14 Komentar

Pak Harto, Supersemar, dan Catatan Sejarah Bangsa

Saya adalah generasi pasca revolusi yang bingung dengan sejarah bangsa sendiri


Entah sudah berapa banyak blogger yang menuliskan tentang kondisi Pak Harto saat ini, dan mengaitkannya dengan berbagai hal. Ada yang memihak, melawan, cover both sides, dan ada yang main aman berdiri di tengah.

Saya tidak ingin membahas kondisi Pak Harto saat ini, lagipula televisi sudah menyiarkannya setiap waktu, lengkap dari berbagai sisi yang coba dikupas, dan terus di-update lebih dari laporan perkembangan pasar modal atau nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. RSPP, Cendana, Kalitan Solo, hingga Astana Giri Bangun terus dipantau oleh jurnalis, mereka tak ingin kehilangan moment, begitu juga khalayak.

Melalui posting ini saya mencoba membuka kembali memori kita tentang catatan sejarah Indonesia yang pernah kita dapatkan dari buku SD. Lebih tepatnya saya ingin menggiring anda pada satu ‘perkamen’ bernama Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Kenapa? Karena dengan adanya Supersemar, situasi politik di Indonesia mengalami perubahan, kekuasaan Bung Karno meredup, dan kekuasaan Jenderal Suharto meningkat. Supersemar dianggap sebagai penyerahan dan perpindahan kekuasaan. Supersemar adalah monumen awal duduknya Jenderal Suharto di kursi kepresidenan, lalu menjadi seorang pemimpin dan penguasa yang cenderung Machiavelli minded –mungkin Pak Harto juga sudah membaca Il Principe yang legendaris itu.

Jika Supersemar memang begitu monumental, di mana keberadaannya sekarang? Jenderal M. Jusuf mengaku memiliki salah satu salinan Supersemar, namun hingga saat meninggalnya, ia tidak mau menunjukkan salinan tersebut kepada publik.

Supersemar memang ditujukan kepada Jenderal Suharto (yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat), jadi seharusnya dia mengetahui makna dan keberadaan Supersemar. Lalu kenapa kita tidak bertanya saja kepadanya? Bukankah sungkan bertanya bisa tersesat di tikungan? Padahal ada kejutan di balik tikungan.

Saya sudah mencoba melakukan googling, beberapa artikel saya dapatkan dari berbagai sumber. Artikel-artikel tersebut banyak mengungkapkan kontroversi seputar Supersemar. Hal ini membuat saya makin bingung. Setiap ada kesaksian baru, dibantah dengan kesaksian lain. Saking misteriusnya Supersemar, sehingga membuat surat itu menjadi semacam mitos, mana yang fakta, mana yang kibul, keduanya berbaur dan sama-sama kabur.

Untuk mengetahui beberapa kontroversinya, silakan baca di wikipedia: Beberapa kontroversi tentang Supersemar

Ada sebuah clue lain tentang Supersemar ini, clue itu ada dalam rekaman Pidato Kenegaraan Bung Karno pada Peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus tahun 1966, kabarnya rekaman ini ditemukan oleh Roy Suryo, berikut ini adalah kutipan dari pidato Bung Karno tersebut:

“Surat Perintah Sebelas Maret itu mula-mula dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya SP Sebelas Maret adalah satu penyerahan pemerintahan, dikiranya SP Sebelas Maret itu satu Transfer of Authentic, of Authority, padahal TIDAK. SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengaman, perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Demikian kataku waktu melantik kabinet. Kecuali itu, juga perintah pengaman keselamatan pribadi Presiden, perintah pengaman wibawa Presiden, perintah pengamanan ajaran Presiden, perintah pengaman beberapa hal…”

Jika temuan Roy Suryo itu benar-benar otentik dan bisa dipertanggungjawabkan sebagai fakta sejarah, maka seharusnya bisa digunakan untuk sedikit membuka selubung misteri seputar Supersemar. Sekaligus, ‘sedikit’ meluruskan catatan sejarah yang melenceng.

Banyak catatan sejarah bangsa ini yang dibelokkan dan tidak lagi jujur, masyarakat sudah kadung menganggapnya sebagai suatu kebenaran, generasi pasca revolusi adalah generasi yang tumbuh tanpa landasan sejarah pasti. Generasi itu adalah generasi yang meraba-raba mencari kebenaran di tengah kegelapan dan centang-perenang sejarah bangsanya sendiri. Saat kaum nasionalis konservatif sudah mulai menghilang satu per satu, entah bangsa Indonesia akan jadi seperti apa. *sigh

PS: Orang di sebelah malah nggak mudheng apa itu Supersemar, dia taunya cuman semar mendem (semar mabuk).

Ilustrasi: Semar.be

About these ads

14 comments on “Pak Harto, Supersemar, dan Catatan Sejarah Bangsa

  1. laah, klo orang sebelah taunya semar mendhem …aku ndak mo kalah ah..super semar itu pasti semar tiwikromo…he he he…..

  2. semoga soeharto sadar…
    semoga dia tidak segera tewas sebelum bercerita sejujurnya…
    BTW
    KaMpReT ldari jogja agi nih…….
    :D

  3. Bahkan tragedi 1965 G30S/PKI pun kita tidak mengetahui secara pasti. Apakah memang demikian kejadiannya, siapa pelaku sebenarnya dan apa motif dari semua itu. Juga 6 jam di Jogja baru terungkap bahwa sutradara dibalik serangan umum 1 maret 1949 itu ternyata Sultan HB IX bukan pak Harto.

