Memotret Bulan
Menangkap romantisme bulan purnama

Let’s swim to the moon
Let’s climb through the tide
You reach your hand to hold me
But I can’t be your guide
Easy, I love you
As I watch you glide
Falling through wet forests
On our moonlight drive, baby
Moonlight drive(Moonlight Drive – The Doors)
Kebanyakan anak muda generasi saya mungkin sudah melupakan romantisme bulan purnama, terangnya sudah kalah oleh lampu-lampu kota, juga tak semeriah lampu disco. Hanya lagu dan puisi yang sesekali mengingatkan kita akan keindahan purnama. Read more…
Mengingatkan, Gimana Enaknya?
Saat kata-kata tak lagi mempan, imej pun mengambil alih peranan
Banyak cara untuk mengingatkan sesama, menuju kebaikan tentunya, bukan malah mengajak ke lembah dosa. Namanya juga mengingatkan, bukan menjerumuskan. “Ngajak golek dalan padhang”, orang Jawa bilang.
Hari Minggu, jalanan agak lengang, mungkin orang-orang lebih memilih ngendon dan ‘angrem’ di rumah. Di siang yang cerah dan panas itu saya melintas di daerah Pasar Kliwon, daerah ini terkenal sebagai kampung Arab-nya Kota Solo. Dan saya menemukan spanduk ini, kalimatnya memang sudah biasa terdengar dan terbaca, banyak bertebaran dimana-mana, di musholla hingga blog, “Sholatlah sebelum Anda disholatkan”.
Tapi rupanya, bagi orang pokrol seperti saya, kata-kata seperti itu cuman masuk lewat kuping kiri, dan keluar lewat kuping kiri lagi. Kok keluar lewat kuping kiri lagi? Iya, kalo keluar kuping kanan, pasti masih ada ‘ampas-ampasnya’ di salah satu partisi memori. Lha kalo keluar lewat kuping kiri lagi, tak ada ampas yang tertinggal. Lalu kita pun biasa berlindung dibalik kata lalai, lupa, dan alpa.
Saat kata-kata tak bisa lagi berperan banyak, maka imej, gambar, dan visual pun dihadirkan. Ya, foto sebuah bandoso (keranda) dan jenasah yang sudah dikafani pun hadir di bawah kalimat itu. Sungguh tajam pesan yang disampaikan, dan apa adanya. Shock therapy, bung! Bagi yang melihat diharapkan bisa merenung, sekaligus mengingat.
Tak perlu ada yang tersinggung, kebenaran kadang memang terasa pahit. Masing-masing individu dituntut untuk ngilo githoke dewe, menilai diri sendiri, tak perlu lah nduding orang lain.
Mengingatkan bukan berarti memaksakan. Biarlah masing-masing individu mendapatkan pencerahannya. Sebuah pencerahan spiritual yang bersifat personal, yang tentu saja tak bisa dipaksakan.
Anda dan saya bisa saling mengingatkan…
PS: Jujur sholat saya masih banyak bolongnya, terutama sholat Subuh
© Foto: Dony Alfan
Kamera Digital
Teknologi telah memberi kemudahan, tapi manusia tak pernah puas
Kira-kira kapan terakhir kali anda memakai kamera film? Si juru potret itu justru belum lama beralih ke D-SLR, dia semakin antusias mengajak teman-temannya untuk menekuni hobi fotografi, tiap hari maunya ngajak hunting terus, mentang-mentang nganyari, ha ha.
Dulu, praktek mata kuliah fotografi, saya dan teman-teman seangkatan masih diajari motret dengan Nikon FM 10, termasuk praktek cuci cetak film di kamar gelap. Ada perdebatan seputar bagaimana mengawali belajar fotografi, apakah dari analog lalu meningkat ke digital, atau mending langsung pakai digital. Untuk masalah itu, Iman Brotoseno pasti punya pendapatnya.
Tak bisa dipungkiri dunia fotografi digital memang semakin banyak digunakan, dari yang kelas kamera kwaci, prosumer, hingga kelas pro. Irit dan efisien, kita tak perlu lagi beli rol film dengan berbagai tingkatan ISO dan mencuci cetak hasil jepretan di lab. Kalau anda punya printer yang bagus, maka anda bisa mencetaknya di rumah, atau mungkin sudah cukup puas hanya dengan melihatnya di layar monitor. Beruntunglah kita hidup di era teknologi digital, kemudahan-kemudahan yang kita rasakan adalah berkah.
Tapi rupanya manusia tak pernah puas, kita selalu saja menuntut lebih. Saya teringat salah satu artikel di Kompas bulan Desember kemarin, tentang kamera yang diinginkan oleh fotografer. Kamera yang dimaksud bukanlah kamera dengan merek dan tipe tertentu, tapi kamera yang ‘seandainya’ bisa begini dan begitu, dengan fitur ini dan itu. Artikel itu menuliskan beberapa hal yang diperlukan dalam sebuah kamera idaman, antara lain: kamera yang ringan dan mungil tapi kemampuan rekamnya 50 megapixel , kamera yang bisa memotret hingga ISO 50.000 tapi fotonya tetap berbutir halus, kamera yang tanpa under water housing bisa dipakai menyelam hingga kedalaman 50 meter , kamera yang lensanya tak perlu diganti-ganti lagi karena range zoom-nya dari 10mm-600mm, kamera dengan hard disk yang bisa menyimpan hingga 1 juta gambar, dan kamera yang fokusnya diatur oleh pikiran.
Namanya juga kamera khayalan, sama halnya seperti kita membayangkan gimana rasanya naik mobil terbang. Tapi teknologi terus berkembang, bukan tidak mungkin kamera khalayan itu bisa menjadi kenyataan, memberi kemudahan melebihi dari yang bisa kita rasakan saat ini, bahkan bisa jadi melebihi ekspektasi. Yah, siapa tau.
Ilustrasi: mbuh














Komentar