Kartu Nama Blogger

Salah satu kelemahan yang saya miliki adalah susah mengingat nama orang yang baru saja berkenalan. Begitu salaman, saling menyebut nama, lalu beberapa saat kemudian kadang saya sudah lupa namanya. Entah kenapa, tapi bukan berarti saya pikun. Maka dari itu, saya senang kalau mendapat kartu nama dari orang yang baru saya kenal. Kalau lupa, tinggal cari kartu namanya. Tapi, tentu tak semua orang sedia kartu nama. Kabarnya, di Jepang, setelah membungkuk-bungkuk, dua orang yang berkenalan biasa saling menyodorkan kartu nama.
Saya dan Sigit pernah mencetak kartu nama, untuk ‘jualan’ jasa foto. Sebar sana-sini, tetap saja order sepi, hehe. Lalu sewaktu kerja di sebuah pabrik, saya juga dapat jatah kartu nama. Mau kasih kartu nama itu ke kenalan, saya pekewuh, karena tak lagi kerja di situ. Walhasil, sampai sekarang masih tersisa banyak.
Tawaran menarik datang dari kartunama.net yang memberikan jasa cetak kartunama gratis untuk para blogger. Saya menjadi salah satu yang beruntung, mendapatkan jatah dibuatkan kartu nama.
Desain bisa ditentukan sendiri. Saya mendapatkan desain kartu nama ini dari internet, menurut saya idenya menarik. Kalimat “Hello my name is,” seolah-olah bisa dengan sendirinya memperkenalkan diri mewakili saya. Font yang saya pilih untuk nama dan informasi lainnya berjenis handwriting, supaya terkesan personal. Padahal sebenarnya tulisan tangan saya tak secantik itu, percayalah.
Tak ada alamat rumah, karena sudah digantikan oleh alamat URL blog dan alamat email yang merangkap Y!M, lalu hanya ada tambahan nomor handphone. Syukur apabila si penerima kartu nama mau membuka blog saya.
Kartu nama ini sebenarnya memang hanya untuk memperkenalkan diri sebagai blogger. Yah, anggap saja sebagai kartu nama pembuka peluang pertemanan, penyambung silaturahmi, kartu nama sekadar gaya-gayaan atau apalah. Dan bukan untuk membuka peluang bisnis seperti halnya kartu nama dari kumpeni, atau kartu nama yang berisi informasi profesi – bahkan sebenarnya tukang sedot wc pun perlu bikin kartu nama.
Kualitas cetak kartu nama bikinan kartunama.net ini menurut saya sudah lumayan oke, kertasnya tebal, dan di kedua sisinya sudah dilaminasi doff. Yang menarik dari jasa kartunama.net ini adalah Anda bisa memesan kartu nama secara online! Cukup tentukan desain dan jenis kertas yang diminta, bayar, dan kartu nama itu akan dikirm ke tempat Anda.
Filed under: Bloglife, Personal | 65 Comments
Tags: blogger, card, kartu nama
Sang Putra Daerah

Meskipun sama-sama menggunakan tagline ‘putra daerah’, pemilik blog ini dan calon legislator (caleg) itu jelas memiliki kecakapan yang berbeda. Dan sejujurnya, keduanya tak bisa dibandingkan. Si caleg itu jelas sangat peduli dan aktif berkarya, kalau tak peduli dan ogah berkarya ngapain jadi caleg? Sama juga bohong lah yaw. Peduli dan mau berkarya itu bisa digambarkan dengan memboncengkan seorang abdi dalem Keraton yang sudah renta. Bukankah ‘diboncengi’ dan ‘memboncengi’ itu sangat dekat dengan dunia politik?
Istilah putra daerah, saat ini semakin beraroma politik, bisa dipakai sebagai upaya pencitraan diri seorang caleg atau calon kepala daerah. Mengaku putra daerah itu lebih bisa menjual. Padahal pemilih yang rasional tak terlalu mempermasalahkan antara putra daerah atau non putra daerah, karena yang terpenting bagi mereka adalah program dan kebijakan yang ditawarkan. Soal putra daerah atau bukan, itu bisa jadi urusan kemudian. Tapi bagi pemilih primordial yang masih menyoal identitas kedaerahan, alasan itu memang nomor satu.
Lalu, apakah bisa dipastikan bahwa seorang putra daerah bakal mengabdi sepenuh hati kepada masyarakat di daerahnya? Bisa iya, bisa tidak. ‘Iya’, karena dia memang tulus ingin berkarya untuk kemajuan dan kemakmuran daerahnya. ‘Tidak’, karena bisa jadi dia cuma memanfaatkan keluguan masyarakat untuk kepentingan sepihak. Orang pintar bilang, itu soal pragmatis!
Menurut Eep Saefullah Fatah dalam salah satu kolom politiknya, putra daerah bisa dibagi menjadi empat kelompok: putra daerah genealogis, yakni mereka yang sekadar memiliki kaitan darah dengan daerah itu tetapi tidak menetap dan berkarya di situ. Putra daerah politik, yakni putra daerah genealogis yang memiliki kaitan politik dengan daerah itu. Putra daerah ekonomi, yakni putra daerah genealogis yang karena kapasitas ekonominya kemudian memiliki kaitan dengan daerah asalnya melalui kegiatan investasi atau jaringan bisnis di daerah asalnya. Putra daerah sosiologis, yakni mereka yang bukan saja memiliki keterkaitan genealogis dengan daerah asalnya tetapi juga hidup, tumbuh dan besar, serta berinteraksi dengan masyarakat di daerah itu. Putra daerah sosiologis inilah yang bisa disebut sebagai putra daerah sejati.
Seseorang di sebelah bertanya-tanya, “Lha, pemilik blog yang ndlongop itu termasuk putra daerah yang mana?” Semoga Anda tidak benar-benar menganggap pemilik blog ini sebagai seorang putra daerah. Karena dia hanya ngaku-ngaku saja sebagai putra daerah, atau sebut saja sebagai putra daerah cap ndolo. Yang bisa dia lakukan cuma kukur-kukur dengkul, meskipun sebenarnya dengkulnya tidak gatal.
© Foto oleh Dony Alfan S
Filed under: Umum | 58 Comments
Tags: caleg, Indonesia, pemilu 2009, politic, politik, putra daerah











