Arsip

Archive for the ‘Cigaret’ Category

Rokoknya Kelihatan

15 Januari 2009 73 komentar

Lucky Strike pack

Sebenarnya saya bukanlah penikmat rokok putih. Menghisapnya hanya sesekali saja, kalau pas kepingin, itu pun cuma minta teman atau beli eceran. Tapi beberapa waktu yang lalu, saya agak jenuh dengan aroma cengkeh. Lalu saya memutuskun untuk membeli rokok putih, bukan eceran tapi sebungkus, pilihan jatuh pada Lucky Strike, salah satu seteru Marlboro.

Posting ini tidak bermaksud untuk mengiklankan Lucky Strike, lagipula blog ini juga tak mendapat sponsorship dari British American Tobacco (BAT). Sudah sejak dulu, sewaktu masih menginduk di blogspot, saya memang tertarik untuk menulis soal rokok. Bahkan saya mengelompokkannya dalam satu kategori sendiri: Cigaret. Tapi kategori itu memang jarang ter-update, biarlah soal rokok ini menjadi urusan Djoko Santoso.

Menurut saya hampir semua rokok putih itu rasanya seragam, susah bagi saya untuk membedakan rasa dari masing-masing mereknya. Jadi, kalau Anda menyodorkan sebatang Kansas atau Pall Mall, dan Anda mengaku bahwa itu Marlboro, saya tak akan sadar kalau sudah dibohongi dan dikibuli.

Maka saya tak tertarik untuk membahas bagaimana rasa asap Lucky Strike. Bagi saya desain kemasan Lucky Strike lebih menarik daripada rasanya. Merek rokok ini memang selalu melakukan revolusi terhadap desain bungkus atau kemasannya. Dulu sekali Lucky Strike pernah hadir dalam edisi terbatas, bungkusnya bergambar mobil F1 dan bukaan bungkusnya menyamping, bukan dari atas. Ada lagi model bungkus yang unik, bagian bawah bungkusnya bisa didorong ke atas, bungkus bagian dalam akan terangkat, dan secara otomatis bungkusnya langsung terbuka, rokok bisa diambil dengan mudah. Sayang saya tak sedia fotonya, jadi mungkin agak susah bagi Anda untuk sekadar membayangkan.

Bungkus Lucky Strike yang terbaru juga bisa dibilang cerdik. Bagian depannya memperlihatkan wujud rokok, kita bisa melihatnya langsung, tanpa perlu membuka bungkus. Inilah desain bungkus rokok yang pintar membaca celah peraturan dan regulasi. Maklum, iklan dan promosi rokok tidak boleh memperlihatkan wujud batang rokok, baik itu di media luar ruang seperti baliho, media cetak, maupun televisi. Tidak hanya itu saja, ruang lingkup promosi produk rokok juga ketat dibatasi. Contohnya, iklan rokok di televisi yang hanya boleh diputar di atas jam 21.30, hingga jam 05.00. Bahkan ada usulan untuk melarang sama sekali iklan rokok di semua media massa.

Setahu saya, di Indonesia belum ada peraturan yang menyebutkan bahwa bungkus rokok musti menyembunyikan wujud rokok. Maka desain bungkus Lucky Strike ini bisa dianggap sah-sah saja. Bukankah selalu ada celah yang bisa kita cari dan gali? Padahal bungkus rokok itu sendiri sebenarnya juga bisa menjadi media promosi, mungkin saja ada orang yang membeli sebuah produk rokok hanya karena tertarik dengan bungkusnya, bukan rasanya. Salah satunya adalah saya.

PS: Semoga setelah membaca posting ini, tidak ada komentar masuk yang bernada mengingatkan: “Don, rokok itu haram lho!”

© Foto oleh Dony Alfan S

Categories: Cigaret

Saat Rokok Amerika Menyaru Sebagai Rokok Lokal

10 Juli 2007 3 komentar

Exprience the richness of Marlboro’s world class tobaccos, blended with Indonesia’s finest cloves. The best mix of flavor: round & smooth, sweet & spicy.”

Kalimat itulah yang tertera di kemasan belakang rokok Marlboro Mix 9, rokok kretek filter di bawah merek Marlboro. Saat kali pertama melihat iklannya, saya langsung cari di warung dan toko, dan baru kemarin bisa saya dapatkan. Kenapa saya tertarik untuk merasakan rokok ini? Tak lain adalah karena brand Marlboro yang selama ini kental dan identik dengan cita rasa Amrik, lha ini kok malah bikin rokok kretek, lebih tepatnya filter kretek.