  4. faktanya adalah bahwa sejarah memang selalu berpihak pada penguasa. jadi kalau pelajaran sejarah dulu sudah disusun berdasar pesanan penguasa. mana yang bener ya mari kita cari saksi hidupnya :D

  5. lha yo ngono kuwi pokale mbah kakungmu, disuruh ngamanken negara malah rumongso dikasih warisan, makane terus menggila tuh melahapnya..

  6. secara tak sadar bangsa Indonesia ini telah tak berdaya…. semua didikte sama kekuasaan barat.. terlebih Amerika…..!!

  7. Sejarah ditulis bergantung dari siapa yang berkuasa, karena pelajaran sejarah yang tak menguntungkan stabilitas politik tak akan bakal diangkat ke permukaan. pasti tenggelam. butuh keberanian dan kerelaan hati sang penguasa..

  8. sepatutnya masyarakat sekarang jeli dan peka tentang kebenaran..

  9. Jadi inget film “National Treasure’-nya Nicholas Cage. Bisa dibuat film sejenis tu, tentang ‘pencarian supersemar’. Seru kali ya…

  10. Moga-moga perjuangan Om Roy Suryo untuk mengungkap itu bisa membuahkan hasil dan mendapat bantuan dan dukungan penuh dari segenap WNI. Saya juga masih berpraduga dan meraba-raba dengan hasil analisis saya tentang mengapa ada peristiwa G 30 S/PKI, dan latar belakang dan seluk beluknya dan juga tentang mengapa para jendral itu dibunuh. Pak harto jelas paling tahu tuh.. Klo Pak Ahmad Yani ga meninggal saat itu, mungkin Pak Harto gak jadi presiden lho.. Pak Harto, jujurlah..agar semua WNI bisa ikhlas memaafkanmu dan memperingan penderitaanmu saat ini…

    Oalah mumet.. Wis ahh..

  11. wah…aku mah bener2 buta sama sejarah negeri sendiri…secara sejarah di ebta ku dapet 5…. hehehhe

  12. sejarah adalah ia yang dituliskan oleh mereka yang lebih kuat setelah mengalahkan mereka yang lebih lemah di dalam ranah kebudayaan.
    btw, gue sebenernya mengharapkan Eyang Harto segera sembuh dan kembali ke tampuk pimpinan tertinggi republik ini dan kembalikan kondisi seperti masa lalu. kalo 1 US dollar=2000 perak lagi kan berarti kaos band impor gak sampe gocap tu cuy! dvd2 impor asli juga bakal jauh lebih murah dan mampuslah para juragan lapak bajakan itu..

    ps: sepatu lo minggu depan yak, sibuk gue minggu ini

  13. Aku maunya dikasi Super Petruk aj…Sapa tau ntar jd Ratu…Hakhakhak… ;P

  14. NASKAH ASLI SUPERSEMAR DITEMUKAN ?

    Oleh Dasman Djamaluddin

    “Presiden Punya Informasi tentang Naskah Asli Supersemar,’ itulah salah satu lead berita yang saya baca.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono katanya memiliki informasi tentang keberadaan naskah asli Surat perintah 11 Maret yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966. Bahkan Presiden sudah meminta Arsip Nasional menindaklanjuti benar atau tidaknya informasi tersebut.

    Sejauh ini generasi muda bangsa masih mendambakan ditemukannya surat asli tersebut.Sejak 11 Maret 1966, naskah asli Supersemar hilang. Di tengah-tengah masyarakat sudah beredar berbagai versi Supersemar. Sudah tentu yang beredar itu naskah palsu, karena yang asli belum ditemukan. Membingungkan, karena naskah aslinya tidak juga ditemukan. Untunglah pencarian naskah asli Supersemar tetap dilaksanakan. Buktinya Presiden RI sekarang punya informasi tentang itu.

    Diakui bahwa sudah muncul rasa “bosan”, jika seseorang mendengar naskah asli Supersemar. Apa betul naskahnya bisa diperoleh ? Sebagai contoh, kebosanan itu telah merasuki pola berpikir para intelektual kita dalam Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif “Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar,” pada Selasa, 25 Maret 2008 di Fakultas Hukum Universitas YARSI, Jakarta.

    Selain saya sebagai pembicara (Penulis Buku:”Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar”/Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar/LPSS), hadir pula Dr.Anhar Gonggong (Sejarawan), Atmadji Sumarkidjo (Penulis buku:”Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit”) dan Abdul Kadir Besar (Sekretaris Umum MPRS 1966). Terlihat sangat jelas ada ‘kebosanan’ berbicara tentang naskah asli Supersemar. Bahkan Anhar Gonggong dan Atmadji Sumarkidjo mengatakan, naskah asli adalah bagian masa lalu, oleh karena itu naskah asli Supersemar tidak perlu dicari). Tetapi saya di dalam makalah :”Supersemar, Sumber Sejarah yang Hilang,” tetap bertahan bahwa naskah asli Supersemar harus ditemukan, demi generasi pewaris bangsa ini ( makalah lengkap ada di http://dasmandj.blogspot.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: