Sang Putra Daerah

Meskipun sama-sama menggunakan tagline ‘putra daerah’, pemilik blog ini dan calon legislator (caleg) itu jelas memiliki kecakapan yang berbeda. Dan sejujurnya, keduanya tak bisa dibandingkan. Si caleg itu jelas sangat peduli dan aktif berkarya, kalau tak peduli dan ogah berkarya ngapain jadi caleg? Sama juga bohong lah yaw. Peduli dan mau berkarya itu bisa digambarkan dengan memboncengkan seorang abdi dalem Keraton yang sudah renta. Bukankah ‘diboncengi’ dan ‘memboncengi’ itu sangat dekat dengan dunia politik?
Istilah putra daerah, saat ini semakin beraroma politik, bisa dipakai sebagai upaya pencitraan diri seorang caleg atau calon kepala daerah. Mengaku putra daerah itu lebih bisa menjual. Padahal pemilih yang rasional tak terlalu mempermasalahkan antara putra daerah atau non putra daerah, karena yang terpenting bagi mereka adalah program dan kebijakan yang ditawarkan. Soal putra daerah atau bukan, itu bisa jadi urusan kemudian. Tapi bagi pemilih primordial yang masih menyoal identitas kedaerahan, alasan itu memang nomor satu.
Lalu, apakah bisa dipastikan bahwa seorang putra daerah bakal mengabdi sepenuh hati kepada masyarakat di daerahnya? Bisa iya, bisa tidak. ‘Iya’, karena dia memang tulus ingin berkarya untuk kemajuan dan kemakmuran daerahnya. ‘Tidak’, karena bisa jadi dia cuma memanfaatkan keluguan masyarakat untuk kepentingan sepihak. Orang pintar bilang, itu soal pragmatis!
Menurut Eep Saefullah Fatah dalam salah satu kolom politiknya, putra daerah bisa dibagi menjadi empat kelompok: putra daerah genealogis, yakni mereka yang sekadar memiliki kaitan darah dengan daerah itu tetapi tidak menetap dan berkarya di situ. Putra daerah politik, yakni putra daerah genealogis yang memiliki kaitan politik dengan daerah itu. Putra daerah ekonomi, yakni putra daerah genealogis yang karena kapasitas ekonominya kemudian memiliki kaitan dengan daerah asalnya melalui kegiatan investasi atau jaringan bisnis di daerah asalnya. Putra daerah sosiologis, yakni mereka yang bukan saja memiliki keterkaitan genealogis dengan daerah asalnya tetapi juga hidup, tumbuh dan besar, serta berinteraksi dengan masyarakat di daerah itu. Putra daerah sosiologis inilah yang bisa disebut sebagai putra daerah sejati.
Seseorang di sebelah bertanya-tanya, “Lha, pemilik blog yang ndlongop itu termasuk putra daerah yang mana?” Semoga Anda tidak benar-benar menganggap pemilik blog ini sebagai seorang putra daerah. Karena dia hanya ngaku-ngaku saja sebagai putra daerah, atau sebut saja sebagai putra daerah cap ndolo. Yang bisa dia lakukan cuma kukur-kukur dengkul, meskipun sebenarnya dengkulnya tidak gatal.
© Foto oleh Dony Alfan S












putra daerah menjadi tren saat ini. tapi paling penak nyoblos putri daerah
*****
~Dony
Sudah maen ke blognya Putri daerah?
woogh sampeyan nyaleg to dadine?
*pembaca yang buruk*
*****
~Dony
Yo mbuh yo
wah, dony mau baca demi nge-blog. sampai tahu eep segala :p
dumeh cah sospol, ya?
*****
~Dony
Eh ada Pak Bhe, sehat tho? Kulo moco niku amargi khilaf
sampean termasuk putradaerah jenis apa???
*****
~Dony
Jenis melata
padahal kita butuhnya yang pinter dan mampu menjadi jembatan untuk mewakili aspirasi dan amanat daerah, bukan melulu harus putra daerah sebagai jargon utama kan…
*****
Setujuh. Soal beginian, sampeyan pasti lebih paham ~Dony
ooh saiki nyalon caleg to *manggut2* :p
*****
~Dony
Yoi, ojo lali contreng bathukku
We e e e e..top…jarang2 kowe posting merambah dunia politik koyo ngene…
Untung sing diboncengke mas Bimo kuwi dudu kowe, coba nek sing diboncengke kowe, mesti ra kober dada-dada barang amargo wes ngos2an kabotan…hahahaha
*****
~Dony
Pilih mbonceng neng ngarep, alias numpak becak
waktu aku hunting untuk blog iklan politik-ku, aku juga nemukan foto caleg lain yang juga pakai jargon “putra daerah” loh. waktu itu, aku langsung teringat kamu. ha3. api aku lebih tertarik dengan foto si bapak yang mboncengin pak tua ini. ini bs disebut eksploitasi tidak?
*****
Weh, ada juga tho caleg putra daerah yang lain? Aku durung weruh. Eksploitasi terhadap rakyat kecil maksudnya? ~Dony
Yen sing diboncengke mas Dony yo jelas bane kempes.
Kapan sampeyan nyaleg?Jelas tak pilih,soale wis pernah ketemu. :p
*****
~Dony
Suk mben, tahun dua ribu sekian
ikut dapil mana, mas?
*****
~Dony
Dapil dut, mas
Kapan budhal kampanye kang?
*****
~Dony
Sabar, ini baru nyablon kaos
ra penting kedawan tulisan.. intine Vote Dony for 2009, ngono to ? kebiasaannn…
*****
Vote for opo sik nda? Ketua RT? ~Dony
ayolah sampeyan jadi caleg, nanti aku ndak golput lagi lah
*****
~Dony
Cieh, akyu jadi tersanjung
salah satu yang bisa direview adalah perwujudan visi misi berbasis kedaerahan..
*****
~Dony
Sampeyan pasti lebih paham
bang dony! sudahlah, tak usah lah kau tambah runyam Indonesia dengan kau ikut sertakan namamu di dunia politik.. wakakakakakakak XD
*****
~Dony
Karepku tho
jadi, tak semua orang boleh mengaku jadi putra daerah tho???
*****
~Dony
Ya gak juga
Ga tau ya. bagi saya siapapun yang menjadi petinggi, dengan jalan mencalonkan diri, dan berkampanye mengelu-elukan diri sendiri, pasti ada maksud dan ada kepentingan yang mengikuti, jadi ko bikin saya ga percaya ya… apapun partainya dan siapapun calonnya…
*****
Wah, sudah se-apatis itu ya? ~Dony
ki koyone baliho pinggir rel sepur manahan….
*****
Sing iki rel sepur Pasar Nongko
Darimanapun asalnya, yang penting kualitasnya
*****
~Dony
Betul
Paragraf keduanya analisa yang bagus
.
Primordialisme memang masih kuat, tapi masyarakat juga sudah semakin pintar menentukan pilihan bukan ?
*****
Makanya, pendidikan politik untuk masyarakat itu juga penting. ~Dony
halah ini ternyata yg dibilang kemaren ttg jam 23:30.
coba kamu dr awal sudah mempatenkan kata putra daerah.. lumayan kan dapet uang royalti dr para caleg yg pgn pake nama itu…hehhee…
gila yah..ternyata jaman skrg kampanye seru2 gitu yah..tempel sana tempel sini, acara sana acara sini.
*****
~Dony
Lha itu udah ada tanda trademark (TM), tapi plasu
Ya sudah jadi putra pusat saja, Don… Kekekeee…
*****
~Dony
Eh, ada si Goen. Salaman sik
seng jelas kowe bukan putra dearah sosiaologis. wong cah sragen kok ngaku solo … kekekeke
Tulisan ini bagus, seger gitu mbacanya
Saya putra daerah (ngakunya) Jogja, padahal (aslinya) Klaten
kaosnya uda jadi belom
kapan bagiinya hehehe
salam kenal
wah…. sekarang jadi musim nyaleg, pasti semua ngaku putra daerah, konco dhewe, bolo dhewe, tonggo dhewe….. akhirnya sukses dhewe…. hehehe….. dadi bingung arep milih sopo….