Begitu saya buka bungkusnya, aroma wangi khas rokok kretek langsung tercium, aromanya cukup nyegrak (menusuk hidung). Fisik batang rokoknya sendiri sama persis dengan Marlboro biasa, namun teksturnya terasa lebih padat, seperti halnya rokok kretek pada umumnya. Satu pack-nya berisi 12 batang, lain dengan Marlboro versi rokok putih yang berisi 20 batang.

Batang rokok sudah mengambil posisi di bibir, korek sudah dinyalakan, langsung kebal-kebul…Hisapan pertama, saya langsung teringat cita rasa rokok Gudang Garam, khususnya Gudang Garam Nusantara, rasanya mirip benar. Dihisap terasa enteng, gurihnya juga cukup, sayang saya kurang suka aroma wanginya yang berlebihan, bikin eneg. Jadi, saya tidak berminat untuk kembali membelinya. Saya masih tetap memilih Djarum Super sebagai juaranya filter kretek.

Satu hal yang saya sukai dari filter kretek Marlboro ini adalah kemasannya, klasik sekaligus modern. Warna kemasan yang agak kecoklatan dipadu bronze terkesan klasik, sedangkan finishing glossy-nya yang bisa memantulkan cahaya menjadikannya terkesan sangat modern.

Ini adalah salah satu keuntungan yang bisa dimanfaatkan oleh Philip Morris setelah membeli saham HM Sampoerna. Dia bisa tahu lebih tentang resep-resep kretek khas Indonesia, sekaligus melakukan eksperimen untuk mencipta cita rasa baru. Dibungkusnya tertulis “Made by PT Hm Sampoerna Tbk Surabaya, under the authority of Philip Morris…”, jadi rokok ini adalah bikinan Sampoerna dengan meminta restu dari Philip Morris agar diijinkan untuk mengusung merek Marlboro. Ahhh, rokok ini dibikin oleh siapa, sama saja, nggak ada bedanya, sekali lagi toh HM Sampoerna sudah dibeli Philip Morris. Atau mungkin ini adalah strategi HM Sampoerna untuk memasarkan kreteknya secara internasional? Bisa jadi iya, karena Djarum dan Gudang Garam sudah terlebih dahulu memasarkan rokok kreteknya di Amerika.

Yang menarik adalah digunakannya angka “9” di belakang kata “Mix”, apakah terdiri dari 9 campuran/racikan rahasia? Saya tak tahu. Dari dulu HM Sampoerna sepertinya sangat terobsesi dengan angka 9, Dji Sam Soe (234) kalau dijumlahkan menghasilkan angka 9. Huruf yang membentuk “sampoerna” berjumlah 9 huruf. Lalu lihatlah deretan angka di bawah barcode pada semua rokok produksinya, anda akan menemukan banyak angka 9 (999909). Bahkan, ruang direktur utama-nya konon berukuran 9×9. Wah, lalu apa hubungannya? Yo mbuh, namanya juga othak-athik gathuk.

Gambar Marlboro Mix 9 saya usung dari blog-nya Mas Djoko Santoso, dia sendiri ambil dari Bloomberg.

Categories: Cigaret, Umum

Ngudud Rokok Gratisan

30 April 2007 2 komentar

Apa enaknya punya teman yang kerja di perusahaan rokok? Ya, salah satunya anda bisa dapat rokok gratisan. Karyawan HM SAMPOERNA ini, berbaik hati memberi saya beberapa pack rokok A Mild. Lumayan, karena untuk seminggu ini saya tidak perlu beli rokok.

Kemasan rokok ini berbeda dengan yang dijual resmi, bungkusnya benar-benar polos tanpa merk, dan hanya ada tulisan besar “KHUSUS KARYAWAN, TIDAK UNTUK DIJUAL”. Batang rokoknya pun juga putih polos, tidak ada logo kecil “A” dan tanpa ada tanda pembatas antara filter dengan tembakau. Meski begitu, rokok ini tetap tak bisa disebut rokok polos.

Soal rasa dan aromanya menurut saya agak sedikit berbeda dari versi yang dijual, atau mungkin itu hanya sugesti saya saja yang kadung mencapnya sebagai rokok gratis. Bagaimanapun juga, rokok mild termahal versi gratisan ini tetap bisa saya nikmati dan bisa menghemat isi dompet untuk beberapa waktu.

Bicara tentang rokok, blognya mas Djoko Santoso lebih komplit membahas tentang rokok.

Categories: Cigaret