Caleg neng foto kuwi pinter ya Don, mboncengin Abdhi Ndhalem untuk tujuan politik
Don don lha foto simbah karo becak kae endhi? neng blogmu sijine yo? …*kangen becak*
Ya sama2 putra daerah cuma beda visi dan tujuan
Uaapik ternyata postere sampean mas…
Tapi awas, kalo Mega tahu bisa marah. La wong cuma digambar cilik…:D
tulisan semakin berbobot…. ringan menggelikan… “putra daerah” sebuah arti untuk penduduk asli (bener ga don?)… ==>>> opo sik dikomentari sih?? hahahaha… foto sik mbonceng iku rupo tuwomu yo?
putra daerah yangs elalu kebanjiran order kali pak.. hehe
Wah apik men iklannya…
Nggak monoton kayak iklan yang pating tlecek di tepi jalan.
Lah putra dearah sing punya blog malah mbonceng noh…
*lemes aku mbayangke Mas Dony mbonceng onthel*
wis bayaran iklane durung???
nek uwis ngajak mangan2…
toss karo ciwir (lmao)
tenang mas donny.. biasanya orang ada sebutan purtra daerah kalau sudah berkarya dan berprestasi. mas donny jelas punya karya blog yg sangat fonumental ini. sedang caleg tadi untuk menulis “putra daerah” saja harus pake jasa tukang sablon (atau baliho)
heloh..nrimo iklan kampanye juga tohh…kok nyang blogge inyong hurung ono sing kampanye to yoo…
Putra daerah ?
Ah, ketho’e ra penting yo.
Konsep gak peduli hitam atau putih, yang penting kucingnya bisa nangkap tikus, mungkin lebih “ndayani”.
Azas manfaat mestinya harus didahulukan dari romantika politis macam diatas.
Lha, kalau ada caleg yang bisanya cuma jualan partisi sosiologis, partisi geografis atau mungkin cuma bisa jual “poster” dengan mejeng dijalan jalan, ya patut diwasdai………..jangan jangan dia ndak punya kemampuan lain yang bisa dijual.
klo dalam konteks pemilu, kata putra daerah itu merupakan daya tawar yang cukup kuat utk di tampilkan..
nah kalo dalam konteks per-blog-an..
daya tawar apakah??
*langsung menuju page about*
aku pernah lihat foto caleg itu lagi gendong nenek2.
kalo gak gatal, kenapa dikukur yo? heran!
ngemeng-ngemeng… aku benci sama caleg-caleg…
semua caleg kayaknya…
Saya lagi malas mengikuti dunia politik, tidak bisa membuat hidup saya menjadi lebih baik.
yang punya blog putra daerah ini jelas punya kecakapan yang jelas! sementara putra daerah yang di baliho itu jelas punya kecakapan yang BELUM jelas! he he he … Salam!
yup sip, mungkin dengan kata-kata daerah bisa lebih enak didengarkan masyarakat, selain didengar enak, juga terdengar seperti saudara sendiri
Tak kira sampeyan nyaleg beneran mas…
kayaknya lumayan kalo blognya bisa buat iklan kampanye….he…he…
Putra daerah?
Apaan tuch..??
Yg lair, besar, kawin, pipis, beol dan mau mati trus mau dikubur di daerah tsb, itulah putra daerah
dolan ke rumahnya putri daerah ah
lah kalau aku mah putrane ibu ku wae lah..kang, gimana solo menjelang pemilu???
weh… balihone Mas Bimo to…
teman masa lalu…
wadooh ujung ujung e kok ngelek ngelek i awak dewe…wes tho mas ndak usah ditegesno ngono ekekeke…
jadi caleg berkarya? jadi inget caleg yg nanti karyanya bikin peta di kursi DPR/MPR *iler*
moga2 nantinya
gak berdusta buat rakyat
Kreatif nug… wah apik ki… coba si Dony dadi caleg, mesti aku kecipratan sithik iku ne..
*es teh kampul maksudnyaaaa.*
saya bukan putra daerah
tapi.. apa ya..
don, kapan ngisi postingan meneh ?
lha sampean Juga mau naleg enggak mas menowo sesuk ono jenenge kan tak contreng hahahah
hisup putra daerah
semoga putra daerah yg di foto itu seperti mas putra daerah yg punya blog ini, wis bagus, ganteng, gagah, muda dan berkarya…
sangat menyentuh hati mas.. jadi ingat ama tetanggaku…